Stok Pencegat Rudal Israel Menipis

6 hours ago 4

Harianjogja.com, JOGJA—Kapasitas pertahanan udara Israel dilaporkan berada di bawah tekanan berat setelah stok pencegat rudal balistik jarak jauh disebut mulai menipis. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan yang dilancarkan Iran selama beberapa pekan terakhir.

Laporan terbaru menyebutkan pemerintah Israel bahkan telah memberi tahu Amerika Serikat mengenai keterbatasan amunisi pencegat tersebut, memicu kekhawatiran terhadap kemampuan sistem pertahanan udara negara itu dalam menghadapi serangan berkelanjutan.

Mengutip laporan Anadolu Agency pada Minggu (15/3/2026), Israel disebut telah menyampaikan informasi resmi terkait kondisi stok pencegat rudalnya kepada pemerintah Amerika Serikat pada awal pekan ini.

Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh media Semafor yang mengutip pernyataan seorang pejabat tinggi Amerika Serikat yang tidak disebutkan identitasnya.

Sistem pertahanan jarak jauh Israel dilaporkan kini menghadapi tekanan ekstrem akibat intensitas serangan yang meningkat. Sebelumnya, laporan dari CNN menyebut Iran telah meningkatkan daya gempur dengan menambahkan amunisi kluster pada sejumlah rudal yang digunakan dalam serangan.

Strategi tersebut dinilai membuat sistem pertahanan udara Israel harus bekerja lebih keras untuk mencegat serangan yang datang secara bertubi-tubi.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan Washington sebenarnya telah memantau keterbatasan kapasitas pencegat rudal Israel sejak beberapa bulan terakhir. Pemerintah AS disebut telah melakukan sejumlah langkah antisipasi terkait potensi melemahnya kemampuan pertahanan sekutunya tersebut.

Meski demikian, pejabat tersebut menegaskan kondisi pertahanan Amerika Serikat saat ini masih berada dalam posisi yang lebih stabil dibandingkan dengan Israel.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam sejak serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut memicu eskalasi konflik yang meluas di kawasan.

Dalam laporan yang beredar, serangan awal tersebut disebut menewaskan sedikitnya 1.300 orang di Iran, termasuk Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran kemudian melancarkan serangan drone dan rudal berskala besar yang menargetkan sejumlah wilayah di Israel serta beberapa negara lain seperti Yordania dan Irak, termasuk lokasi yang menjadi basis aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Situasi ini memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah serta potensi eskalasi konflik yang lebih luas apabila serangan balasan terus berlanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|