Wamendikdasmen Groundbreaking TK Aisyiyah Pembina Unit 2 Banguntapan

7 hours ago 7

Wamendikdasmen Groundbreaking TK Aisyiyah Pembina Unit 2 Banguntapan

Wamendikdasmen Fajar Riza melakukan groundbreaking TK Aisyiyah Pembina Unit 2 di Banguntapan, Bantul sebagai komitmen pemerataan akses pendidikan. /Istimewa.

Harianjogja.com, BANTUL—Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq melakukan groundbreaking pembangunan TK Aisyiyah Pembina Unit 2 di Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Bantul, Kamis (23/7/2026). Pembangunan taman kanak-kanak tersebut ditargetkan selesai dalam waktu tiga hingga empat bulan sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan anak usia dini yang bermutu.

Momentum peletakan batu pertama itu sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan dukungan yang setara kepada seluruh penyelenggara pendidikan, baik sekolah negeri maupun lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat.

Fajar menjelaskan, sebelum menghadiri agenda di Bantul, dirinya lebih dulu meresmikan laboratorium dan ruang teknologi informasi di salah satu pondok pesantren di Sleman. Fasilitas tersebut merupakan bantuan pemerintah yang direalisasikan pada 2025.

"Kalau tadi pagi meresmikan pembangunan yang sudah selesai, siang ini kita melakukan groundbreaking. Mudah-mudahan cepat selesai dalam tiga sampai empat bulan ke depan," katanya.

Fajar menuturkan, sejak mendapat mandat dari Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berkomitmen menghadirkan kesempatan yang sama bagi seluruh lembaga pendidikan tanpa membedakan status pengelolanya.

"Sejak kami diberikan mandat oleh Bapak Presiden Prabowo, kami memberikan perhatian yang sama. Tidak hanya untuk sekolah-sekolah negeri, tetapi juga sekolah yang diselenggarakan kelompok masyarakat, baik Muhammadiyah, NU, Persis, Taman Siswa, PGRI maupun yayasan lainnya. Mereka berhak mendapatkan akses yang sama. Ini adalah komitmen kami menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua," ujarnya.

Menurut dia, organisasi masyarakat telah memainkan peran penting dalam memperluas layanan pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, pemerintah menilai lembaga pendidikan swasta juga layak memperoleh dukungan agar kualitas layanan terus meningkat.

Kiprah Muhammadiyah dan Aisyiyah hingga Daerah Terpencil

Fajar mengungkapkan pengalaman saat berkunjung ke Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dalam kunjungan tersebut, ia menemukan sejumlah sekolah Muhammadiyah yang tetap memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak Suku Bajo.

Ia juga melihat fasilitas pendidikan di sekolah tersebut telah mengalami peningkatan setelah memperoleh program rehabilitasi pemerintah pada 2025. Kondisi itu, menurutnya, menunjukkan besarnya kontribusi organisasi masyarakat dalam memperluas jangkauan pendidikan nasional.

"Getaran dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah sudah terasa sampai ke ujung negeri. Tidak hanya di Jogja sebagai ibu kota Muhammadiyah, tetapi juga sampai ke Wakatobi yang menjadi kawasan tempat tinggal masyarakat Suku Bajo," katanya.

Fajar berharap pembangunan TK Aisyiyah Pembina Unit 2 di Potorono, Banguntapan, Bantul semakin memperkuat fondasi pendidikan anak usia dini. Ia juga menyinggung pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap pendidikan dalam keluarga.

"Ujung tombak pendidikan sebenarnya ada di keluarga. Masa depan pendidikan tidak hanya berada di sekolah formal maupun nonformal, tetapi juga bagaimana pola pengasuhan dalam keluarga dibangun dengan baik," ujarnya.

Ia juga mendorong seluruh sekolah swasta terus meningkatkan kualitas layanan agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi terhadap pendidikan.

Aisyiyah Siap Maksimalkan Amanah Pemerintah

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Latifah Iskandar, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap pembangunan TK Aisyiyah Pembina Unit 2 di Potorono, Banguntapan. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi amanah yang akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperluas layanan pendidikan anak usia dini.

"Kami bersyukur diberi amanah oleh pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Insyaallah amanah ini akan kami jalankan dengan semaksimal mungkin," kata Latifah.

Latifah mengatakan Aisyiyah memiliki tradisi gotong royong yang telah lama menjadi kekuatan dalam membangun amal usaha pendidikan. Semangat kebersamaan itu, menurutnya, membuat nilai bantuan yang diterima sering berkembang menjadi pembangunan dengan nilai yang lebih besar.

"Dalam sejarah pembangunan Aisyiyah, kalau diberi bantuan Rp50 juta, bangunannya bisa menjadi senilai Rp100 juta karena semangat kebersamaan dan gotong royong," ujarnya.

Ia berharap dukungan pemerintah terhadap pembangunan taman kanak-kanak tidak berhenti di Potorono, tetapi juga menjangkau daerah lain yang masih membutuhkan fasilitas pendidikan.

Keberadaan TK Aisyiyah Pembina Unit 2 nantinya diharapkan menjadi sarana pendidikan yang representatif sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat Potorono dan wilayah sekitarnya dalam memperluas akses pendidikan anak usia dini yang berkualitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|