Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang serangan udara terbaru Rusia di berbagai wilayah Ukraina menewaskan sedikitnya 27 orang, hanya beberapa hari sebelum rencana gencatan senjata sepihak oleh Moskow mulai berlaku.
Pejabat Ukraina mengatakan serangan bom luncur Rusia pada Selasa (5/5/2026) waktu setempat menewaskan sedikitnya 12 orang di wilayah tenggara Zaporizhzhia, dalam salah satu serangan paling mematikan di kota tersebut sepanjang tahun ini. Serangan itu menghantam bengkel perbaikan mobil serta bangunan tempat tinggal. Gubernur wilayah, Ivan Fedorov, menambahkan bahwa 20 orang lainnya mengalami luka-luka.
Di wilayah timur laut, enam orang dilaporkan tewas dan 12 lainnya terluka di kota Kramatorsk, yang menjadi pusat terakhir yang masih berada di bawah kendali Ukraina di wilayah Donetsk yang diperebutkan.
Sementara itu, empat korban jiwa lainnya dilaporkan di kota Dnipro akibat serangan terpisah.
Serangan Rusia juga menyasar fasilitas gas milik negara Ukraina di wilayah Poltava dan Kharkiv pada malam hari. Serangan ini menewaskan tiga karyawan serta dua petugas penyelamat, menurut Serhiy Koretskyi, CEO perusahaan energi negara Naftogaz.
"Kami mengalami kerusakan signifikan dan kehilangan produksi. Ini adalah serangan gabungan yang melibatkan UAV (drone) dan rudal balistik," ujar Koretskyi, dilansir Al Jazeera.
Ia juga menambahkan bahwa serangan tersebut memutus pasokan gas bagi hampir 3.500 pelanggan.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras tindakan Rusia yang mengumumkan gencatan senjata namun tetap melanjutkan serangan.
"Ini adalah serangan teroris yang benar-benar sinis dan tidak masuk akal, tanpa makna militer apa pun," tulis Zelensky di Telegram. "Serangan Rusia terhadap kota dan desa kami tidak berhenti bahkan satu hari pun."
Rusia sebelumnya mengumumkan gencatan senjata dari 8 hingga 9 Mei, bertepatan dengan peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II serta parade militer di Lapangan Merah Moskow.
Sebagai tanggapan, Ukraina mengajukan proposal gencatan senjata tanpa batas waktu yang dimulai tengah malam Rabu. Zelensky menegaskan tidak masuk akal bagi Rusia untuk menghentikan serangan hanya satu hari demi parade militer, sementara bombardemen terhadap Ukraina terus berlangsung.
Namun, pejabat Moskow tampak tidak memberi perhatian pada tawaran tersebut. Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin justru menyampaikan ucapan selamat kepada para veteran Perang Dunia II dan memuji tentara Rusia di Ukraina sebagai "layak bagi para pendahulu mereka dan secara andal membela" negara.
Angkatan udara Ukraina melaporkan bahwa sejak Senin pukul 18.00 waktu setempat, Rusia telah meluncurkan 11 rudal balistik dan 164 drone. Dari jumlah tersebut, satu rudal dan 149 drone berhasil ditembak jatuh atau dinetralisir, namun delapan rudal dan 14 drone tetap menghantam 14 lokasi.
Di sisi lain, serangan Ukraina juga menimbulkan korban di wilayah yang dikuasai Rusia. Kepala wilayah Krimea yang ditunjuk Moskow, Sergei Aksyonov, mengatakan serangan drone Ukraina menewaskan lima warga sipil di kota Dzhankoi.
Di Rusia, otoritas di Republik Chuvashia melaporkan dua orang tewas dan sedikitnya 32 lainnya luka-luka akibat serangan drone. Kepala wilayah, Oleg Nikolaev, menetapkan status darurat dan menyebutkan bahwa korban luka termasuk seorang anak.
Sebelumnya pada Selasa, Ukraina juga menyerang salah satu kilang minyak terbesar Rusia di kota Kirishi, wilayah Leningrad, yang memicu kebakaran di kawasan industri.
"Target utama musuh adalah kilang minyak [Kinef]," kata Gubernur Alexander Drozdenko, seraya menambahkan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Kebakaran berhasil dikendalikan dan operasi pemadaman hampir selesai, menurutnya.
Menurut laporan Reuters, kilang Kinef merupakan salah satu yang terbesar di Rusia, dengan kapasitas pengolahan mencapai 17,5 juta metrik ton minyak atau sekitar 350.000 barel per hari pada 2024, setara dengan 6,6% dari total kapasitas pengolahan minyak negara tersebut.
Kilang itu memproduksi 2 juta ton bensin, 7,1 juta ton diesel, 6,1 juta ton bahan bakar minyak, serta 600.000 ton bitumen.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan unit pertahanan udaranya telah mencegat 93 drone Ukraina dalam periode tujuh jam di wilayah Krimea dan sejumlah wilayah Rusia lainnya.
(luc/luc)
Addsource on Google

















































