Jakarta, CNBC Indonesia - Partai oposisi Hungaria, Tisza yang dipimpin oleh Péter Magyar memenangkan pemilu Hungaria. Hasil mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Viktor Orbán yang telah berlangsung selama 16 tahun, sebuah titik balik yang diprediksi akan menggetarkan Gedung Putih dan merombak total hubungan negara tersebut dengan Uni Eropa (UE).
Kurang dari tiga jam setelah tempat pemungutan suara ditutup pada Minggu (12/4/2026), Orbán langsung mengakui kekalahannya. Ia menyebut hasil pemilu kali ini sebagai sesuatu yang menyakitkan namun tidak bisa diganggu gugat.
"Saya mengucapkan selamat kepada partai yang menang. Kami akan melayani bangsa Hungaria dan tanah air kami dari posisi oposisi juga," ujar tokoh populis sayap kanan tersebut di hadapan para pendukungnya di Budapest.
Berdasarkan data perhitungan suara yang telah mencapai 98,74%, partai Tisza pimpinan Magyar diproyeksikan meraup 138 dari 199 kursi di parlemen. Kemenangan ini memberikan mereka status mayoritas mutlak yang mampu mengubah konstitusi serta undang-undang utama, yang mengindikasikan bahwa mereka akan mampu membatalkan perubahan yang dibuat oleh Orbán dan partai Fidesz, serta berpotensi membuka kembali akses dana Uni Eropa yang sempat dibekukan.
Fidesz tercatat hanya mampu mengamankan 55 kursi, sementara partai sayap kanan ekstrem Mi Hazánk memperoleh enam kursi.
Magyar, yang berjanji untuk memperbaiki hubungan Hungaria yang tegang dengan UE, memberantas korupsi, dan mengalihkan dana ke layanan publik yang selama ini terabaikan, menyatakan bahwa para pemilih Tisza telah menulis ulang sejarah Hungaria.
"Rekan-rekan Hungaria, kita telah melakukannya!" seru Magyar di hadapan puluhan ribu pendukung yang bersukacita di tepi sungai Danube.
Pria berusia 45 tahun tersebut menegaskan bahwa kemenangan ini adalah kemenangan atas narasi bohong yang selama ini beredar di negaranya.
"Malam ini, kebenaran menang atas kebohongan. Hari ini, kita menang karena rakyat Hungaria tidak bertanya apa yang bisa dilakukan tanah air untuk mereka - mereka bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk tanah air mereka. Anda menemukan jawabannya. Dan Anda menindaklanjutinya," kata Magyar.
Pemilihan ini dipantau secara ketat di seluruh dunia sebagai ujian terhadap ketahanan gerakan MAGA dan sayap kanan global, di mana banyak dari mereka selama ini memandang Orbán sebagai inspirasi politik.
Hanya beberapa hari sebelum pemilu, JD Vance sempat bertandang ke Budapest untuk memberikan dukungan kepada Orbán, begitu pula Donald Trump yang menjanjikan kekuatan ekonomi AS jika Orbán terpilih kembali. Namun, tokoh Demokrat AS Hakeem Jeffries menilai hasil ini sebagai pertanda buruk bagi kubu Trump.
"Otoriter sayap kanan Viktor Orbán telah kalah dalam pemilu. Penjilat Trump dan ekstremis Maga di Kongres akan menyusul pada bulan November. Musim dingin akan tiba," tulis Jeffries melalui media sosialnya.
Selain itu, hal ini juga terjadi saat Orbán terus menjaga hubungan Budapest dengan Rusia di tengah ketegangan konflik Ukraina. Orbán sendiri merupakan tokoh yang vokal menolak bantuan perang Benua Biru terhadap Kyiv dan sering disebut dekat dengan Preiden Rusia Vladimir Putin.
Eropa "Full Senyum"
Kemenangan Magyar disambut hangat oleh para pemimpin Eropa lainnya, termasuk Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni yang menjanjikan kerja sama berkelanjutan meski tetap memberikan penghormatan kepada Orbán.
"Saya berterima kasih kepada sahabat saya Viktor Orbán atas kolaborasi intens selama bertahun-tahun, dan saya tahu dia akan terus melayani bangsanya, juga dari pihak oposisi," tutur Meloni.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer turut menyebut hasil ini sebagai momen bersejarah bagi Hungaria dan demokrasi Eropa. Sementara itu, ketegangan antara Budapest dan Brussels yang sempat memuncak akibat veto Orbán terhadap bantuan Ukraina diprediksi akan mereda.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyambut positif perubahan ini sebagai kembalinya Hungaria ke jalur Uni Eropa.
"Jantung Eropa berdetak lebih kuat di Hungaria malam ini. Sebuah negara merebut kembali jalur Eropanya. Uni Eropa tumbuh lebih kuat," ungkap Ursula.
Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, bahkan memberikan sambutan yang lebih tajam terkait pengaruh Rusia di Hungaria.
"Kembali bersama! Kemenangan yang mulia, teman-teman terkasih! Orang Rusia, pulanglah!" tulis Tusk di media sosial.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menyatakan kesiapan mereka bekerja sama dengan Magyar. Dari Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensky menyatakan kesiapan untuk memajukan kerja sama demi keamanan Eropa.
"Kami siap untuk pertemuan dan kerja sama konstruktif bersama demi kepentingan kedua bangsa, serta perdamaian, keamanan, dan stabilitas di Eropa," kata Zelensky.
Pemilu kali ini mencatat rekor partisipasi pemilih hingga hampir 80%, yang sebagian besar didorong oleh mobilisasi kaum muda yang muak dengan status Hungaria sebagai salah satu negara paling korup di UE.
"Diktator, ideologi sayap kanan, dan semua itu akan hilang sekarang, dan kita punya kesempatan untuk negara yang lebih baik. Saya merasa penuh harapan dan bahagia," ujar Nóri, seorang pemilih berusia 24 tahun.
Senada dengan itu, Anna, seorang pemilih muda lainnya, menaruh harapan besar pada kepemimpinan baru setelah belasan tahun di bawah rezim lama.
"Saya sangat berharap empat tahun ke depan ini akan lebih baik daripada 16 tahun terakhir," tutur Anna.
Dukungan juga datang dari figur publik seperti Ervin Nagy, salah satu aktor film ternama Hungaria, yang menilai kemenangan ini adalah jaminan kebebasan bagi rakyat.
"Selama empat tahun ke depan, rakyat Hungaria dapat mengharapkan keamanan, perdamaian, kebebasan, dan tidak akan ada yang mencampuri kehidupan mereka," tegas Nagy.
Kata Para Analis
Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa jalan menuju perubahan total tidak akan mudah karena pengaruh Fidesz yang sudah merasuk dalam ke birokrasi dan yudisial.
"Jalan ke depan bagi Hungaria sangat rumit - kendali Fidesz terhadap sektor bisnis, media, administrasi publik, dan yudisial menjangkau sangat jauh dan dalam," kata Dalibor Rohac, peneliti senior di American Enterprise Institute.
Menurut Rohac, hasil ini adalah bukti kegagalan proyek ideologis Orbán dan Trump setelah diuji selama belasan tahun.
"Pesan dari pemilihan ini jelas: proyek ideologis Orbán (dan Trump) telah menjalani uji coba selama 16 tahun, dan itu merupakan kegagalan politik, ekonomi, dan sosial yang spektakuler. Kekalahan 'Orbánisme' adalah kesempatan untuk menolak pengulangannya yang ada di demokrasi Barat lainnya," tambahnya.
Direktur Political Capital, Péter Krekó, memuji keberhasilan Tisza yang mampu menang di tengah kepungan mesin disinformasi pemerintah.
"Tisza bisa menang melawan segala rintangan: bantuan dari Amerika Serikat dan dari Rusia, mesin disinformasi negara yang masif, dan semua lembaga negara yang membantu Fidesz," jelas Krekó.
Analis geopolitik Botond Feledy menekankan bahwa hasil ini akan mengatur ulang hubungan Hungaria dengan UE dan NATO menjadi lebih konstruktif.
"Kita bisa mengandalkan pemerintah Hungaria yang konstruktif namun kritis, tetapi pada dasarnya pro-UE dan bertindak sebagai anggota penuh Uni Eropa. Dan ini juga berlaku untuk hubungan NATO," papar Feledy.
Ia juga menutup dengan peringatan bagi para pemimpin populis lainnya di Eropa bahwa janji-janji kosong tidak akan bertahan selamanya.
"Para patriot untuk Eropa tentu perlu mempelajari pelajaran yang menambah daftar tantangan dalam buku panduan populis. Tidak semudah itu membuat janji kepada orang-orang ketika sistem tidak memberikan apa-apa, dan mustahil untuk membangun realitas virtual yang begitu jauh dari kenyataan," tutup Feledy.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
















































