Perang Dagang Trump Makan Korban Baru: Jepang

1 day ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan perdagangan proteksionis yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menimbulkan keresahan baru bagi para pebisnis Jepang. Terbaru, survei Reuters yang dirilis Kamis (20/2/2025) menunjukkan bahwa sembilan dari 10 pengusaha Negeri Sakura memperkirakan kebijakan Trump akan berdampak negatif.

Hasil survei menunjukkan bagaimana prospek tarif yang lebih tinggi dan meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China telah mengaburkan prospek perusahaan-perusahaan di ekonomi Jepang. Tokyo, sekutu dekat AS, juga sangat bergantung pada China sebagai basis manufaktur dan pasar utama untuk mesin dan ekspor lainnya.

Dengan situasi ini, sekitar 86% responden mengatakan langkah-langkah kebijakan Trump akan berdampak buruk atau agak buruk pada lingkungan bisnis mereka. Sisanya mengharapkan dampak positif atau agak positif.

Hal ini merupakan sebuah kenaikan dari survei yang sama Desember lalu. Saat itu, 73% responden mengatakan masa jabatan kedua Trump di Gedung Putih akan merugikan lingkungan bisnis mereka. Trump diketahui resmi menjabat bulan lalu.

Secara rinci, 72% responden memilih strategi perdagangannya, termasuk mengenakan lebih banyak tarif, sebagai faktor yang paling merugikan. Sementara 26% lainnya kemudian memilih ketegangan yang semakin dalam antara AS dan China.

"Meningkatkan proteksionisme tidak lain hanyalah efek negatif pada ekonomi global," tulis seorang manajer di sebuah perusahaan jasa informasi dalam survei tersebut.

Trump telah mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, mengenakan tarif 10% untuk barang-barang dari China, dan mengancam Kanada dan Meksiko dengan tarif tinggi, yang saat ini ditangguhkan selama 30 hari. Ia juga telah mengarahkan tim ekonominya untuk menyusun rencana tarif timbal balik pada setiap negara yang mengenakan pajak atas impor AS dan untuk menangkal hambatan non-tarif.

Jepang tidak mengenakan tarif pada mobil buatan AS. Namun pemerintahan Trump mengatakan bahwa selama masa jabatan pertama, Trump menilai ada berbagai hambatan non-tarif yang menghalangi akses perusahaan AS ke pasar otomotif Jepang.

"Jika industri otomotif terpukul oleh tarif di seluruh dunia, penjualan semikonduktor mungkin juga akan terpengaruh," kata seorang pejabat di sebuah perusahaan elektronik, yang menggarisbawahi potensi efek berantai.

Meski ada catatan negatif, muncul juga catatan positif untuk Trump dari pebisnis Negeri Matahari Terbit. 37% pengusaha Jepang menyebut deregulasi dan pemotongan pajak Trump sebagai faktor yang paling menguntungkan, sementara 37% lainnya menganggap kebijakannya untuk membantu meningkatkan produksi bahan bakar fosil sebagai hal yang positif.

Ketika ditanya tentang rencana mereka untuk operasi bisnis dan investasi di AS, 16% mengatakan mereka mengambil sikap yang lebih hati-hati, sementara 80% mengatakan mereka tidak punya rencana untuk melakukan perubahan.

Kenaikan Suku Bunga Jepang

Reuters juga merilis hasil survei soal suku bunga Jepang saat ini. Survei menunjukkan bahwa 61% responden menilai kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) baru-baru ini tepat, sementara 25% meyakini langkah tersebut diambil terlalu dini dan 15% menganggapnya terlambat.

BOJ menaikkan suku bunga menjadi 0,5% dari 0,25% pada bulan Januari dengan pandangan bahwa Jepang berada di ambang pencapaian target inflasi 2% secara berkelanjutan.

"Pelemahan yen yang berlebihan menyebabkan arus keluar kekayaan nasional terus berlanjut. Untuk menghentikan tren tersebut, kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan," kata seorang manajer di sebuah grosir.

"Itu akan mendorong perusahaan-perusahaan yang tidak dapat bertahan hidup di 'dunia dengan suku bunga', yang seharusnya menjadi keadaan normal, untuk mengundurkan diri atau mengubah diri."

Ketika ditanya tentang waktu yang ideal untuk kenaikan suku bunga berikutnya, 24% memilih kuartal Juli-September tahun ini, 24% lainnya memilih "tahun depan atau nanti", sementara 24% lainnya menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tidak diinginkan dalam waktu kapan pun.

Anggota dewan bank sentral yang beraliran keras Naoki Tamura mengatakan bulan ini bahwa BOJ harus menaikkan suku bunga setidaknya menjadi 1% pada paruh kedua tahun fiskal yang dimulai April.

Sekitar 44% responden survei mengatakan kenaikan suku bunga menjadi 1% akan berdampak buruk pada belanja modal mereka. Sementara itu, 21% lainnya mengatakan kenaikan suku bunga di atas 1,5% akan berdampak buruk.

"Sejalan dengan kenaikan suku bunga, kami ingin pemerintah memperluas langkah-langkah untuk memfasilitasi belanja modal," ujar seorang pejabat di pabrik karet.


(sef/sef)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Inggris Jadi Negara Pemenang Perang Dagang II Trump

Next Article Dunia Makin Kacau, China Respons Perang Dagang Jilid II Trump

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|