Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pemanfaatan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Alasan utamanya lantaran hal itu sejalan dengan melimpahnya sumber daya gas bumi domestik, khususnya yang memiliki kandungan gas metana (C1) dan etana (C2). Sementara bahan baku LPG yakni propana (C3) dan butana (C4) dalam rantai hidrokarbon makin menipis.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya gas sangat masif untuk memproduksi CNG dan mendukung pemenuhan kebutuhan gas domestik.
Apalagi, lanjutnya, belum lama ini terdapat temuan lapangan gas berskala besar yang bisa mendukung keberlanjutan pasokan gas CNG ke depannya.
"Kan kita punya gas banyak dan sekarang sudah ditemukan lagi gas-gas yang besar ya, kayak kemarin yang Eni (temuan lapangan gas jumbo di laut dalam Kalimantan Timur) itu... kan itu besar," ucapnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Pemerintah berupaya mengoptimalkan produksi gas domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG. Melalui pemanfaatan gas dari produksi dalam negeri, pemerintah berharap dapat menciptakan kemandirian energi sekaligus menekan beban subsidi yang selama ini dialokasikan untuk gas impor.
"Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuman kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. Yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya," tambahnya.
Pemerintah juga tengah menyiapkan peta jalan pengalihan energi tersebut agar proses transisinya tidak mengganggu pelayanan kepada publik. Sebagai awalan, pemerintah berencana pemanfaatan CNG tabung dilakukan melalui proyek percontohan di beberapa wilayah.
"Tahun ini sudah akan ada beberapa pilot project. Tahun ini sudah ada," tandasnya.
Saat ini, Kementerian ESDM sedang melakukan uji coba untuk penggunaan CNG dengan kapasitas yang lebih kecil atau 3 kilo gram (kg). Penggunaan CNG sejatinya sudah terlaksana untuk sektor transportasi, perhotelan hingga restoran dengan ukuran yang besar atau 12 kg hingg 20-an kg.
Didorongnya penggunaan CNG juga untuk mendukung upaya pemerintah menekan impor LPG yang teramat besar. Maklum, kebutuhan LPG dalam negeri mencapai 8,6 juta ton per tahun tapi pemerintah hanya bisa memproduksi di dalam negeri 1,6-1,7 juta ton, artinya sisanya masih mengandalkan impor. Jika dihitung, porsi impor LPG dalam negeri mencapai 80-84% dari kebutuhan dalam negeri.
Bakal Disubsidi
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa kebijakan pemberian subsidi bagi CNG sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar program energi nasional tetap berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat, ya," ujar Bahlil usai pelantikan pejabat di Kementerian ESDM, beberapa waktu yang lalu.
Maka dari itu, pemerintah juga tengah mengupayakan agar harga jual CNG nantinya bisa setara dengan harga LPG 3 kg yang saat ini digunakan oleh masyarakat.
"Doakan seperti itu ya. Minimal sama. Minimal sama," kata Bahlil.
Saat ini pemerintah masih melakukan tahap uji coba dan kajian sebelum implementasi penuh program tersebut dilakukan. Sehingga, skema harga maupun mekanisme distribusi masih terus dimatangkan.
"Nanti, nanti. Makanya kita lagi uji coba. Ini belum diimplementasikan, ya. Saya ulangi, ya. Ini masih dalam exercise," katanya.
Apa itu CNG?
Asal tahu saja, bila mengacu pada definisi dari Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan, CNG merupakan gas yang bersumber dari gas bumi dengan unsur metana (C1).
Gas tersebut dimampatkan dan disimpan dalam tabung bertekanan khusus agar lebih mudah diangkut dan disimpan, serta digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.
Melansir laman resmi PT PGN (PGAS), gas alam itu sendiri terdiri dari campuran unsur seperti hidrokarbon yang terdiri dari metana (C1), etana (C2), propana (C3), dan butana (C4). CNG sendiri terdiri dari 95% kadar metana.
Saking beragamnya unsur gas alam, pengolahan dan pemanfaatannya pun berbeda-beda. Gas alam bisa diolah menjadi LPG, jadi Liquefied Natural Gas (LNG), termasuk pula menjadi CNG.
Memahami perihal CNG juga kerapkali disertai dengan pemahaman terhadap LPG dan Liquefied Natural Gas (LNG). Namun tentunya perlu dicatat bahwa CNG, LPG, dan LNG adalah tiga hal yang berbeda.
Perbedaan utama antara CNG, LPG, dan LNG terletak pada keadaan fisiknya dan tekanan penyimpanannya. CNG disimpan dalam bentuk gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam bentuk cair pada tekanan dan suhu moderat. LNG, di sisi lain, diangkut dalam bentuk cair pada suhu sangat rendah.
(wia)
Addsource on Google

















































