
Kebakaran hutan - Harian Jogja/dok
Harianjogja.com, SLEMAN—Tren kebakaran lahan di Kabupaten Sleman selama sembilan tahun terakhir menunjukkan pola yang fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Data Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Sleman mencatat, jumlah kebakaran lahan sempat mencapai puncaknya pada 2023 dengan 156 kejadian sebelum kembali menurun dalam tiga tahun berikutnya.
Sepanjang periode 2017 hingga Semester I 2026, tercatat sebanyak 371 kebakaran lahan terjadi di Sleman atau rata-rata sekitar 37 kejadian setiap tahun. Pada 2017, jumlah kebakaran lahan tercatat delapan kasus, kemudian meningkat menjadi 24 kasus pada 2018 dan 68 kasus pada 2019.
Angka tersebut turun menjadi 10 kasus pada 2020, enam kasus pada 2021, dan tujuh kasus pada 2022. Namun, pada 2023 terjadi lonjakan signifikan hingga mencapai 156 kejadian. Setelah itu, jumlah kasus kembali menurun menjadi 51 kejadian pada 2024, 32 kejadian pada 2025, dan hingga Semester I 2026 tercatat sembilan kasus.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Sleman, Gunardi, mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa kejadian kebakaran lahan di Sleman bersifat fluktuatif dari tahun ke tahun. Menurutnya, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi potensi terjadinya kebakaran lahan, terutama saat musim kemarau.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Sleman, Indra Darmawan, menjelaskan lonjakan kasus pada 2023 dipicu oleh musim kemarau panjang yang menyebabkan vegetasi mengering sehingga lebih mudah terbakar.
"Tahun 2023 itu kemarau panjang seperti tahun ini. Jadi ketika data menunjukkan ada penurunan kasus karena sudah tidak kemarau panjang. Selain itu kami melakukan peningkatan usaha pencegahan melalui peningkatan pengetahuan kepada masyarakat terhadap bahaya kebakaran dan usaha antisipasi pada kebakaran," kata Indra dihubungi, Rabu (29/7/2026).
Menurut Indra, kondisi cuaca yang panas dan kering menjadi faktor utama yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran lahan. Meski demikian, sebagian besar kejadian kebakaran tetap dipicu oleh aktivitas manusia.
"Jadi memang kondisi cuaca yang panas dan kering sangat berpengaruh terhadap meningkatnya potensi timbulnya kebakaran. Perilaku manusia ikut meningkatkan potensi," katanya.
Ia mengakui jumlah kebakaran lahan berpotensi meningkat pada tahun ini seiring prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Namun, Satpol PP Sleman berharap jumlah kejadian tidak kembali melonjak seperti yang terjadi pada 2023 karena upaya edukasi dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai bahaya kebakaran terus dilakukan.
"Ada kemungkinan kasus kebakaran meningkat pada tahun ini soalnya musim kemarau diprediksi lebih panjang dan kering. Tapi kami berharap tidak seperti ketika tahun 2023. Pemahaman masyarakat terkait bahaya kebakaran sudah meningkat juga kan," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































