Jakarta, CNBC Indonesia - Iran melancarkan serangan rudal ke sejumlah negara Arab di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Aksi ini disebut sebagai balasan langsung atas operasi militer gabungan AS dan Israel yang menargetkan fasilitas strategis Iran pada hari yang sama, memicu eskalasi cepat dan penutupan wilayah udara di sejumlah negara.
Kantor berita Fars melaporkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membidik titik-titik strategis yang menjadi markas pasukan AS, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), serta markas Armada Kelima AS di Bahrain. Ledakan dilaporkan terdengar di Doha, Dubai, Abu Dhabi, Manama, hingga Riyadh, Arab Saudi.
Otoritas UEA mengkonfirmasi sedikitnya satu orang tewas di Abu Dhabi setelah sistem pertahanan udara mencegat sejumlah rudal. Pemerintah UEA mengecam keras serangan tersebut.
"Pemerintah UEA mengutuk keras serangan ini sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional, serta menegaskan hak penuh untuk menanggapi eskalasi yang membahayakan warga sipil," ujar pernyataan resmi pemerintah UEA yang dikutip Al Jazeera.
Di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri mengirim peringatan darurat melalui pesan singkat kepada warga.
"Sirene dibunyikan karena adanya bahaya. Warga diminta segera menuju tempat aman dan mengikuti instruksi keselamatan resmi," tulis kementerian tersebut sebagaimana dilaporkan AFP.
Qatar, Kuwait, dan UEA juga menutup sementara wilayah udara mereka untuk penerbangan sipil sebagai langkah pencegahan.
Dalam perang brutal antara AS dan Israel melawan Iran, beberapa panglima tertinggi Iran dilaporkan tewas. Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khemenei juga telah dikonfirmasi meninggal.
Kematian Khamenei menjadi pukulan besar bagi Republik Islam yang telah dipimpinnya sejak 1989, satu dekade setelah naik ke tampuk kekuasaan dalam revolusi teokratis yang menggulingkan monarki Iran dan mengguncang Timur Tengah.
Media pemerintah Iran sebelumnya sudah mengonfirmasi bahwa banyak keluarga Khamenei yang sudah meninggal. Di antaranya termasuk anak perempuan, cucu perempuan, menantu perempuan, serta menantu laki-laki.
Korps Garda Revolusi Iran menanggapi kematian Khamenei, dengan mengatakan "kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya", menurut pernyataan yang dimuat oleh kantor berita Fars, dikutip dari Aljazeera, Minggu (1/3/2026).
Pernyataan itu menambahkan bahwa "kemartiran Khamenei di tangan teroris paling kejam dan algojo kemanusiaan adalah tanda legitimasi pemimpin besar ini dan penerimaan atas pengabdiannya yang tulus".
Pernyataan itu menambahkan bahwa "tangan pembalasan bangsa Iran...tidak akan membiarkan mereka lolos".
IRGC akan berdiri "tegas dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing," kata pernyataan itu.
Lantas, di mana saja titik pangkalan militer AS di Timteng yang berpotensi menjadi sasaran balas dendam Iran? Berikut rangkumannya:
Peta Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Serangan Iran terjadi di tengah keberadaan militer AS yang luas di Timur Tengah. Washington mengoperasikan sedikitnya 19 lokasi militer, baik yang permanen dan sementara, dengan total sekitar 40.000 hingga 50.000 personel.
Melansir Al Jazeera, diketahui sebanyak delapan pangkalan permanen berada di Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Konsentrasi pasukan terbesar terdapat di Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA, dan Arab Saudi yang berfungsi sebagai pusat operasi udara dan laut, logistik, pengumpulan intelijen, serta proyeksi kekuatan.
Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar merupakan basis udara terbesar AS di kawasan dan markas terdepan Komando Pusat AS (CENTCOM), menampung sekitar 10.000 personel dan hampir 100 pesawat.
Di Bahrain, Naval Support Activity menjadi markas Armada Kelima AS dengan sekitar 9.000 personel. Sementara itu Kamp Arifjan di Kuwait berperan sebagai pusat logistik dan komando Angkatan Darat AS.
Al Dhafra di UEA menjadi basis strategis operasi pengintaian dan udara tempur, termasuk penempatan pesawat siluman F-22 dan sistem peringatan dini, dan Pangkalan Udara Erbil di Irak digunakan untuk operasi udara dan dukungan terhadap pasukan Kurdi dan Irak.
Eskalasi memuncak setelah AS mengonfirmasi serangan langsung ke Iran yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur IRGC di sejumlah kota, termasuk pinggiran Teheran. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada IRGC dan aparat keamanan Iran.
"Letakkan senjata kalian dan dapatkan kekebalan penuh, atau hadapi kematian yang pasti," ujarnya dalam pidato resmi. Trump juga menyerukan warga Iran untuk mencari perlindungan di tengah ancaman pengeboman lanjutan, seraya mendorong perubahan rezim.
Dengan Iran menargetkan langsung pangkalan-pangkalan AS di negara Arab, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang eskalasi militer yang lebih luas, meningkatkan risiko terhadap keamanan regional dan lalu lintas penerbangan internasional.
(fab/fab)
Addsource on Google
















































