RI Bakal Beli Minyak Rusia? Ini Jawaban Bahlil

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan mengenai apakah kemungkinan Indonesia akan membeli minyak dari Rusia. Hal ini seiring dengan upaya pemerintah dalam mencari sumber pasokan alternatif untuk mengantisipasi dampak geopolitik di Timur Tengah.

Bahlil memastikan bahwa pemerintah telah mengamankan sumber pasokan minyak mentah baru untuk mengurangi ketergantungan dari kawasan Timur Tengah. Sayangnya, Bahlil enggan menyebutkan nama negara asal secara gamblang.

"Tolong teman-teman, saya sampaikan ulangi lagi. Bahwa impor crude kita dari Middle East itu 20%. Dan sekarang kami sudah menemukan sumber crude baru selain dari Middle East. Tolong jangan tanyakan lagi dari mana. Yang jelas Insya Allah semuanya ada," tegas Bahlil saat ditanya apakah akan membeli minyak dari Rusia, saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Kendati demikian, Bahlil mengakui bahwa saat ini masih ada kapal tanker pengangkut minyak yang tertahan dan kesulitan melewati Selat Hormuz pasca selat tersebut ditutup oleh Iran.

"Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz. Tapi komunikasi terus kita bangun," jelasnya.

Meskipun menghadapi tantangan rantai pasok global, Bahlil menjamin bahwa ketersediaan BBM dan LPG di dalam negeri tetap aman dan memenuhi standar minimal nasional. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap melakukan penghematan.

"Stok BBM kita insyaallah dalam kondisi yang aman. Standar minimal, minimum syarat. Kita tahu bahwa LPG kita 70% kita impor. Tapi sampai dengan hari ini kondisinya clear. Kapal-kapal yang juga kita beli dari beberapa negara masih on the track," pungkas Bahlil.

Filipina Impor 700 Ribu Barel Minyak ke Rusia

Filipina dikabarkan melakukan impor minyak sebanyak 700.000 barel dari Rusia. Hal ini pasca negara tersebut menetapkan keadaan darurat energi nasional.

Sumber yang mengetahui transaksi tersebut mengatakan kepada AFP pada Kamis (26/3/2026) bahwa kapal berbendera Sierra Leone bernama Sara Sky tiba sejak Senin dengan membawa minyak mentah berkualitas tinggi dari jalur pipa ESPO Rusia.

Dokumen pengiriman menunjukkan penerima muatan adalah Petron Corp, operator satu-satunya kilang minyak di Filipina. Sumber tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang berbicara kepada media.

Filipina sangat bergantung pada impor bahan bakar, sementara biayanya melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah sejak perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran memicu penutupan sebagian jalur vital Selat Hormuz.

Pantauan AFP mengonfirmasi Sara Sky berlabuh di pelabuhan Limay, tepat di luar Manila, lokasi kilang Petron berada. Pengiriman ini diyakini sebagai kiriman pertama minyak Rusia ke Filipina dalam 5 tahun terakhir.

Pekan lalu, CEO Petron Ramon Ang mengatakan kepada AFP bahwa perusahaannya sedang "dalam pembicaraan" untuk kemungkinan membeli minyak Rusia. Namun pada Kamis, ia menolak mengonfirmasi kedatangan kargo tersebut.

Adapun Presiden Filipina Ferdinand Marcos menyatakan pemerintah tengah memperluas pencarian sumber bahan bakar karena stok domestik diperkirakan hanya cukup untuk 45 hari.

"Kami tidak hanya mendatangi pemasok minyak tradisional kami, kami juga mencoba menjajaki sumber lain yang tidak terdampak oleh perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah," ujarnya dalam konferensi pers terkait keadaan darurat energi.

AS Impor Minyak Rusia

Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak biasa di tengah gejolak pasar energi global akibat perang dengan Iran. Washington pada Kamis (12/3/2026) memberikan izin sementara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini masih terjebak di laut, dengan tujuan meredakan tekanan pada pasokan energi dunia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan tersebut bersifat terbatas dan hanya berlaku dalam jangka waktu singkat.

Dalam unggahan di platform X, Bessent menegaskan bahwa langkah ini tidak dimaksudkan untuk membuka kembali perdagangan minyak Rusia secara luas.

Ia menyebut kebijakan itu sebagai "langkah yang dirancang secara sempit dan bersifat sementara" yang hanya berlaku untuk minyak yang sudah berada dalam perjalanan.

Menurut informasi yang diperoleh CNBC, saat ini terdapat sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia yang berada di laut di sekitar 30 lokasi di seluruh dunia. Volume tersebut setara dengan kebutuhan AS sekitar lima hingga enam hari.

Langkah Washington untuk sementara mengizinkan pembelian minyak itu diharapkan dapat membantu meredakan volatilitas pasar energi yang meningkat sejak pecahnya perang dengan Iran.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|