
Foto siswa SMA.- Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT
Harianjogja.com, SLEMAN—Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menilai dugaan aksi seorang siswa membawa bom rakitan ke sekolah tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan keamanan. Peristiwa tersebut, menurutnya, merupakan cerminan kegagalan konstruksi sosial sekaligus menjadi alarm keras (wake-up call) bagi sistem pendidikan nasional untuk memperkuat budaya dialog dengan anak.
Ketua Social Research Center UGM yang akrab disapa Abe itu menjelaskan setiap anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang membentuk karakter dan cara berpikirnya. Ketika anak mengalami rasa sakit, kurang mendapatkan kasih sayang, maupun perhatian dari lingkungan terdekat, kondisi tersebut dapat meninggalkan luka batin yang mendalam.
Situasi akan semakin berat apabila anak juga menjadi korban perundungan di lingkungan sekitarnya. Menurut Abe, pengalaman tersebut dapat memicu kemarahan yang dipendam tanpa diketahui orang lain.
"Kemudian diguncang dengan bullying oleh dunia sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Situasi itu tentu membuat anak juga memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui," jelas pria yang akrab disapa Abe itu dalam rilis pada Senin (27/7/2026).
Pengaruh Media Sosial Dinilai Memperbesar Risiko
Abe menilai perkembangan teknologi turut mengubah pola pendidikan anak. Konsep Tripusat Pendidikan yang selama ini bertumpu pada keluarga, sekolah, dan masyarakat dinilai semakin tergerus oleh pesatnya perkembangan teknologi digital.
Kemudahan mengakses media sosial membuat anak berpotensi terpapar berbagai konten yang tidak layak, mulai dari kekerasan hingga pornografi. Informasi tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi cara pandang anak dan bahkan menjadi inspirasi untuk meniru tindakan kekerasan.
"Bisa jadi justru menginspirasi anak-anak kita untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh jejak-jejak kekerasan yang ditinggalkan oleh sosial media," tandasnya.
Ia menjelaskan anak memiliki kemampuan mimesis, yakni kecenderungan meniru atau merepresentasikan sesuatu yang dilihat. Dalam konteks media sosial, kemampuan tersebut berpotensi menjadi persoalan ketika anak mengakses konten yang mengandung unsur kekerasan.
Menurut Abe, ruang digital masih sulit dikendalikan sepenuhnya, termasuk dalam menyaring konten yang berpotensi membahayakan anak.
"Kemampuan mimesis yang salah tersebut ialah bentuk kegagalan bagi konstruksi pendidikan dari keluarga, sekolah dan masyarakat," tandasnya.
Bukan Sekadar Pengamanan, tetapi Evaluasi Pendidikan
Abe memandang dua kasus ledakan di lingkungan sekolah yang terjadi belakangan ini merupakan gambaran kegagalan konstruksi sosial. Dampaknya dapat berupa ledakan ke dalam diri, seperti self-harm atau menyakiti diri sendiri, maupun ledakan ke luar dengan menyakiti orang lain akibat represi psikologis.
Karena itu, ia menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui penguatan aspek keamanan semata. Menurutnya, akar persoalan perlu ditelusuri melalui evaluasi sistem pendidikan sekaligus membangun budaya dialog yang lebih kuat dengan anak.
"Kita gali dari akar persoalan gunung es tentang perilaku anak sekolah yang melakukan ini maka kita perlu menukik ke hal yang lebih dalam merefleksikan kembali bagaimana sistem pendidikan kita dan bagaimana memperkuat budaya dialog bersama anak-anak kita," tandasnya.
Pendidikan Dinilai Terlalu Berorientasi Pengetahuan
Di sisi lain, Abe menilai budaya dialog antara orang tua, sekolah, dan anak di Indonesia masih relatif minim. Pendidikan, menurutnya, lebih banyak berorientasi pada penyelesaian kurikulum dibanding memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan mengelola emosi.
Ia menyebut pendidikan sejatinya memadukan dua aspek, yakni knowledge dan value. Namun, praktik pendidikan di Indonesia dinilai lebih menitikberatkan pada aspek pengetahuan dibanding pembentukan nilai.
Selain itu, hubungan antara lingkungan keluarga dan sekolah juga dinilai belum berjalan secara berkesinambungan.
"Sejak kecil, kita tidak pernah diajari mengelola emosi itu karena apa? orangtua maunya yang normatif-normatif saja, kotbah-kotbah moral bahkan dengan dalil-dalil keagamaan kita," ujarnya.
Tripusat Pendidikan Perlu Diperkuat
Abe menegaskan pembenahan sistem pendidikan tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah harus bersama-sama membangun sistem pendidikan yang mengedepankan pendekatan cura personalis.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena setiap anak memiliki karakter, pengalaman hidup, dan kebutuhan yang berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan dengan pola yang seragam.
"Tantangannya adalah bagaimana tripusat pendidikan dan pemerintah dapat membangun sistem yang lebih cura personalis. Tidak ada treatment yang general dalam pendidikan. Kalau ada penyeragaman, berarti itu bentuk kekerasan," tukasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































