Puluhan Tewas Terinjak di Situs Wisata, Negara Berkabung Nasional

6 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar duka menyelimuti Haiti setelah sebuah insiden maut terjadi di salah satu situs wisata paling populer di negara tersebut pada Sabtu (11/4/2026) waktu setempat. Setidaknya 30 orang dikhawatirkan tewas dalam sebuah tragedi kerumunan massa yang saling injak di tengah perayaan tahunan Paskah.

Insiden berdarah tersebut berlangsung di Benteng Laferrière, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di kota Milot, bagian utara Haiti. Kepala Perlindungan Sipil untuk departemen Nord Haiti, Jean Henri Petit, mengonfirmasi bahwa tragedi ini terjadi saat ribuan orang berkumpul di lokasi bersejarah tersebut.

"Insiden itu terjadi pada hari Sabtu selama pertemuan tahunan Paskah di Benteng Laferrière. Saya memperingatkan bahwa jumlah korban tewas masih bisa bertambah," ujar Jean Henri Petit dalam keterangannya yang dikutip dari laporan resmi.

Perdana Menteri Haiti, Alix Didier Fils-Aimé, turut memberikan pernyataan resmi terkait tragedi memilukan ini. Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi di tengah kerumunan yang didominasi oleh generasi muda yang tengah menikmati acara wisata di kawasan tersebut.

"Insiden itu terjadi selama acara wisata yang dihadiri oleh banyak orang muda di situs yang terletak di kota utara Milot tersebut," kata Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aimé menjelaskan situasi di lapangan.

Pemerintah Haiti pun langsung bergerak cepat dengan melakukan investigasi menyeluruh atas kejadian ini. Alix Didier Fils-Aimé menegaskan bahwa seluruh instansi terkait telah dikerahkan untuk menangani para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

"Investigasi telah diluncurkan dan semua otoritas terkait telah dikerahkan untuk mendukung mereka yang terdampak. Pemerintah menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga yang terkena dampak," tegas Perdana Menteri Fils-Aimé dalam sebuah pernyataan tertulis.

Berdasarkan laporan media lokal yang mengutip pejabat setempat, benteng tersebut dipadati oleh pelajar dan pengunjung setelah acara peringatan berdirinya benteng abad ke-19 itu viral di media sosial. Kepadatan massa mencapai puncaknya hingga situasi menjadi tidak terkendali di pintu masuk situs tersebut.

Tragedi saling injak ini dilaporkan bermula di dekat gerbang masuk utama dan diperparah oleh cuaca buruk yang melanda kawasan tersebut. Kondisi semakin kacau saat hujan deras mulai turun secara tiba-tiba, yang memicu kepanikan luar biasa di antara ribuan orang yang berdesakan.

Surat kabar lokal Haiti, Le Nouvelliste, menjadi media pertama yang melaporkan jumlah korban tewas berdasarkan data dari Jean Henri Petit. Meski demikian, hingga saat ini pemerintah secara resmi belum merilis angka pasti jumlah korban meninggal dunia secara mendetail.

Benteng Laferrière, atau yang dikenal sebagai Citadelle Henry, merupakan simbol kemerdekaan Haiti yang dibangun oleh revolusioner Henri Christophe sesaat setelah Haiti merdeka dari Prancis. Benteng ini dibangun selama lebih dari satu dekade sebagai sistem pertahanan untuk melindungi negara Karibia tersebut dari serangan luar.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada para korban, Pemerintah Haiti secara resmi telah menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Selama periode ini, bendera akan dikibarkan setengah tiang di seluruh negeri untuk mengenang para korban yang tewas dalam insiden tragis tersebut.

Kejadian mematikan ini menambah panjang daftar cobaan bagi Haiti yang saat ini masih berjuang melawan kekerasan geng bersenjata yang merajalela. Konflik internal di negara tersebut diketahui telah menyebabkan ribuan orang kehilangan nyawa dalam beberapa waktu terakhir.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|