Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat dan pelaku pasar valuta asing untuk segera melepas kepemilikan dolar Amerika Serikat (AS). Ia optimistis nilai tukar rupiah akan menguat hingga menyentuh level Rp15.000 per dolar AS dalam waktu dekat.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya di acara Jogjakarta Financial Festival di Jogja Expo Centre (JEC), Jumat (21/5/2026), di tengah kondisi rupiah yang masih berada dalam tekanan.
"Saya bilang pemain valas cepat-cepat buang dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp15.000 per dolar AS," ujar Purbaya.
Ia bahkan kembali menegaskan pesannya kepada masyarakat yang masih menyimpan greenback. "Jadi saya ulangi lagi kalau punya dolar jual sekarang," katanya.
Meski demikian, pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan di pasar: bila pemerintah begitu yakin rupiah akan menguat, mengapa mata uang Garuda belakangan masih bergerak melemah?
Purbaya menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor sementara, sedangkan fundamental pasokan devisa diyakini akan membaik mulai Juni 2026. Salah satu pendorong utamanya ialah implementasi aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Aturan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 yang mulai berlaku 1 Juni 2026. Dalam beleid tersebut, eksportir diwajibkan menempatkan 100% devisa hasil ekspor di perbankan nasional.
Khusus sektor migas, eksportir wajib menahan 30% DHE selama tiga bulan. Sementara untuk sektor nonmigas, retensi diwajibkan sebesar 100% selama 12 bulan di rekening khusus.
Menurut Purbaya, kebijakan itu akan membuat pasokan dolar di dalam negeri meningkat signifikan sehingga menopang penguatan rupiah. "Keputusan pemerintah menjalankan aturan DHE ini langkah yang baik dan tepat," ujarnya.
Selain mengandalkan DHE SDA, pemerintah juga mengerek suplai dolar lewat penerbitan surat utang global. Purbaya mengatakan pemerintah baru saja menjual global bond senilai US$3,4 miliar. Nilai tersebut terdiri dari obligasi dolar AS sebesar US$2 miliar serta obligasi euro senilai 1,25 miliar euro.
"Kita jual US$3,4 miliar, artinya US$2 miliar dalam bond, 1,25 miliar euro. Kalau itu masuk ke sini itu akan tambah supply dolar ke kita, jadi saya tekankan lagi rupiah akan menguat," ujar Purbaya.
Ia pun meminta masyarakat tidak panik menghadapi fluktuasi rupiah saat ini. "Kalau kata Presiden selama Purbaya senyum ekonomi bagus nih, senyum terus nih!" katanya disambut tepuk tangan peserta acara.
Cara Sederhana Memahami Alasan Rupiah Melemah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang masih berada dalam tekanan. Bahkan, mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.725 per dolar AS.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini terjadi karena permintaan dolar AS jauh lebih besar dibandingkan pasokannya di pasar domestik.
"Dia mengalami pelemahan karena yang ditawarkan untuk US dollar lebih sedikit dari yang minta, itu gampangnya," kata Aida dalam acara Jogjakarta Financial Festival di JEC.
Menurut Aida, kondisi tersebut tercermin dari transaksi berjalan Indonesia yang kembali mengalami defisit pada awal tahun ini.
Defisit transaksi berjalan tercatat mencapai US$4 miliar atau sekitar Rp70,8 triliun (asumsi kurs Rp17.700/US$) pada kuartal I-2026. Nilai itu setara 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan kuartal IV-2025 sebesar US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,25 triliun, setara 0,7% dari PDB.
"Transaksi berjalan kita artinya defisit, artinya kita netnya mengalami banyak bayar daripada nerima, ini yang menjadi permasalahan," tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan itu, Aida mengatakan pemerintah dan BI telah menyiapkan sejumlah langkah guna memperbesar pasokan dolar di dalam negeri. Salah satunya melalui pembentukan BUMN ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau PT DSI.
"Presiden akan buat suatu badan untuk pastikan penerimaan ekspor lebih baik dan makin optimal," ujarnya.
Selain itu, pemerintah dan BI juga terus berupaya menarik arus modal asing masuk ke Indonesia agar suplai dolar kembali meningkat dan mampu menopang stabilitas rupiah.
"Dan untuk menutup transaksi berjalan tadi, ada transaksi modal. Transaksi modal sedang mengalami penurunan dan harus menarik arus modal asing masuk ke Indonesia, sehingga kita bisa lakukan pemenuhan," kata Aida.
(dce)
Addsource on Google















































