
Sekrataris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta saat membuka workshop peningkatan kapasitas pengelola UNESCO Global Geopark Gunungsewu bertajuk Memahami Geologi Membangun Ketangguhan dan Menjaga Sumber Daya Karst untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Ruang Rapat Handayani, Setda Gunungkidul, Kamis (27/8)./ Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Status UNESCO Global Geopark (UGG) Gunungsewu akan menjalani revalidasi pada 2027. Pemkab Gunungkidul bersama pemerintah daerah di wilayah Gunungsewu mulai mempersiapkan penilaian tersebut dengan memperbaiki sejumlah catatan hasil evaluasi sebelumnya.
Sekretaris Daerah Gunungkidul Sri Suhartanta mengatakan revalidasi UGG Gunungsewu dilakukan setiap empat tahun. Penilaian terakhir berlangsung pada 2023 sehingga evaluasi berikutnya dijadwalkan pada 2027.
Pemerintah daerah berharap status UGG Gunungsewu dapat dipertahankan untuk ketiga kalinya. Untuk mencapai target tersebut, persiapan dilakukan sejak tahun ini melalui tahapan pra-revalidasi.
“Koordinasi juga melibatkan Pemerintah DIY, Pemprov Jawa Tengah dan Jawa Timur karena keberadaan Geopark Gunungsewu berada di tiga kabupaten dan tiga provinsi,” kata Sri Suhartanta, Kamis (27/8/2026).
Catatan Revalidasi 2023 Mulai Diperbaiki
Gunungsewu merupakan geopark yang mencakup wilayah Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Wonogiri di Jawa Tengah, dan Pacitan di Jawa Timur. Karena cakupan wilayahnya lintas provinsi, persiapan revalidasi membutuhkan koordinasi antarpemerintah daerah.
Sri mengatakan hasil penilaian pada 2023 menghasilkan sejumlah catatan yang harus ditindaklanjuti. Beberapa di antaranya berkaitan dengan boundaries, visibility, infrastructure, dan facilities.
Selain itu, terdapat catatan mengenai pengembangan geotourism, sustainable development, partnership, dan networking.
Catatan tersebut menjadi salah satu fokus persiapan sebelum tim UNESCO melakukan penilaian ulang. Pemerintah daerah bersama pengelola perlu memastikan berbagai rekomendasi tersebut telah ditindaklanjuti.
“Poin penting dalam tindaklanjut mengenai peningkatan kapasitas dan pemahaman pengelola berkaitan dengan geopark,” katanya.
Pengelola Ikuti Workshop Pra-Revalidasi
Salah satu persiapan dilakukan melalui workshop peningkatan kapasitas pengelola UNESCO Global Geopark Gunungsewu. Kegiatan bertajuk “Memahami Geologi Membangun Ketangguhan dan Menjaga Sumber Daya Karst untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan” tersebut digelar di Ruang Handayani, Setda Gunungkidul, Kamis (27/8/2026).
Sri menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tahapan pra-revalidasi. Workshop diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus pemahaman pengelola mengenai geopark.
Persiapan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan berbagai dokumen dan dokumentasi yang nantinya dibutuhkan dalam proses penilaian oleh UNESCO.
Meski revalidasi baru berlangsung tahun depan, proses persiapannya dinilai perlu dilakukan sejak jauh hari. Catatan yang muncul dalam evaluasi 2023 juga harus diperbaiki agar tidak kembali menjadi persoalan dalam penilaian berikutnya.
“Sudah dimulai dan catatan-catatan yang diberikan di 2023 juga harus diperbaiki agar status UGG dapat dipertahankan,” ujar Sri.
Libatkan Tiga Kabupaten dan Tiga Provinsi
Pelaksana Tugas Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperinda) Gunungkidul M Johan Prasetyo mengatakan pengelola yang tergabung dalam Kesekretariatan Pawonsari berkomitmen mempertahankan status UGG Gunungsewu.
Menurut dia, workshop menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi rangkaian persiapan revalidasi. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan pengelola menghadapi validasi ulang status keanggotaan UGG pada 2027.
Pengelolaan Gunungsewu tidak berhenti pada upaya mempertahankan status UNESCO. Pemerintah daerah juga mendorong agar keberadaan geopark memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di wilayah tersebut.
M Johan berharap pengelolaan Geopark Gunungsewu dapat dilakukan secara berkelanjutan. Geopark diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan untuk pelestarian dan edukasi, tetapi juga mendukung perekonomian masyarakat sekaligus menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana.
“Jadi tidak hanya untuk pelesetarian maupun edukasi, tapi juga ada manfaatnya ke masyarakat serta sebagai upaya mitigasi kebencanaan,” katanya.
Dengan waktu revalidasi yang semakin dekat, perbaikan catatan evaluasi 2023 menjadi pekerjaan penting bagi pengelola Gunungsewu. Koordinasi lintas wilayah dan peningkatan kapasitas pengelola diharapkan dapat memperkuat kesiapan Gunungsewu untuk mempertahankan status UGG pada penilaian 2027.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































