Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki "Godzilla" mulai direspons petani dengan berbagai langkah antisipasi. Di lapangan, perubahan pola cuaca yang tidak menentu sudah mulai dirasakan dan memicu kekhawatiran terhadap potensi penurunan produksi pangan.
Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi dan Perbenihan Serikat Petani Indonesia (SPI) Kusnan mengatakan, kondisi ini menjadi perhatian serius bagi petani.
"Ini memang isu krusial yang sedang menjadi perhatian serius kami di Serikat Petani Indonesia (SPI)," kata Kusnan kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/3/2026).
Kusnan menuturkan, anomali cuaca sudah terlihat di sejumlah wilayah sentra produksi, terutama di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Pola hujan yang tidak menentu menjadi tantangan utama dalam pengelolaan tanam.
"Petani di beberapa wilayah, terutama di sentra padi seperti Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, sudah mulai merasakan anomali. Siklus hujan menjadi tidak menentu, ada wilayah yang sudah mengalami kekeringan dini, sementara yang lain masih terkena hujan intensitas tinggi yang merusak pola tanam. Ketidakpastian ini adalah ancaman pertama bagi manajemen tanam kami," ujarnya.
Ia mengatakan, dampak yang paling dikhawatirkan petani adalah gagal tanam atau puso secara massal. Risiko ini meningkat seiring potensi kekeringan ekstrem yang dipicu El Nino.
"Dampak yang paling kami khawatirkan adalah gagal tanam atau puso massal. Jika El Nino ini sekuat yang diprediksi, risiko kekeringan permanen pada lahan tadah hujan sangat tinggi. Selain itu, serangan hama biasanya meningkat saat cuaca panas ekstrem, yang akan menambah beban biaya pestisida," terang dia.
Menghadapi kondisi tersebut, petani mulai melakukan sejumlah langkah adaptasi. Salah satunya mempercepat masa tanam agar panen bisa dilakukan sebelum puncak musim kemarau.
"(Kami melakukan) percepatan tanam bagi yang ketersediaan airnya masih ada, kami mendorong percepatan tanam agar panen bisa dilakukan sebelum puncak kemarau," kata Kusnan.
Selain itu, petani juga mulai mengalihkan sebagian lahan ke tanaman yang lebih tahan kekeringan.
"Kami juga melakukan diversifikasi. Ada instruksi untuk beralih dari padi ke tanaman palawija seperti jagung, kedelai, atau umbi-umbian yang lebih hemat air pada musim tanam kedua atau ketiga tahun ini," jelasnya.
Dari sisi benih, SPI mendorong penggunaan varietas lokal yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
"Kami terus mendorong penggunaan benih-benih lokal yang secara genetis lebih adaptif terhadap cekaman lingkungan (kekeringan). Benih-benih hasil pemuliaan petani sendiri seringkali lebih tangguh menghadapi anomali cuaca dibanding benih hibrida pabrikan yang sangat bergantung pada input air dan pupuk kimia tinggi," ucap dia.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi, terutama dari sisi infrastruktur irigasi. Kusnan menyebut distribusi air ke tingkat petani belum optimal.
"Saat ini kondisi debit air di waduk-waduk besar masih terpantau cukup, namun distribusinya ke saluran sekunder dan tersier di tingkat petani seringkali bermasalah. Ego sektoral dalam pembagian air irigasi sering membuat petani kecil di bagian hilir tidak kebagian air," jelasnya.
Ia juga menilai peran pemerintah perlu diperkuat dengan langkah konkret, bukan sekadar imbauan.
"Sejauh ini sosialisasi sudah ada, namun petani butuh langkah konkret, bukan sekadar imbauan. Kami mendesak pemerintah untuk memastikan ketersediaan pompa air di titik-titik rawan, mempercepat perbaikan infrastruktur irigasi yang rusak, menjamin ketersediaan pupuk dan input pertanian agar petani tidak makin terpuruk saat produksi menurun," kata Kusnan.
Di sisi lain, keterbatasan modal menjadi kendala utama bagi petani kecil dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim ekstrem.
"Kendala terbesar adalah modal. Petani kecil sangat rentan karena mereka tidak punya cadangan dana untuk membangun sumur bor dalam atau membeli mesin pompa sendiri. Di sini letak ketimpangannya, petani skala besar memiliki modal untuk teknologi mitigasi, sementara petani kecil hanya bisa berserah pada alam jika tidak ada intervensi negara," ujarnya.
"Jika tidak ada langkah mitigasi yang luar biasa, potensi penurunan hasil panen bisa mencapai 20% hingga 30% secara nasional," sebut dia.
Ia pun mengingatkan, kenaikan biaya produksi tidak selalu diimbangi dengan harga jual yang menguntungkan petani.
"Kekhawatiran terbesar kami adalah biaya produksi yang membengkak akibat biaya pompa air dan pestisida, tidak sebanding dengan harga jual di tingkat petani. Seringkali saat panen berkurang, harga naik di pasar, tapi di tingkat petani harga ditekan oleh masuknya impor. Ini yang harus dijaga oleh pemerintah," pungkas Kusnan.
Sebelumnya, BRIN memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat atau yang kerap dijuluki "Godzilla" pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dalam fase kuat, fenomena ini disebut "Godzilla" karena mampu memicu anomali iklim yang signifikan.
"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagaram resmi @/brin_indonesia, Sabtu (21/3/2026).
(dce)
Addsource on Google


















































