Jakarta, CNBC Indonesia- Serangan udara Amerika Serikat dan sekutunya Israel ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 memicu ketegangan di Timur Tengah.
Iran membalas serangan yang menyasar Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk termasuk di Bahrain, Irak, Uni Emirat Arab hingga Kuwait dan Qatar. Efeknya kawasan Timur Tengah termasuk Arab Saudi mengalami ketegangan, bahkan aktivitas di sejumlah bandara dihentikan akibat penutupan jalur penerbangan internasional.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan In-Bound Indonesia (Asphurindo), M. Iqbal Muhajir mengkonfirmasi adanya dampak penutupan jalur penerbangan di Timur Tengah pada kegiatan Umrah utamanya terkait penerbangan transit di negara yang miliki pangkalan udara AS. Namun saat ini Pemerintah Arab Saudi memastikan keamanan jamaah umrah dan Haji mendatang.
Sementara dari pemerintah RI melalui Kementerian Haji dan Umrah meminta kepada penyelenggara umrah nasional untuk menunda sementara keberangkatan jamaah umrah hingga kondisi lebih kondusif. Di sisi lain, jika pelaksanaan umrah ditunda maka akan menimbulkan kerugian karena biaya booking hotel dan akomodasi tidak bisa dibatalkan.
Menghadapi hal ini, penggunaan maskapai atau penerbangan direct atau tanpa transit di negara yang mengalami serangan rudal Iran menjadi pilihan untuk dapat terus menjalankan ibadah umrah.
Hingga 4 Maret 2026, ada sebanyak 58 ribu jemaah yang masih terjebak di Arab Saudi namun asosiasi haji dan Umrah mengusulkan untuk carter pesawat sebagai solusi untuk mengangkat jamaah kembali pulang ke Tanah Air.
Selengkapnya simak dialog Bunga Cinka dengan Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan In-Bound Indonesia (Asphurindo), M. Iqbal Muhajir di Nation Hub,CNBCIndonesia (Kamis, 06/03/2026)
Add
source on Google


















































