Perang AS-Iran 'Makan Korban' Baru, Ekspor Teh Anjlok-Petani Tertekan

2 days ago 4
Seorang pekerja menurunkan karung berisi daun teh yang baru dipetik dari sebuah kendaraan di Perkebunan Teh Dunkeld di Hatton, Sri Lanka, 29 April 2026. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Seorang pekerja menurunkan karung berisi daun teh yang baru dipetik dari sebuah kendaraan di Perkebunan Teh Dunkeld di Hatton, Sri Lanka. Perang AS-Iran mulai menekan industri teh Sri Lanka senilai US$ 1,5 miliar (Rp26,39 triliun, dengan kurs Rp17.596 per 1 dolar AS). Industri ini menjadi tumpuan hidup lebih dari 2 juta pekerja, mulai dari petani, pengolah hingga eksportir teh di negara tersebut. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Para pekerja di Perkebunan Teh Dunkeld memanen daun teh di sebuah ladang di Hatton, Sri Lanka, 30 April 2026.

Dilansir Reuters Jumat (22/5/2026), ekspor teh Sri Lanka pada Maret tercatat turun 17,3%  secara tahunan menjadi 114,75 juta dolar AS atau sekitar Rp2,01 triliun. Padahal pasar Timur Tengah selama ini menyerap hampir separuh ekspor Teh Ceylon dengan nilai mencapai 680 juta dolar AS per tahun atau setara Rp11,96 triliun. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Rengasami Sathiyaseelan, 45 tahun, seorang pekerja di Perkebunan Teh Dunkeld yang berjuang di tengah inflasi yang terus berlanjut akibat krisis Timur Tengah, memetik daun teh di Hatton, Sri Lanka, 30 April 2026.

Iran yang menjadi salah satu pembeli terbesar teh Sri Lanka menghentikan permintaan sejak perang pecah pada 28 Februari. Ketua Asosiasi Pedagang Teh Ceylon, Lushantha De Silva, mengatakan kondisi itu langsung memicu penurunan harga teh, meski beberapa pasar lain mulai meningkatkan pembelian melalui lelang. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Para pekerja menimbang karung berisi daun teh yang baru dipetik di pusat pengumpulan di Perkebunan Teh Dunkeld di Hatton, Sri Lanka, 29 April 2026.

Namun kenaikan permintaan dari pasar alternatif belum mampu menutup anjloknya ekspor ke negara-negara Timur Tengah lainnya. Data Badan Pengembangan Ekspor Sri Lanka menunjukkan ekspor ke Irak turun 38 persen, sementara pengiriman ke Uni Emirat Arab (UEA) merosot hingga 93%. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Seorang pekerja mengoperasikan Fibromat, sebuah mesin khusus yang digunakan untuk memisahkan serat ringan, partikel tangkai, dan kotoran dari bubuk teh olahan dengan menciptakan medan elektromagnetik, di Perkebunan Teh Dunkeld di Hatton, Sri Lanka, 29 April 2026.

Dampak krisis juga dirasakan Dilmah, merek teh global asal Sri Lanka yang sekitar 30% bisnisnya bergantung pada pasar Timur Tengah. Ketua dan CEO perusahaan, Dilhan Fernando, mengatakan gangguan logistik dan rantai pasokan kini menjadi tantangan utama, termasuk lonjakan biaya pengiriman dan terbatasnya kapasitas kapal angkut ekspor. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Para pekerja menyortir, menimbang, dan mengemas kantong teh di jalur produksi di dalam pabrik Teh Dilmah di Kolombo, Sri Lanka, 23 April 2026.

Menurut Fernando, sektor perhotelan premium di kawasan Teluk seperti Dubai dan Arab Saudi ikut terdampak oleh ketidakpastian geopolitik. Kondisi itu membuat Dilmah mulai mencari pasar baru di Amerika Serikat, Kanada, dan Amerika Selatan guna mengurangi ketergantungan terhadap Timur Tengah. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Seorang karyawan memeriksa daun teh kering di pabrik teh Dilmah di Kolombo, Sri Lanka, 23 April 2026.

Analis industri menilai krisis Iran menjadi peringatan keras bagi industri teh Sri Lanka yang selama dua abad masih bergantung pada ekspor teh curah dengan margin keuntungan rendah. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Jacintha Malar, 38, dan suaminya, Rengasami Sathiyaseelan, 45, pekerja di Perkebunan Teh Dunkeld yang berjuang di tengah inflasi yang terus berlanjut akibat krisis Timur Tengah, membuat teh di dapur rumah mereka di Hatton, Sri Lanka, 30 April 2026.

Mereka mendorong produsen beralih ke teh premium, teh kemasan, dan membangun lebih banyak merek internasional agar lebih tahan menghadapi gejolak geopolitik global. (REUTERS/Akila Jayawardena)

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|