Plastik Kian Mahal, INDEF Arahkan ke Kemasan Daur Ulang

4 hours ago 6

Plastik Kian Mahal, INDEF Arahkan ke Kemasan Daur Ulang Foto ilustrasi wadah plastik. / Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kenaikan harga bahan baku plastik global mulai menekan pelaku usaha dalam negeri, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner. Di tengah kondisi tersebut, penggunaan kemasan daur ulang dinilai menjadi alternatif yang semakin relevan.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menyebut lonjakan harga plastik akibat gangguan pasokan global harus disikapi dengan perubahan pola penggunaan kemasan.

“Kita gunakan kondisi ini sebagai titik balik lebih menggunakan produk dengan kemasan daur ulang,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Kenaikan harga bahan baku plastik bahkan dilaporkan mencapai dua kali lipat di sejumlah sektor. Dampaknya, pelaku usaha harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar untuk mempertahankan operasional.

UMKM Tertekan Risiko Harga Naik

Tekanan paling terasa pada sektor kuliner yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Kondisi ini mendorong sebagian pelaku usaha menaikkan harga jual untuk menutup biaya.

Namun langkah tersebut berisiko menurunkan daya beli konsumen dan menggerus omzet. Jika berlangsung lama, situasi ini juga berpotensi memicu tekanan inflasi lebih luas.

Esther menilai tren global saat ini menunjukkan kemasan daur ulang mulai lebih kompetitif dari sisi harga, sekaligus lebih ramah lingkungan dan sehat.

Ia juga mendorong penerapan instrumen ekonomi seperti Pigovian Tax dalam bentuk cukai plastik untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi.

Pemerintah Jaga Pasokan Dalam Negeri

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri plastik nasional masih mampu menjaga ketersediaan stok di tengah tekanan global.

“Kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garisbawahi kata seharusnya,” ujarnya.

Pemerintah juga terus mendorong diversifikasi bahan baku dan peningkatan pemanfaatan daur ulang untuk menjaga ketahanan industri.

Dengan kondisi saat ini, tekanan harga plastik tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga mendorong perubahan arah industri kemasan menuju sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Sebelumnya, Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menyebut material daur ulang kini telah menyumbang sekitar 20 persen dari total kebutuhan bahan baku plastik nasional, sekaligus membantu menekan biaya produksi di tengah ketergantungan impor yang masih tinggi.

Selain itu, sektor ini dinilai mampu meredam tekanan inflasi berbasis biaya serta mendukung keberlangsungan UMKM karena menyediakan alternatif bahan baku yang lebih stabil dan terjangkau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|