Produsen Mobil Listrik ASEAN Ini Rela Rugi Demi Bangun Pabrik di AS

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen mobil listrik asal Vietnam, Vinvast melaporkan kerugian besar pada kuartal IV-2025 seiring langkah ekspansi perusahaan yang agresif, yakni pembangunan pabrik di Amerika Serikat.

VinFast mencatatkan rugi besar sebesar 35,2 triliun dong (US$ 1,34 miliar) pada kuartal akhir 2025. Angka ini meningkat 46,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2024, dan naik 15% dibandingkan kuartal sebelumnya. Dijelaskan bahwa penyesuaian nilai buku untuk rencana pabrik di North Carolina menyumbang kerugian sebesar US$ 235,6 juta.

"Kami berkomitmen terhadap pasar AS dan terus mempersiapkan hal itu," kata Chairman VinFast, Thuy Le, mengutip Channel News Asia, dikutip Kamis (19/3/2026).

Dia menambahkan perusahaan menargetkan peluncuran awal pabrik itu pada awal 2028. Padahal sebelumnya VinFast menunda pembangunan pabrik itu pada tahun 2024 karena ketidakpastian pasar kendaraan listrik.

Karena, sejak saat itu sejumlah pemerintah di berbagai negara mulai mengurangi insentif pembelian EV karena tekanan ekonomi.

Pengiriman EV Melonjak

Meski demikian, permintaan di Vietnam tetap kuat dan menyumbang hampir 80% dari total 86.557 unit EV yang dikirim VinFast pada kuartal keempat. Angka ini melonjak 127% dibandingkan kuartal ketiga dan naik 63% secara tahunan.

Pengiriman kendaraan roda dua bahkan melonjak lebih dari 450% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi hampir 172.000 unit. Lonjakan ini didorong kebijakan Hanoi yang melarang sepeda motor berbahan bakar bensin di pusat kota mulai pertengahan tahun ini.

VinFast menargetkan pengiriman minimal 300.000 unit EV secara global tahun ini, serta memperluas bisnis kendaraan roda dua hingga 2,5 kali lipat dari volume 2025. Pasar yang dibidik antara lain India, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Perusahaan juga berencana meluncurkan kendaraan listrik dengan perpanjangan jarak tempuh (range-extended electric vehicles/REEV) di Vietnam pada 2027. Kendaraan ini dilengkapi mesin bensin kecil untuk mengisi ulang baterai, dan dianggap sebagai solusi transisi di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya yang belum memadai.

"Kami melihat teknologi range extender sebagai solusi praktis sementara dalam transisi dari mesin pembakaran internal ke kendaraan listrik penuh," ujar eksekutif senior VinFast, Anne Pham.

Biaya yang Menekan Margin

Program pengisian daya gratis yang diluncurkan pada Desember 2024 turut meningkatkan biaya perusahaan, meski di sisi lain mendorong penjualan.

"Program ini sangat diapresiasi pelanggan, bahkan oleh dealer. Ini salah satu cara terbaik untuk meyakinkan masyarakat beralih ke EV," kata Thuy Le.

Sepanjang 2025, pendapatan VinFast melonjak 105% menjadi US$3,6 miliar. Perusahaan yang merupakan anak usaha konglomerasi Vingroup ini menargetkan bisa mencapai titik impas pada akhir tahun ini.

Namun, analis dari Third Bridge, Ollie Coughlin, mengingatkan bahwa tingginya tingkat pembakaran kas (cash burn) VinFast menimbulkan pertanyaan terkait kemampuan perusahaan dalam mendanai belanja modal (capex) yang dibutuhkan.

(emy/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|