Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mengklaim bahwa investor-investor asing akan segera menanamkan modal besar ke Tanah Air.
Optimisme ini sebelumnya disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai melakukan pertemuan dengan para investor kakap AS di sela rangkaian International Monetary Fund (IMF) Spring Meetings di Washington DC Amerika Serikat pekan ini.
Namun, benarkah investor asing sudah siap menanamkan modal besar di Indonesia?
Sejumlah ekonom menilai realitas yang terjadi di lapangan belum sepenuhnya sejalan dengan optimisme pemerintah. Investor asing disebut masih melihat Indonesia sebagai pasar menarik, tapi belum sepenuhnya yakin untuk masuk secara agresif.
Peneliti senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menjelaskan, persepsi investor asing terhadap Indonesia memang masih positif. Namun, sentimen positif itu belum otomatis diterjemahkan menjadi arus modal besar.
"Jadi kalau dibilang masih positif, masih dan masih tertarik dengan Indonesia sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Menteri ya. Hanya saja maksudnya masih positif itu adalah yang sekarang itu bukan berarti ada masuk dana asing besar ke Indonesia, belum kayak gitu," ujar Deni kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, investor asing saat ini cenderung berada dalam posisi wait and see. Mereka masih menilai seberapa kuat dan seberapa kredibel kebijakan pemerintah Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan fiskal dan gejolak global.
Menurut Deni, Indonesia tetap dianggap atraktif karena memiliki potensi pertumbuhan yang menjanjikan. Namun, kepercayaan investor disebut belum pulih sepenuhnya.
Kepercayaan investor dapat terlihat dari sejumlah indikator pasar, seperti capital inflow, yield Surat Berharga Negara (SBN), credit default swap (CDS), hingga foreign direct investment (FDI).
Deni mencontohkan, aliran modal asing di pasar saham sempat tinggi pada Januari, tetapi setelah itu terjadi outflow cukup besar. Sementara dana yang kembali belum masuk sebesar periode sebelumnya.
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) mencatatkan di sepanjang periode perdagangan 12-14 Januari 2025, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net outflow) sebesar Rp7,71 triliun.
Sejalan dengan dinamika tersebut, indikator risiko Indonesia ikut naik. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 14 Januari 2026 tercatat berada di 71,43 basis poin (bps), meningkat dari 69,31 bps pada 9 Januari 2026. Kenaikan ini menandakan investor global mulai lebih berhati-hati di awal tahun, meski level CDS Indonesia masih relatif terjaga.
"CDSnya juga naik dari yang sebelumnya sampai 75 basis point. Lagi-lagi itu memperlihatkan resiko yang meningkat Tapi bukan berarti si investor asingnya benar-benar keluar. Dia menunggu ada yang masuk tapi kebanyakan masih menunggu gimana kelanjutan dari kebijakan Indonesia. FDI juga kan masih belum booming. Ada yang masuk tapi enggak se-booming tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.
Di sisi lain, Head of Center Macroeconomics and Finance INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai persepsi investor asing terhadap Indonesia saat ini tidak sepenuhnya atau sepositif narasi pemerintah. Fundamental memang masih terjaga pertumbuhan sekitar 5% dan rasio utang relatif aman tetapi indikator pasar justru menunjukkan kehati-hatian meningkat.
Penurunan kepemilikan asing di SBN ke kisaran 12% dan tekanan pada rupiah mencerminkan bahwa investor masih masuk, tetapi dengan premi risiko yang lebih tinggi.
"Jadi, posisi Indonesia saat ini bukan "sangat dipercaya", melainkan masih menarik, tetapi tidak lagi tanpa syarat," ujar Rizal kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (17/4/2026).
Rizal menilai bahwa faktor utama yang menentukan minat investor bukan lagi pertumbuhan ekonomi, melainkan kredibilitas kebijakan dan kepastian regulasi. Pertumbuhan 5% sudah dianggap baseline. Yang menjadi perhatian investor adalah arah fiskal, konsistensi kebijakan, dan stabilitas nilai tukar.
"Ketika muncul persepsi bahwa kebijakan bisa berubah atau fiskal menjadi lebih longgar tanpa kejelasan pembiayaan, investor langsung menaikkan risk premium," ujarnya.
Gejolak global juga sangat berpotensi mempercepat perubahan persepsi investor.
Menurutnya, dengan suku bunga global tinggi, dolar yang kuat, dan ketegangan geopolitik, emerging markets seperti Indonesia sangat rentan terhadap pembalikan arus modal.
"Apalagi jika faktor domestik belum sepenuhnya solid, maka shock eksternal bisa dengan cepat mengubah sentimen dari wait and see menjadi risk-off," ujarnya.
"Yang perlu dibenahi pemerintah bukan sekadar komunikasi, tetapi kredibilitas kebijakan itu sendiri. Disiplin fiskal harus dijaga secara konsisten, arah kebijakan harus jelas dan tidak berubah-ubah, serta kepastian hukum perlu diperkuat," tegas Rizal.
(mij/mij)
Addsource on Google


















































