Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan militer Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran memicu spekulasi baru mengenai arah kebijakan luar negeri Washington berikutnya. Di tengah eskalasi konflik tersebut, Kuba disebut-sebut berpotensi menjadi target tekanan AS berikutnya.
Spekulasi itu mencuat setelah Senator Partai Republik Lindsey Graham secara terbuka menyebut Kuba sebagai negara yang kemungkinan akan menjadi fokus berikutnya setelah Iran.
"Kuba selanjutnya. Mereka akan mengikuti jejak kediktatoran komunis di Kuba. Hari-hari mereka sudah dihitung," kata Graham dalam wawancara dengan Fox News, seperti dikutip Jumat (6/3/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dalam operasi militer yang menargetkan fasilitas strategis dan pimpinan negara tersebut. Serangan itu memicu konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah dan memicu respons militer dari Iran.
Di tengah situasi tersebut, Kuba menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Washington sebelumnya telah memberlakukan blokade minyak terhadap negara pulau yang dipimpin pemerintahan komunis tersebut, langkah yang memperparah krisis energi dan ekonomi di Havana.
Tekanan itu meningkat setelah sekutu utama Kuba, Presiden Venezuela Nicolás Maduro, ditangkap dalam operasi militer AS pada awal tahun. Venezuela selama ini merupakan pemasok minyak utama bagi Kuba.
Peneliti senior keamanan Amerika Latin di Royal United Services Institute, Carlos Solar, menilai situasi tersebut membuat Kuba kehilangan dua mitra strategisnya dalam waktu bersamaan.
"Kuba kehilangan dukungan dari Venezuela dan Iran pada saat tekanan maksimum dari pemerintahan AS," kata Solar.
Namun menurutnya, masih belum jelas bagaimana Washington akan memaksa perubahan rezim di Havana. "Yang tidak jelas adalah bagaimana AS akan membuat rezim Kuba runtuh atau memaksa Havana menyerah," ujarnya.
Sementara itu, profesor Studi Amerika Latin di University of Nottingham, Par Kumaraswami, mengatakan ketegangan geopolitik global justru meningkatkan kecemasan di dalam negeri Kuba.
"Warga Kuba semakin khawatir tentang bagaimana mereka akan bertahan hidup di tengah kekacauan global seperti itu, dan kekerasan baru-baru ini terhadap Iran tidak akan mengurangi kekhawatiran mereka," kata Kumaraswami.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Kuba menyerukan penghentian konflik di Timur Tengah dan mengecam keras serangan AS dan Israel terhadap Iran.
(tfa/tfa)
Addsource on Google

















































