Trump Klaim Negosiasi Damai-Iran Bantah Total, Siapa yang Bohong?

4 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakselarasan pernyataan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pejabat tinggi Iran memunculkan tanda tanya besar mengenai klaim adanya negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir sebulan.

Trump bersikeras pembicaraan berlangsung "produktif", sementara Teheran berulang kali membantahnya, memperlihatkan perbedaan narasi di tengah konflik yang juga melibatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam situasi yang dipenuhi narasi perang dan propaganda dari berbagai pihak, sulit memastikan pihak mana yang benar. Namun, melihat kepentingan masing-masing pihak terhadap kemungkinan negosiasi maupun penghentian konflik dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas.

Trump mengatakan terdapat "poin-poin kesepakatan utama" setelah pembicaraan yang ia sebut "sangat baik" dengan seorang pejabat tinggi Iran yang tidak disebutkan namanya. Pernyataan itu muncul saat pasar saham AS dibuka pada awal pekan perdagangan. Tenggat waktu lima hari yang ia berikan kepada Iran untuk memberikan respons positif juga bertepatan dengan akhir pekan perdagangan.

Sejumlah pengamat menyoroti waktu tersebut secara sinis, terutama setelah harga minyak berfluktuasi selama dua pekan terakhir mengikuti perkembangan di Timur Tengah dan sempat mencapai sekitar US$120 per barel pada pekan sebelumnya.

Pernyataan Trump tentang negosiasi juga dinilai dapat memberikan waktu bagi lebih banyak pasukan AS untuk tiba di Timur Tengah, jika Washington memutuskan melakukan invasi darat ke wilayah Iran.

Salah satu tokoh yang mempertanyakan motif Trump adalah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia membantah adanya pembicaraan tersebut dan menuding klaim negosiasi sebagai upaya manipulasi pasar.

"Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan Amerika Serikat, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari kubangan yang menjebak Amerika Serikat dan Israel," tulis Ghalibaf di media sosial, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Rabu (25/3/2026).

Kepentingan Amerika Serikat

Perbedaan narasi tersebut membuat komentar publik sulit dijadikan indikator apakah negosiasi benar-benar terjadi atau tidak. Situasi ini kemudian mengarah pada analisis mengenai kepentingan masing-masing pihak dalam melanjutkan perang atau mengakhirinya.

Trump dinilai meremehkan konsekuensi konflik yang ia mulai bersama Netanyahu pada 28 Februari, termasuk kemampuan Iran bertahan dari serangan tanpa runtuh.

"Mereka seharusnya tidak menyerang semua negara lain di Timur Tengah... Tidak ada yang mengharapkan itu," kata Trump pekan lalu.

Ia menambahkan bahwa bahkan "para ahli terbesar" tidak memperkirakan perkembangan tersebut.

Padahal, sejumlah ahli termasuk pejabat intelijen AS sebelumnya telah memperingatkan risiko tersebut. Namun, perkembangan di lapangan kini membuat Trump menghadapi konsekuensi yang sebelumnya diabaikan.

Meskipun sebagian sekutu mendorong kelanjutan konflik, Trump dikenal bersedia membuat kesepakatan untuk keluar dari situasi sulit. Dalam konteks ini, mengakhiri perang dinilai juga memberikan keuntungan politik dan ekonomi.

Presiden AS itu telah memerintahkan pemerintahannya untuk memberikan pengecualian sanksi sementara terhadap sebagian minyak Iran guna menenangkan harga minyak. Ini menjadi pertama kalinya sejak 2019 Washington memberikan pelonggaran terhadap minyak Iran.

Langkah tersebut juga dipandang sebagai respons terhadap strategi Iran memperluas konflik ke kawasan Teluk dan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Perang tersebut sejak awal sejatinya tidak populer di AS, dan makin tidak disukai ketika konsumen mulai merasakan dampak pada harga bahan bakar dan sektor ekonomi lain. Situasi ini terjadi menjelang pemilihan Kongres akhir tahun ini, di mana Partai Republik yang dipimpin Trump diperkirakan menghadapi tantangan.

Trump kini menghadapi dua pilihan, yakni memperpanjang perang dengan konsekuensi ekonomi dan politik, atau mengakhirinya dan menghadapi kritik karena tidak mampu menuntaskan apa yang ia sebut sebagai "operasi jangka pendek".

Perspektif Iran

Namun keputusan tersebut tidak sepenuhnya berada di tangan Trump. Iran, yang diserang untuk kedua kalinya dalam kurang dari setahun, dinilai memiliki insentif lebih kecil untuk mengakhiri perang tanpa adanya pencegah efektif terhadap serangan di masa depan.

Pendekatan Iran juga terlihat berubah. Serangan yang sebelumnya terbatas kini digantikan dengan taktik yang lebih agresif, menunjukkan Teheran tidak lagi terlalu fokus pada penahanan eskalasi.

Dalam kondisi ini, sebagian analis menilai Iran mungkin diuntungkan jika konflik berlarut-larut untuk meningkatkan tekanan di kawasan dan memastikan kelangsungan negara.

Ada pula anggapan bahwa stok pencegat rudal Israel mulai menipis, yang memungkinkan Iran menyerang target secara lebih efektif. Kalangan garis keras di Iran diyakini melihat kondisi tersebut sebagai alasan untuk melanjutkan konflik agar sistem pertahanan Israel tidak sempat dipulihkan.

Namun Iran juga menghadapi kerugian besar. Pemerintah menyebut lebih dari 1.500 orang telah tewas di seluruh negeri. Infrastruktur mengalami kerusakan berat, dan jaringan listrik berpotensi menjadi sasaran berikutnya.

Hubungan Iran dengan negara-negara Teluk juga memburuk tajam, dan setelah serangan berulang dari Teheran, hubungan tersebut diperkirakan sulit kembali seperti sebelum konflik.

Di sisi lain, kelompok moderat di Iran menilai situasi masih bisa memburuk. Mereka berpendapat bahwa tingkat pencegahan tertentu telah tercapai dan waktu untuk membuka pembicaraan mungkin telah tiba.

Jika konsesi dapat diperoleh, seperti janji tidak ada serangan di masa depan atau kewenangan lebih besar di Selat Hormuz, mereka dapat menilai momentum untuk mencapai kesepakatan sudah terbentuk.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|