Jakarta, CNBC Indonesia - Thailand mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas ekspor durian. Teknologi ini digunakan untuk mengecek tingkat kematangan buah hingga memilah durian berdasarkan berat secara lebih akurat.
Langkah tersebut dilakukan pemerintah Thailand melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Riset, dan Inovasi (MHESI). Negeri Gajah Putih itu kini mendorong penggunaan sains dan teknologi canggih demi memperkuat industri durian nasional, mulai dari standar ekspor hingga pengolahan hasil panen.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri MHESI Yodchanan Wongsawat mengatakan, durian tidak boleh lagi dipandang sekadar buah biasa, melainkan produk pertanian bernilai tinggi yang masih punya peluang besar untuk dikembangkan.
"Melihat siklus durian secara lengkap, mulai dari pengelolaan varietas hulu hingga pengolahan tingkat lanjut, telah memperkuat keyakinannya bahwa sains dan inovasi tidak lagi terbatas pada laboratorium, tetapi sekarang digunakan langsung di kebun petani," kata Yodchanan dikutip dari Strait Times, Sabtu (23/5/2026).
Saat mengunjungi Provinsi Chanthaburi, pusat produksi durian Thailand, Yodchanan melihat langsung penerapan teknologi di sektor perkebunan hingga pengolahan buah untuk memperkuat rantai pasok ekspor. Dalam proyek pengembangan ini, Thailand fokus pada lima strategi utama untuk meningkatkan daya saing industri durian.
Pertama, penggunaan AI di rumah pengemasan buah modern. Operator swasta di Thailand mulai memakai AI untuk mendeteksi tingkat kematangan durian dan memilah buah berdasarkan kelompok berat secara lebih presisi.
Selain itu, Thailand juga memakai fasilitas pengolahan berstandar internasional seperti teknologi freeze-drying dan vacuum frying untuk meningkatkan kualitas produk olahan durian.
Kedua, Thailand memanfaatkan teknologi nuklir untuk mendukung ekspor buah. Sinar-X dengan dosis tertentu digunakan untuk memperpanjang masa simpan, memperlambat pematangan, dan membasmi hama karantina agar durian memenuhi standar ketat di pasar ekspor seperti Amerika Serikat dan China.
Pemerintah Thailand juga mengembangkan teknologi sinar gamma untuk mensterilkan lalat buah. Program yang diuji coba di Chanthaburi selama lebih dari 20 tahun itu disebut mampu mengurangi penggunaan bahan kimia sekaligus menekan biaya petani.
Ketiga, Thailand mulai mengembangkan metode pemeriksaan kualitas tanpa merusak buah. Teknologi berbasis frekuensi dipakai untuk mendeteksi apakah durian sudah matang atau masih muda, sekaligus menghitung kandungan air dan berat daging buah secara lebih akurat.
Cara ini perlahan menggantikan metode tradisional mengetuk kulit durian menggunakan tongkat. Thailand berharap metode ilmiah tersebut bisa diterima secara internasional sebagai standar kualitas baru.
Keempat, Thailand juga mengembangkan konsep ekonomi sirkular dari limbah kulit durian. Institut riset dan jaringan universitas di negara itu berhasil mengekstrak serat dan selulosa berkualitas tinggi dari kulit durian yang sebelumnya dibuang begitu saja.
Material tersebut kini bisa diolah menjadi bubur kertas premium, kemasan ramah lingkungan, hingga panel furnitur berkelanjutan untuk membantu mengurangi jejak karbon.
Kelima, Thailand mulai mengembangkan produk minuman berbahan dasar durian, seperti jus durian siap minum dan bubuk durian untuk minuman, dengan tetap mempertahankan aroma khas buah tersebut.
"Memadukan sains dengan sumber daya yang sudah kami miliki tidak hanya akan meningkatkan nilai durian, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup petani dan membantu Thailand menjadi pusat inovasi buah berkelanjutan," kata Yodchanan.
(haa/haa)
Addsource on Google


















































