Saudi Klaim 1,5 Juta Orang Ikut Haji Meski Perang Berkecamuk

9 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar 1,5 juta umat Muslim dari berbagai negara tetap berangkat menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi di tengah situasi perang kawasan Timur Tengah yang memanas.

Tahun ini menjadi pertama kalinya Arab Saudi tetap menggelar ibadah haji saat negara tersebut berada di tengah konflik yang memicu serangan langsung ke wilayahnya.

Ibadah haji berlangsung pada 25-29 Mei 2026 di Kota Mekkah. Tradisi tahunan itu selalu menarik jutaan umat Muslim untuk menjalankan ritual yang wajib dilakukan setidaknya sekali seumur hidup bagi yang mampu.

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah jemaah haji tercatat berkisar antara 1,7 juta hingga 1,8 juta orang. Sejarah mencatat ibadah haji hanya pernah dibatalkan atau dibatasi sekitar 40 kali dalam lebih dari 14 abad terakhir. Pembatasan terakhir terjadi saat pandemi Covid-19 pada 2020.

Pelaksanaan haji sendiri selama ini dikenal sebagai operasi logistik besar. Pemerintah Arab Saudi harus mengatur tiket jemaah internasional, keamanan, penerbangan, akomodasi, distribusi makanan dan air, hingga layanan kesehatan di tengah cuaca panas ekstrem yang pernah memicu korban jiwa.

Namun tahun ini, tantangan semakin berat akibat perang Iran yang pecah sejak akhir Februari setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Iran kemudian membalas dengan menargetkan sejumlah negara Teluk, termasuk Israel.

Meski saat ini gencatan senjata masih berlaku, situasi keamanan dinilai belum sepenuhnya stabil. Pekan lalu, Arab Saudi mengaku berhasil mencegat tiga drone yang diduga diluncurkan kelompok milisi pro-Iran di Irak.

Pemerintah Amerika Serikat bahkan meminta warganya mempertimbangkan ulang perjalanan ke Arab Saudi untuk haji. Pemerintah Jerman, Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya juga mengeluarkan peringatan perjalanan terkait konflik yang sedang berlangsung.

Meski demikian, banyak calon jemaah tetap memilih berangkat. Dewan Muslim Jerman menyebut sebagian besar jemaah tetap berkomitmen menjalankan ibadah karena persiapan haji biasanya dilakukan lebih dari setahun dan membutuhkan biaya besar.

"Mereka termotivasi oleh pemenuhan kewajiban agama dan bagi mereka, ini juga lebih dari sekadar perjalanan biasa," kata seorang juru bicara Dewan Muslim Jerman diutip dari DW, Sabtu (23/5/2026).

Indonesia, yang tahun ini memberangkatkan sekitar 221 ribu jemaah haji, sempat meminta warga menunda keberangkatan pada Maret lalu hingga situasi perang lebih jelas. Namun pemerintah akhirnya tetap memberikan izin keberangkatan dan menyiapkan layanan pendukung seperti biasa.

Pemerintah Indonesia juga disebut memiliki rencana evakuasi darurat jika sewaktu-waktu diperlukan. Bahkan pekan ini pejabat Indonesia telah tiba di Arab Saudi untuk membantu layanan jemaah di lokasi.

Meski kekhawatiran meningkat, para analis menilai kecil kemungkinan Iran sengaja menyerang lokasi haji karena situs suci tersebut dihormati seluruh umat Muslim. Selain itu, sekitar 30 ribu jemaah asal Iran juga tetap berangkat ke Arab Saudi tahun ini.

Namun ancaman lain tetap ada, seperti salah sasaran rudal atau jatuhnya puing hasil intersepsi sistem pertahanan udara di dekat lokasi ibadah. Pemerintah Arab Saudi diketahui telah menempatkan sistem rudal Patriot dan pertahanan anti-drone di sekitar kawasan suci.

Perang di Timur Tengah juga berdampak pada biaya haji yang semakin mahal. Harga bahan bakar pesawat naik dan sejumlah maskapai membatalkan rute ke kawasan Timur Tengah sehingga membuat penerbangan menjadi lebih panjang dan mahal.

Selain itu, inflasi dan pelemahan mata uang di berbagai negara juga memperberat biaya perjalanan calon jemaah. Arab Saudi pun mewajibkan jemaah internasional memiliki asuransi perjalanan, sementara banyak polis asuransi tidak mencakup risiko perang atau konflik militer.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|