Veto Rusia-China, Perang AS-Iran dan Alasan Mengapa Dunia Kini Menanti 'Hari Neraka'

2 hours ago 1

Oleh : Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institutte dan Wakil Ketua Komisi HLNKI-MUI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran, dunia seakan berdiri di tepi jurang. Ancaman yang dilontarkan Donald Trump tentang serangan besar-besaran, yang oleh sebagian analis disebut sebagai “Hari Neraka” bukan sekadar retorika militer.

Ia menggambarkan kemungkinan kehancuran sistemik: pemadaman listrik total, lumpuhnya suplai air, dan kolapsnya kehidupan sipil dalam hitungan hari.

Ancaman ini muncul bukan dalam ruang kosong. Ia lahir dari kebuntuan panjang di meja negosiasi. Setelah perang selama lebih dari 40 hari, kedua pihak justru datang dengan tuntutan yang saling bertolak belakang.

Amerika Serikat mengajukan paket tuntutan keras yang pada intinya meminta Iran menghentikan seluruh program nuklirnya, membuka akses inspeksi penuh, membatasi kemampuan rudal, serta memutus dukungan terhadap jaringan sekutu regional.

Sebaliknya, Iran datang dengan tuntutan yang tidak kalah besar: penghentian total agresi, pencabutan sanksi, kompensasi perang, pengakuan atas perannya di Selat Hormuz, hingga penarikan militer Amerika dari kawasan.

Perbedaan ini bukan sekadar teknis, melainkan mencerminkan dua visi dunia yang saling bertabrakan. Bagi Washington, ini adalah upaya menjaga dominasi dan keamanan sekutu. Bagi Teheran, ini adalah pertarungan eksistensial untuk mempertahankan kedaulatan.

Kebuntuan ini semakin diperparah oleh kegagalan diplomasi global. Upaya Amerika Serikat untuk mendapatkan legitimasi melalui Dewan Keamanan PBB, terutama untuk mengamankan jalur energi di Selat Hormuz, kandas setelah Rusia dan China menggunakan hak veto mereka.

Resolusi yang diharapkan menjadi dasar intervensi internasional runtuh sebelum sempat dijalankan. Ini menunjukkan bahwa dunia tidak lagi berada dalam satu poros kekuatan tunggal. Bahkan lembaga global seperti PBB pun tidak mampu menjadi penengah efektif dalam konflik sebesar ini.

Dalam situasi seperti ini, ancaman “Hari Neraka” menjadi opsi terakhir, sebuah jalan militer sepihak yang berisiko memicu kehancuran jauh lebih luas. Terlebih ketika konflik telah menyentuh titik sensitif: bukan lagi sekadar minyak, tetapi air.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|