PLN Diminta Atasi Listrik Padam di Sukoharjo, Ini Dampaknya

3 hours ago 4

PLN Diminta Atasi Listrik Padam di Sukoharjo, Ini Dampaknya

Ilustrasi petugas PLN / Istimewa

Harianjogja.com, SUKOHARJO — Pemadaman listrik bergilir yang terjadi selama tiga hari berturut-turut di Kabupaten Sukoharjo mulai berdampak serius terhadap aktivitas industri dan mobilitas masyarakat. Gangguan pasokan listrik tersebut tidak hanya menghambat proses produksi perusahaan, tetapi juga memicu kemacetan lalu lintas di sejumlah titik padat.

Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan meningkatnya beban operasional akibat pemadaman listrik yang berlangsung antara dua hingga tiga jam setiap hari, mulai pagi hingga malam. Kondisi ini memaksa perusahaan, khususnya sektor manufaktur dan pabrikasi, untuk mengandalkan genset berbahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sebagai sumber energi alternatif.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sukoharjo, M. Yunus Arianto, mengatakan pemadaman listrik berdampak luas, tidak hanya bagi industri besar, tetapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Semua sektor usaha terdampak karena hampir seluruh proses produksi bergantung pada listrik. Saat terjadi pemadaman, operasional langsung terganggu,” ujarnya, Jumat (20/6/2026).

Menurut Ari, penggunaan genset memang menjadi solusi sementara, namun konsekuensinya adalah lonjakan biaya operasional. Hal ini lantaran genset menggunakan BBM nonsubsidi yang harganya relatif lebih tinggi.

“Industri manufaktur membutuhkan daya listrik besar untuk menjalankan mesin produksi. Ketika listrik padam, mereka terpaksa menggunakan genset dengan bahan bakar nonsubsidi, sehingga biaya produksi ikut meningkat,” jelasnya.

Di tengah tekanan ekonomi global, kondisi ini dinilai semakin membebani pelaku usaha. Apindo Sukoharjo pun mendesak pemerintah dan PLN untuk segera mengambil langkah mitigasi yang konkret agar pemadaman listrik tidak terus berulang.

“Pasokan listrik adalah kebutuhan utama dalam menjalankan usaha. Kami berharap ada solusi jangka panjang agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.

Tak hanya sektor industri, dampak pemadaman listrik juga dirasakan di jalan raya. Lampu lalu lintas yang tidak berfungsi menyebabkan arus kendaraan menjadi semrawut, terutama di persimpangan padat.

Seperti yang terjadi di kawasan Kartasura pada Sabtu (20/6/2026) pagi. Pemadaman listrik sekitar pukul 08.15 WIB membuat lampu lalu lintas di perempatan tidak menyala. Akibatnya, kendaraan dari berbagai arah saling berebut jalan, memicu kepadatan dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Situasi serupa juga terjadi sehari sebelumnya di Simpang Gembongan, Kartasura. Meski tidak sampai menyebabkan kemacetan total, kondisi jalan yang gelap dan minim pengaturan lalu lintas dinilai membahayakan pengguna jalan.

Pantauan di lapangan menunjukkan pemadaman listrik meluas hingga sepanjang Jalan Ahmad Yani menuju kawasan kampus UMS di Pabelan. Sorot lampu kendaraan yang saling berhadapan menambah potensi bahaya, terutama saat arus lalu lintas padat.

Pelaku usaha dan masyarakat kini berharap adanya perbaikan sistem distribusi listrik serta koordinasi lebih intens antara PLN dan pemerintah daerah agar dampak pemadaman tidak semakin meluas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : espos.id

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|