Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto memastikan pemerintah akan meningkatkan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel barbasis sawit (CPO) menjadi 50% (B50) pada tahun 2026 ini.
Target tersebut disampaikan oleh Prabowo di hadapan para investor dan pelaku usaha dalam acara Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa peningkatan porsi biodiesel dari kelapa sawit tersebut merupakan bagian dari transformasi Indonesia menuju kemandirian energi hijau. Saat ini, Indonesia telah menerapkan bauran biodiesel sebesar 40% (B40). Mandatari B40 telah diberlakukan sejak awal 2025.
"Tahun ini kita akan memproduksi bahan bakar diesel dari kelapa sawit, dan sekarang porsinya ditingkatkan dari 40% menjadi 50%," ungkap Prabowo dalam pidato di Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).
Selain biodiesel untuk substitusi Solar, Prabowo juga menegaskan rencana pengembangan bioetanol sebagai campuran bahan bakar bensin.
Pemerintah akan mengoptimalkan sumber daya alam domestik seperti singkong, tebu, dan jagung sebagai bahan baku utama.
Hal itu utamanya lantaran ketidakpastian kondisi geopolitik global, terutama konflik di kawasan Timur Tengah, dinilai memberikan ancaman langsung terhadap keamanan pasokan energi nasional.
"Bagi kami, hal ini lebih mendesak karena situasi geopolitik di Timur Tengah memberikan ketidakpastian strategis bagi keamanan energi kami. Oleh karena itu, kami bertekad untuk memaksimalkan apa yang kami miliki dan mengamankan energi terbarukan," tegas Prabowo.
Selain bahan bakar nabati, Prabowo juga memaparkan target percepatan di sektor Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pemerintah mematok target ambisius untuk mencapai kapasitas 100 Giga Watt (GW) energi surya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
(wia)
Addsource on Google

















































