Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan akan melantik Kevin Warsh, sosok pilihan pribadinya untuk memimpin bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), dalam sebuah upacara resmi pada hari Jumat, 22 Mei 2026 mendatang. Langkah ini dipastikan akan mengakhiri proses panjang yang telah bergulir sejak pertengahan tahun lalu.
Mengutip laporan CNBC International Selasa (19/5/2026), seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi jadwal pelantikan tersebut setelah melalui proses politik yang ketat. Keterangan dari pihak istana kepresidenan AS itu memastikan bahwa seluruh rangkaian penunjukan sang ketua baru kini telah mencapai babak akhir.
Pejabat Gedung Putih membeberkan bahwa agenda seremonial pengukuhan tersebut siap dilaksanakan sesuai rencana dalam pekan ini. "Presiden Donald Trump akan melantik Kevin Warsh, pilihan yang ditunjuk langsung olehnya untuk memimpin The Fed, dalam sebuah upacara pada hari Jumat," ujar seorang pejabat Gedung Putih, Senin waktu setempat.
Langkah pelantikan akan merampungkan proses birokrasi yang melelahkan, yang mana pertama kali dimulai sejak musim panas tahun 2025 silam. Proses tersebut akhirnya memuncak pada pekan lalu ketika Senat AS memberikan konfirmasi persetujuan terhadap Warsh melalui pemungutan suara yang hampir sepenuhnya terbelah berdasarkan garis kebijakan partai politik.
Ketua baru yang berusia 56 tahun tersebut akan menggantikan posisi Jerome Powell, sosok pemimpin bank sentral sebelumnya yang masa jabatannya secara resmi telah berakhir pada hari Jumat lalu. Meskipun demikian, Powell tercatat masih terus menjalankan tugas-tugas kepemimpinan di bank sentral dengan status pro-tempore atau sementara waktu sampai Warsh secara resmi mengambil alih seluruh kendali operasional organisasi.
Begitu resmi menduduki kursi kepemimpinan, Warsh akan mencatatkan namanya sebagai ketua ke-11 The Fed di era modern. Ia juga menjadi orang paling kaya yang pernah memegang jabatan prestisius tersebut sepanjang sejarah AS, dengan kekayaan sekitar antara US$ 170 juta (Rp 3 triliun) dan US$ 226 juta (Rp 3,9 triliun).
Sebagai konsekuensinya, ia diwajibkan untuk mendivestasikan atau melepaskan sebagian besar portofolio investasi yang telah dikumpulkannya selama ini. Hal tersebut penting demi mematuhi regulasi baru yang sangat ketat bagi para pejabat tinggi di lingkungan The Fed.
Upacara pelantikan pada hari Jumat diprediksi memiliki makna politis yang sangat mendalam, mengingat Trump tidak hanya sekadar menominasikan Warsh ke posisi tersebut. Sang presiden memilihnya dengan membawa ekspektasi besar bahwa kepengurusan The Fed pasca-era kepemimpinan Powell akan segera melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga acuan secara agresif, sebagaimana yang sempat mereka lakukan sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2025 lalu.
Kendati demikian, pelaku pasar keuangan saat ini justru memproyeksikan bahwa tingkat inflasi yang masih membumbung tinggi disertai dengan kondisi pasar tenaga kerja yang stabil kemungkinan besar akan menghambat rencana pelonggaran moneter lebih lanjut dalam waktu dekat. Bank sentral diperkirakan baru akan bergerak melunakkan kebijakan setelah terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa laju kenaikan harga barang di tingkat konsumen benar-benar telah kembali bergerak turun menuju target jangka panjang bank sentral yang dipatok sebesar 2%.
Tantangan inflasi ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi kepemimpinan baru, mengingat Powell sebelumnya menakhodai sebuah bank sentral yang dinilai tidak mampu memenuhi target stabilitas harga tersebut. Di bawah kendali kepemimpinan Powell, institusi keuangan paling berpengaruh di dunia itu tercatat telah gagal mencapai target inflasi 2% tersebut selama lebih dari lima tahun berturut-turut.
(sef/sef)
Addsource on Google

















































