Pertamina Geothermal (PGEO) Mau Rambah Bisnis Data Center

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berencana melakukan penambahan kegiatan usaha di bidang data center. Kegiatan usaha tersebut mencakup aktivitas pengolahan, penyimpanan, dan pengelolaan data. Selain itu juga mencakup penyediaan infrastruktur komputasi, hosting, serta layanan pendukung data center, termasuk pengoperasian server, jaringan, dan sistem pendukung lainnya.

Manajemen menyebut, penambahan kegiatan usaha ini memiliki keterkaitan dengan kegiatan usaha utama PGEO di bidang panas bumi, dimana energi listrik yang dihasilkan dari sumber panas bumi akan dimanfaatkan untuk mendukung operasional data center, serta mendukung pengembangan ekosistem energi bersih dan infrastruktur digital secara terintegrasi.

"Rencana ini merupakan bagian dari upaya Perseroan dalam melakukan diversifikasi usaha sekaligus optimalisasi pemanfaatan energi panas bumi," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (21/4/2026).

Sehubungan dengan rencana tersebut, PGEO berencana untuk meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, 21 April 2026.

Manajemen memastikan, erkait dengan rencana penambahan kegiatan usaha ini, sampai dengan saat ini tidak terdapat keberatan dari pihak-pihak tertentu yang dapat mempengaruhi rencana penambahan kegiatan usaha.

Manajemen memandang, pasar data center Indonesia mengalami ekspansi pesat terlebih pada tahun 2025 karena adanya cloud uptake yang tinggi, pertumbuhan beban kerja Artificial Intelligence (AI), dukungan regulasi, dan peningkatan ketertarikan investor pada ekonomi digital di Asia Tenggara.

Selain itu, posisi Indonesia sebagai hub data regional semakin menguat dengan adanya pembangunan sistem kabel bawah laut yang dapat menghubungkan Indonesia dengan beberapa negara sehingga dapat meningkatkan kapasitas bandwidth internasional.

"Segmen Tier III menguasai lebih dari 61,59% pangsa pasar data center di Indonesia pada tahun 2025. Selama periode proyeksi, segmen Tier I dan Tier II semakin kehilangan relevansinya di Indonesia karena tidak lagi mampu memenuhi uptime, redundansi, dan keamanan yang dibutuhkan oleh ekonomi digital saat ini," ungkapnya manajemen.

Kemudian, ekspansi layanan digital di sektor perbankan, fintech, e-commerce, telekomunikasi, platform cloud, hingga sistem pemerintahan telah mendorong pergeseran preferensi pelanggan secara signifikan ke arah data center Tier III dan Tier IV.

Selain itu, dalam periode 2024-2031, pasar data center Indonesia, khususnya pada segmen retail dan wholesale colocation, mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2025, kapasitas retail colocation mencapai 388,11 MW.

Hingga tahun 2031, kapasitas retail colocation diproyeksikan meningkat menjadi 1.623,91 MW, sementara wholesale colocation diperkirakan mencapai 1.275,93 MW.

Pesatnya pertumbuhan retail colocation didorong oleh meningkatnya digitalisasi usaha kecil dan menengah (UKM), startup, serta cloud-native businesses. Kelompok ini
cenderung memilih solusi hosting yang fleksibel, scalable, dan efisien biaya.

Hingga tahun 2031, kapasitas retail colocation diproyeksikan meningkat menjadi 1.623,91 MW, sementara wholesale colocation diperkirakan mencapai 1.275,93 MW. Pesatnya pertumbuhan retail colocation didorong oleh meningkatnya digitalisasi usaha kecil dan menengah (UKM), startup, serta cloud-native businesses. Kelompok ini cenderung memilih solusi hosting yang fleksibel, scalable, dan efisien biaya.

Manajemen mengungkapkan lebih jauh, pada periode 2024-2031, nilai pendapatan colocation di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan. Pada tahun 2024, pendapatan colocation tercatat sebesar USD4.784,92 juta, kemudian meningkat menjadi USD5.890,44 juta pada 2025.

"Secara keseluruhan, kondisi pasar data center di Indonesia dinilai memiliki kesinambungan (sustainability) dan potensi pertumbuhan yang kuat, dengan peluang pasar yang masih terbuka luas seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital di berbagai sektor industri," ungkapnya.

PGE berencana mendirikan data center yang berlokasi di Jalan Kamojang - Samarang Garut, Kelurahan Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung dengan rencana pengembangan data center seluas 5.133 m². Pengembangan data center ini akan dibarengi dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan kapasitas 5 MW yang akan memproduksi listrik secara dedicated untuk data center.

Data center setidaknya direkomendasikan untuk secara langsung terhubung minimal kepada 2 penyedia jaringan telekomunikasi. Sejumlah data center dapat bersifat carrier specified (penyedia jaringan tertentu), tetapi secara umum carrier neutral (multiple provider) lebih diminati. Lokasi pengembangan sendiri dilalui oleh 2 jaringan telekomunikasi yaitu Telkom dan PLN Icon Plus.

Berdasarkan rencana pengembangan usaha, kebutuhan tambahan tenaga kerja diperkirakan sebanyak 38 orang yang akan difokuskan pada kegiatan operasional.

Berdasarkan laporan studi kelayakan yang disusun oleh penilai independen, rencana ini dinilai layak untuk dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek pasar, teknis, operasional, dan keuangan.

Perseroan akan memastikan pemenuhan seluruh standar yang dipersyaratkan sebelum fasilitas data center dioperasikan secara komersial.

Penambahan kegiatan usaha ini diharapkan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham melalui diversifikasi sumber pendapatan, penguatan kinerja usaha, serta peningkatan potensi pertumbuhan Perseroan secara berkelanjutan.

Adapun layanan yang akan disediakan Perseroan ditujukan kepada pelanggan korporasi, termasuk perusahaan teknologi, penyedia layanan digital, serta institusi yang membutuhkan layanan infrastruktur data center.

Sebelum pelaksanaan kegiatan usaha, PGEO memiliki total aset sekitar USD 3,03 miliar dengan dominasi pada aset tetap, namun rencana penambahan kegiatan usaha tersebut akan meningkatkan aset tetap secara signifikan akibat investasi data center dan PLTP, serta menyebabkan penurunan kas jangka pendek.

Di sisi lain, PGEO akan memperoleh tambahan pendapatan berulang (recurring income) yang berdampak pada peningkatan profitabilitas, dengan indikator kelayakan berupa NPV Rp126,37 miliar, IRR 10,51%, dan BCR 1,87x .

"Secara keseluruhan, transaksi ini diproyeksikan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan aset, pendapatan, dan nilai Perseroan, dengan potensi peningkatan liabilitas yang masih terkendali," sebutnya.

Selain itu, Perseroan didukung oleh aset dan infrastruktur panas bumi, kapasitas investasi yang kuat, serta rencana pengembangan data center ±4,17 MW dan tambahan SDM sekitar 38 orang . Investasi awal akan meningkatkan aset tetap dan menekan kas, namun diimbangi dengan pendapatan berulang, efisiensi biaya energi, dan peningkatan margin usaha.

Namun demikian, mengingat PGEO merupakan bagian dari Grup Pertamina, dalam pelaksanaan rencana kegiatan usaha ini terdapat kemungkinan keterlibatan entitas afiliasi dalam grup, antara lain dalam bentuk penyediaan energi, pengembangan infrastruktur, jasa rekayasa, pengadaan dan konstruksi (EPC), maupun layanan teknologi informasi dan pendukung lainnya.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|