Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS Usai Perry Warjiyo Mundur

4 hours ago 2

Rupiah Tembus Rp18.009 per Dolar AS Usai Perry Warjiyo Mundur

Foto ilustrasi uang rupiah - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah ditutup melemah pada perdagangan Senin (27/7/2026). Rupiah terdepresiasi 46 poin ke posisi Rp18.009 per dolar AS di tengah respons negatif pasar terhadap pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh mundurnya Perry Warjiyo yang terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap rupiah akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran.

"Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara AS dan Iran," kata Ibrahim, Senin (27/7/2026).

Menurut Ibrahim, sentimen tersebut diperkirakan masih akan membayangi perdagangan Selasa (28/7). Ia memperkirakan rupiah kembali ditutup melemah di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.

Selain faktor intervensi bank sentral, Ibrahim mengatakan tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi fiskal. Ia menjelaskan rasio utang Indonesia saat ini berada di kisaran 40% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, Trading Economics melaporkan para analis pasar keuangan memperingatkan bahwa pengunduran diri Gubernur BI secara mendadak dapat memicu kekhawatiran investor yang sebelumnya telah mencermati risiko fiskal dan independensi bank sentral.

"Warjiyo, yang memulai masa jabatan lima tahun keduanya pada 2023, menghadapi tekanan yang kian besar untuk menyelaraskan kebijakan dengan agenda pertumbuhan pemerintah saat nilai tukar rupiah menyentuh rekor terendah pada bulan Juni," tulis laporan tersebut.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Keputusan itu berbeda dengan konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan lanjutan setelah total kenaikan 100 basis poin sejak Mei.

Trading Economics juga mencatat bahwa di tingkat global nilai tukar dolar AS melemah seiring turunnya harga minyak setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga kekhawatiran terhadap pasokan energi dan inflasi ikut berkurang.

"Di tingkat global, nilai tukar dolar AS melemah seiring turunnya harga minyak setelah meredanya ketegangan antara AS dan Iran, yang turut meredakan kekhawatiran terkait pasokan dan inflasi," tulisnya.

Pengunduran diri Perry Warjiyo yang diumumkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi sekaligus menandai berakhirnya lebih dari tujuh tahun kepemimpinannya sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Sejak dilantik pada 24 Mei 2018, pergerakan rupiah menjadi salah satu indikator utama yang mencerminkan dinamika ekonomi domestik maupun tekanan global. Saat mulai menjabat, nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp14.205 per dolar AS ketika mata uang negara berkembang menghadapi tekanan akibat normalisasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia mengandalkan bauran kebijakan (policy mix) melalui intervensi di pasar valuta asing, penyesuaian suku bunga acuan, serta penguatan pendalaman pasar keuangan domestik.

Pada awal 2020, rupiah mencatat penguatan terbaik selama era Perry Warjiyo dengan bergerak di kisaran Rp13.600–Rp13.750 per dolar AS. Penguatan tersebut didukung derasnya aliran modal asing (capital inflow) dan membaiknya sentimen pasar global.

Namun, pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada Maret 2020 memicu gejolak pasar keuangan global. Arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, membuat rupiah terdepresiasi hingga kisaran Rp16.500–Rp16.650 per dolar AS.

Sebagai respons, Bank Indonesia menerapkan strategi triple intervention melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Pada periode yang sama, BI juga menjalankan skema burden sharing bersama pemerintah melalui pembelian SBN di pasar perdana sepanjang 2020–2022 untuk mendukung stabilitas ekonomi.

Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat pada 2024 hingga 2025 seiring kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) yang dipertahankan Federal Reserve. Penguatan dolar AS membuat rupiah bergerak di kisaran Rp16.200–Rp16.700 per dolar AS.

Sebagai langkah lanjutan, Bank Indonesia memperkenalkan instrumen moneter baru berupa Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) untuk menarik aliran modal asing sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik.

Memasuki 2026, tekanan terhadap rupiah kembali meningkat akibat penguatan dolar AS yang berlanjut, tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, pembayaran dividen, serta repatriasi dana. Kondisi tersebut mendorong rupiah menembus level psikologis Rp17.700 per dolar AS hingga sempat menyentuh Rp18.000–Rp18.030 per dolar AS.

Pelemahan tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar pada akhir masa kepemimpinan Perry Warjiyo karena berpotensi meningkatkan biaya impor, memperbesar beban utang valuta asing korporasi, serta memengaruhi ekspektasi inflasi di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|