Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso buka suara terkait masih maraknya penjualan pakaian dalam bekas impor yang diminati masyarakat. Ia menegaskan, pada prinsipnya impor pakaian bekas tetap dilarang, namun penertiban dilakukan secara bertahap.
"Ya kan bertahap ya, jadi kan pada prinsipnya memang baju bekas impor kan dilarang, tapi kan bertahap. Kalau kita lihat juga di teman-teman Bea Cukai kan juga terus melakukan pemeriksaan," kata Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Menurut Budi, pengawasan terhadap barang ilegal, termasuk pakaian bekas impor, juga dilakukan melalui mekanisme pengawasan setelah barang beredar di dalam negeri atau post-border.
"Ya itu tadi post-border ya, kita di post-border kita terus mengawasi barang-barang ilegal di post-border. Kalau yang bukan di post-border atau di border itu kan bukan kementerian kami," ujarnya.
Sebelumnya, pakaian bekas impor termasuk pakaian dalam diketahui masih banyak beredar di pasaran, dan bahkan diminati pembeli karena harganya yang sangat murah.
Salah satu sentra penjualan pakaian bekas yang ramai diserbu pembeli adalah Pasar Senen, Jakarta Pusat. Bahkan, gerai yang menjual pakaian dalam bekas justru lebih ramai dibandingkan gerai pakaian lain seperti kemeja, kaos, maupun jaket.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, Kamis (5/3/2026) sekitar pukul 12.00 WIB, sejumlah gerai pakaian bekas mulai dipadati pembeli. Gerai yang menjual pakaian dalam wanita dan pria terlihat paling ramai, terutama oleh pembeli perempuan yang datang untuk melihat-lihat sekaligus menanyakan harga.
Pakaian dalam wanita dipajang dengan cara digantung maupun ditumpuk. Harganya pun relatif murah. Celana dalam wanita dijual mulai dari Rp5.000 hingga Rp35.000 per buah. Sementara bra dibanderol mulai Rp15.000 hingga Rp35.000. Untuk celana dalam pria, harga berkisar Rp10.000 hingga Rp25.000, sedangkan jenis boxer dijual mulai Rp10.000.
Foto: Bra bekas impor laku dijual di Pasar Senen. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Bra bekas impor laku dijual di Pasar Senen. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Jordi, salah satu pedagang pakaian dalam bekas di Pasar Senen, mengatakan harga produk sangat bergantung pada ukuran dan desain.
"Kalau yang ditumpuk-tumpuk di depan, harganya ada yang Rp5.000, ada yang Rp10.000, termasuk bra dan celana dalam, kalau yang digantung, biasanya agak mahal dikit, Rp35.000," kata Jordi saat ditemui CNBC Indonesia, Kamis (5/3/2026).
Ia juga mengungkapkan sebagian besar pakaian dalam bekas yang dijual berasal dari Korea Selatan, serta sebagian lainnya dari Jepang.
"Kalau di sini sih bekasnya dari Korea Selatan ya kebanyakan, ada juga yang dari Jepang," lanjutnya.
Pedagang lain, Mamang, juga mengaku tokonya mulai ramai diserbu pembeli yang mencari pakaian dalam bekas.
Harga yang ditawarkan pun hampir sama, yakni mulai dari Rp5.000 untuk produk yang ditumpuk, hingga Rp35.000 untuk yang digantung.
"Yang di depan Rp5.000, kalau digantung Rp35.000, harga ya tergantung ukuran," kata Mamang.
Ia bahkan menyebut stok celana dalam pria di tokonya sempat habis terjual, sehingga saat ini hanya tersisa jenis boxer.
"Kalau yang boxer, ya Rp25.000, kalau yang celana dalam bukan segitiga, tapi juga bukan boxer, ya lebih murah, Rp15.000 saja," terang Mamang.
(wur)
Addsource on Google


















































