
Foto ilustrasi bendera Rusia dan Ukraina, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, MOSKOW—Angkatan bersenjata Rusia mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pusat logistik militer, fasilitas produksi pesawat nirawak (drone), dan lokasi penyimpanan milik Ukraina dalam 24 jam terakhir. Serangan juga disebut menyasar infrastruktur bahan bakar dan energi yang digunakan untuk kepentingan militer Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia pada Minggu (26/7/2026) menyatakan operasi tersebut dilakukan menggunakan penerbangan operasional-taktis, drone serang, serta divisi rudal dan artileri dari kelompok Angkatan Bersenjata Rusia.
"Penerbangan operasional-taktis, drone serang, divisi rudal dan artileri dari kelompok Angkatan Bersenjata Rusia menyerang pusat logistik, tempat produksi drone jarak jauh dan lokasi penyimpanan, fasilitas infrastruktur bahan bakar dan energi, serta transportasi yang digunakan untuk kepentingan angkatan bersenjata Ukraina," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.
Selain fasilitas logistik dan produksi drone, militer Rusia mengklaim menyerang lokasi pengerahan sementara angkatan bersenjata Ukraina dan tentara bayaran asing di 146 wilayah.
Dalam perkembangan lain, Komandan Kompi Kelompok Tempur Tsentr (Pusat), Alexander Volkov, mengatakan pasukan Rusia menghancurkan sebuah perahu karet yang membawa dua prajurit Ukraina di wilayah Dnipropetrovsk.
Menurut Volkov, pasukan Rusia juga menyita peralatan radio dan telepon seluler yang berisi data mengenai rute pergerakan pasukan Ukraina.
Ia menjelaskan kedua prajurit Ukraina tersebut diduga salah arah saat menggunakan perahu karet pada waktu senja sehingga memasuki wilayah yang dikuasai pasukan Rusia.
"Pasukan musuh menggunakan perahu karet sebagai alat transportasi. Saat itu senja, dan mereka jadi bingung. Alih-alih mencapai pasukan mereka sendiri, mereka malah dikepung oleh pasukan kita. Mereka dilumpuhkan. Perahu itu juga dihancurkan," kata Volkov kepada RIA Novosti.
Informasi yang diperoleh dari perangkat komunikasi yang disita disebut telah diserahkan kepada unit intelijen Rusia untuk dianalisis lebih lanjut dalam perencanaan operasional.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil Kuasa Usaha Ukraina di Teheran untuk menyampaikan protes atas serangan militer Ukraina terhadap kapal dagang Iran di Laut Kaspia yang dilaporkan menewaskan seorang anak buah kapal (ABK) dan melukai sejumlah lainnya.
Kuasa Usaha Ukraina dipanggil pada Minggu pagi oleh Direktur Jenderal Eurasia Kementerian Luar Negeri Iran, Manouchehr Moradi. Dalam pertemuan tersebut, Iran menyampaikan protes keras terhadap apa yang disebut sebagai tindakan permusuhan dan kriminal yang dilakukan Kiev.
Moradi menilai serangan terhadap kapal dagang Iran di Laut Kaspia melanggar prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk menjadi ancaman terhadap keamanan negara-negara pesisir di kawasan tersebut.
Pemerintah Iran juga meminta Ukraina bertanggung jawab atas insiden tersebut dan menghukum pihak yang terlibat dalam serangan.
Moradi menegaskan Republik Islam Iran akan terus mempertahankan keamanan dan kepentingan nasionalnya serta tidak akan tinggal diam atas serangan terhadap warga negaranya.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Sabtu (25/7/2026) mengonfirmasi bahwa Ukraina telah menyerang sebuah kapal di Laut Kaspia. Ia mengeklaim kapal tersebut mengangkut perangkat militer menuju Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menilai serangan tersebut mencerminkan pendekatan yang tidak rasional dan berbahaya dari Ukraina terhadap Iran. Iran juga menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap Pasal 2 Ayat (4) Piagam PBB yang berpotensi memicu eskalasi permusuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































