Perang Iran Makin Liar Bisa Bawa Masalah Besar, Pemerintah Bisa Apa?

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mulai menyusun langkah antisipatif menghadapi potensi dampak lanjutan konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Fokus utamanya bukan hanya memantau perkembangan geopolitik, tetapi memastikan kondisi perdagangan nasional tetap kokoh jika tekanan global meningkat.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, pihaknya menempatkan penguatan pasar dalam negeri sebagai strategi utama. Langkah ini dipandang krusial untuk menahan guncangan eksternal, terutama jika harga energi melonjak akibat eskalasi konflik.

Ia mengakui risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi perhatian serius apabila ketegangan berlanjut.

"Misalnya kan bahan bakar ya, pastikan akan naik ya. Pasti kalau itu memang benar terjadi, tapi mudah-mudahan nggak ya," kata Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Budi menegaskan, dalam situasi global yang tidak menentu, konsumsi dan daya beli dalam negeri harus dijaga. Pasar domestik dinilai menjadi bantalan penting ketika pasar ekspor menghadapi tekanan.

"(Strategi) yang pertama, itu adalah pasar di dalam negeri kita harus dijaga dengan baik. Karena kalau yang pasar luar negeri pasti semua akan terdampak," ujarnya.

Artinya, ketika gejolak terjadi di pasar internasional, baik karena gangguan distribusi energi maupun lonjakan harga minyak, Indonesia masih memiliki penopang dari aktivitas ekonomi dalam negeri.

Selain memperkuat konsumsi domestik, Kemendag juga menyiapkan diversifikasi pasar ekspor. Pemerintah akan mendorong pengiriman barang ke negara-negara yang relatif tidak terdampak konflik, guna menjaga arus perdagangan tetap stabil.

Biaya Ekspor Terancam Naik

Kenaikan harga minyak jika benar-benar terjadi, katanya, tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga merambat ke biaya logistik dan produksi. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan ongkos ekspor Indonesia.

"Ekspor kita juga pasti cost-nya menjadi naik. Artinya kita dan negara lain juga semua terdampak. Negara lain yang butuh bahan baku juga terdampak, yang barang jadi juga terdampak. Jadi semua, semua akan terdampak. Tapi sekali lagi sih mudah-mudahan nggak ya," tutur dia.

Menurut Budi, dampak tersebut bersifat global. Negara pengimpor bahan baku akan menanggung kenaikan biaya, begitu pula negara yang mengekspor barang jadi. Rantai perdagangan internasional berpotensi mengalami tekanan berlapis.

Meski demikian, pemerintah berharap konflik tidak berkembang lebih jauh. Dengan memperkuat pasar domestik dan memperluas tujuan ekspor, Kemendag berupaya memastikan aktivitas perdagangan nasional tetap terjaga di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|