Tak Hanya Minyak, 9 Barang Ini Ikut Kena 'Kiamat' Gegara Perang Iran

11 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan yang terus memuncak di Timur Tengah telah memicu krisis pengapalan di Selat Hormuz yang kini dinobatkan sebagai gangguan pasokan paling mengerikan dalam sejarah pasar energi dan komoditas global. Pemblokiran jalur vital ini tidak hanya mengancam stok minyak, tetapi juga memicu efek domino yang melumpuhkan rantai pasok pangan hingga teknologi tinggi di berbagai belahan dunia.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol mengungkapkan bahwa situasi ini merupakan fenomena luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Krisis pengapalan di Selat Hormuz saat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," ujar Birol mengutip World Economic Forum (WEF) pada Minggu, (05/04/2026).

Meskipun perhatian dunia tertuju pada 11 juta barel minyak dan 140 miliar meter kubik gas yang mengalir setiap hari, dampak nyatanya meluas jauh melampaui sektor energi. Konflik di Iran mengekspos kerentanan mendalam terkait peran Timur Tengah sebagai pemasok utama komoditas non-minyak, mulai dari pupuk hingga mineral transisi energi.

1. Pupuk (Urea dan Amonia)

Kawasan Teluk Arab merupakan pusat utama pertanian global yang menyumbang setidaknya 20% dari seluruh ekspor pupuk jalur laut. Ketergantungan dunia bahkan lebih akut pada urea, jenis pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan, di mana 46% perdagangan global berasal dari wilayah ini.

Pasokan ini sangat krusial bagi ekonomi pertanian besar seperti India, Brasil, dan China. Analis memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan akan memperketat ketersediaan di wilayah-wilayah yang bergantung pada impor, yang berpotensi melambungkan biaya produksi pangan global serta meningkatkan tekanan inflasi.

2. Sulfur

Sulfur, material energi kritis yang merupakan produk sampingan penyulingan minyak dan gas, kini berada di titik nadir karena operasional kilang terhenti. Hampir setengah dari perdagangan sulfur laut global melewati Selat Hormuz, menjadikan kawasan ini sebagai penentu harga dunia untuk komoditas tersebut.

Kelangkaan sulfur memaksa perlambatan industri di pusat-pusat manufaktur seperti Indonesia dan wilayah sabuk tembaga di Afrika. Sebagai bahan baku asam sulfat, sulfur sangat dibutuhkan untuk proses pemurnian nikel dan kobalt untuk baterai kendaraan listrik (EV), serta sebagai reagen utama pupuk fosfat.

3. Metanol

Sekitar sepertiga perdagangan metanol jalur laut dunia melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan ini memperketat pasokan bahan baku kimia untuk resin, pelapis, dan plastik. Dampaknya akan sangat terasa pada seluruh rantai nilai kimia secara global.

Situasi ini sangat signifikan bagi China sebagai pembeli metanol terbesar di dunia. Persediaan di pelabuhan-pelabuhan Tiongkok dikhawatirkan jatuh ke bawah ambang batas peringatan jika ekspor dari Timur Tengah tetap terhenti, yang pada akhirnya akan mengerek biaya produsen plastik, cat, dan serat sintetis.

4. Bahan Baku Grafit

Produksi grafit sintetis untuk anoda baterai kendaraan listrik sangat bergantung pada kokas minyak bumi (petroleum coke) yang merupakan produk sampingan penyulingan minyak. Dampak pada harga grafit diprediksi bisa lebih parah dibandingkan material baterai lainnya karena kilang minyak kemungkinan lebih memilih fokus pada output bernilai lebih tinggi saat harga melonjak.

Dengan biaya pengiriman yang juga meroket, harga grafit alam menghadapi tekanan tambahan. Hal ini menambah beban berat pada biaya baterai EV yang sebelumnya sudah tertekan oleh gangguan pasokan nikel, kobalt, dan sulfur.

5. Aluminium

Timur Tengah adalah pemasok utama aluminium primer di luar China dengan kontribusi sekitar 9% dari produksi dunia. Saat ini, pasokan dari pabrik peleburan (smelter) di kawasan Teluk sangat terbatas akibat konflik yang terjadi.

Lebih dari 150.000 ton logam yang terdaftar di London Metal Exchange telah ditarik dari gudang, mencerminkan besarnya gangguan pada ekspor regional. Mengingat aluminium digunakan secara luas dalam konstruksi dan energi terbarukan, pasar sangat sensitif terhadap tekanan pasokan dari Teluk.

6. Helium

Qatar memegang peranan vital dengan memasok hampir sepertiga kebutuhan helium dunia. Pengetatan pasokan helium kini mulai merembet ke rantai pasok teknologi global, terutama dalam manufaktur semikonduktor yang membutuhkan suhu ultra-rendah.

Namun, kekhawatiran terbesar muncul dari sektor kesehatan di mana mesin MRI sangat bergantung pada helium cair untuk mendinginkan magnet superkonduktornya. Tanpa pasokan helium yang stabil, mesin-mesin MRI di berbagai rumah sakit tidak akan dapat beroperasi secara normal.

7. Glikol (MEG)

Monoetilen glikol (MEG), bahan utama serat poliester dan kemasan, merupakan salah satu ekspor kimia paling signifikan dari Teluk dengan volume mencapai 6,5 juta ton pada tahun 2025. China sebagai konsumen terbesar menghadapi kelangkaan akut, diikuti oleh importir utama lainnya seperti India, Indonesia, Vietnam, dan Thailand.

Kondisi ini memaksa pembeli di Asia beralih ke pemasok alternatif di Amerika Serikat. Pergeseran rute ini dipastikan akan mendorong harga lebih tinggi di pasar yang sebelumnya sempat mengalami kelebihan pasokan dan diskon besar-besaran.

8. Bijih Besi dan Pelet Baja

Kawasan Teluk merupakan pemasok signifikan bijih besi tingkat tinggi dan direct-reduced iron untuk industri baja global. Pemilik kapal mulai menghindari Selat Hormuz segera setelah konflik eskalasi, yang membuat pencarian armada menjadi sangat sulit.

Para pembeli di Asia dan India mulai menghentikan pengadaan baru karena ketidakpastian pengiriman. Waktu transit yang lebih lama dan lonjakan biaya logistik mulai merembet ke industri baja yang selama ini sudah beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis.

9. Infrastruktur Hidrogen Hijau

Meski krisis ini mungkin mempercepat transisi ke energi bersih dalam jangka panjang, ketidakpastian saat ini justru mengancam jadwal proyek hidrogen hijau. Timur Tengah sebelumnya diposisikan sebagai hub hidrogen hijau masa depan dengan rencana kapasitas elektroliser yang masif.

Instabilitas yang sedang berlangsung serta ketidakpastian rute pengapalan dapat memperlambat laju pengembangan dan skala produksi. Sebagaimana tercatat dalam Laporan Risiko Global Forum Ekonomi Dunia 2026, konfrontasi geoekonomi kini menjadi penggerak utama kebijakan ekonomi di mana ketahanan akses terhadap input kritis kini dianggap sebagai masalah keamanan nasional.

(tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|