Waspada, Iklan Claude Palsu di Bing Sebarkan Malware Berbahaya

10 hours ago 6

Jumali

Jumali Jum'at, 24 Juli 2026 16:47 WIB

Waspada, Iklan Claude Palsu di Bing Sebarkan Malware Berbahaya

Ilustrasi serangan siber./Sputniknews

Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman siber kembali menyasar pengguna teknologi kecerdasan buatan (AI). Kali ini, kampanye malvertising atau iklan berbahaya ditemukan memanfaatkan mesin pencari Bing untuk menjebak pengguna yang ingin mengunduh aplikasi desktop Claude.

Temuan tersebut diungkap perusahaan keamanan siber Huntress yang menemukan operasi bernama FakeAgent pada 21–22 Juli 2026. Dalam periode singkat itu, sedikitnya 29 organisasi dilaporkan terdampak setelah perangkat mereka terinfeksi malware berbahaya bernama SectopRAT.

Modus yang digunakan tergolong cerdik karena pelaku memanfaatkan layanan resmi milik Anthropic, yakni fitur Artifact pada platform Claude.ai.

Fitur tersebut sebenarnya dirancang untuk memungkinkan pengguna membagikan halaman web, kode program, maupun konten lain melalui tautan publik. Namun dalam kasus ini, pelaku menyalahgunakannya untuk membuat halaman unduhan Claude palsu.

Karena halaman tersebut dihosting di domain resmi claude.ai, banyak korban menganggap situs yang mereka kunjungi benar-benar berasal dari pengembang resmi.

Meski terdapat keterangan kecil yang menyebutkan bahwa konten tersebut dibuat pengguna dan belum diverifikasi, peringatan itu dinilai mudah terlewat oleh pengunjung.

Menurut hasil investigasi Huntress, halaman palsu tersebut telah diakses dan diunduh sekitar 7.100 kali sebelum akhirnya dihapus oleh Anthropic.

Menggunakan File Claude Palsu

Korban yang mengklik tautan unduhan kemudian diarahkan ke situs lain yang menyediakan berkas bernama ClaudeDesktop.exe.

Sekilas file tersebut tampak sah karena menggunakan komponen JetBrains Chromium yang legal. Namun di balik itu, pelaku memanfaatkan teknik DLL sideloading melalui file berbahaya bernama libcef.dll untuk menjalankan malware tanpa menimbulkan kecurigaan.

Setelah aktif, malware menggunakan berbagai teknik penghindaran deteksi yang cukup canggih.

Di antaranya adalah penggunaan VMProtect, pemeriksaan lingkungan virtual untuk mendeteksi mesin virtual (VM), pengecekan GPU dan shader perangkat, hingga dekripsi muatan berbahaya menggunakan teknologi DirectX shader.

Teknik tersebut membuat malware lebih sulit dikenali oleh perangkat keamanan konvensional.

Mampu Kendalikan Komputer Korban

SectopRAT bukan malware baru. Program jahat ini diketahui telah aktif sejak 2019 dan terus berkembang dengan kemampuan yang semakin kompleks.

Selain berfungsi sebagai pencuri informasi (information stealer), SectopRAT juga memiliki kemampuan Hidden Virtual Network Computing (HVNC) yang memungkinkan pelaku mengendalikan komputer korban dari jarak jauh tanpa terlihat oleh pengguna.

Data yang menjadi target pencurian meliputi:

  • Kata sandi akun pengguna.
  • Informasi kartu kredit.
  • Cookie browser.
  • File pribadi.
  • Kredensial FTP.
  • Data aplikasi perpesanan seperti Discord dan Telegram.

Agar tetap bertahan di perangkat korban, malware membuat scheduled task melalui file DockerDesktop.exe sehingga dapat berjalan otomatis setiap kali komputer dinyalakan.

Server Disembunyikan di Blockchain

Salah satu aspek yang membuat SectopRAT semakin berbahaya adalah penggunaan teknik EtherHiding.

Metode ini menyembunyikan alamat server pengendali (command and control/C2) di dalam transaksi blockchain Ethereum dan BNB Smart Chain.

Dengan cara tersebut, pelaku dapat mengurangi risiko server mereka dilacak atau diblokir oleh penyedia layanan keamanan.

Dalam penyelidikan lanjutan, tim Huntress juga menemukan sedikitnya 10 domain yang didaftarkan menggunakan alamat email yang sama sejak Desember 2025.

Salah satu domain tersebut sebelumnya pernah dikaitkan dengan penyebaran malware StealC dan sempat menjadi target penyitaan dalam operasi internasional Operation Endgame.

Pengguna Diminta Tidak Asal Klik Iklan

Kasus ini menjadi pengingat bahwa hasil pencarian internet, termasuk iklan bersponsor yang muncul di bagian atas mesin pencari, tidak selalu aman.

Pengguna yang ingin mengunduh aplikasi seperti Claude disarankan untuk mengakses situs resmi pengembang secara langsung dengan mengetik alamat URL sendiri, bukan mengandalkan tautan yang muncul dari iklan pencarian.

Selain itu, pengguna juga dianjurkan selalu memeriksa alamat situs secara teliti, mengaktifkan perlindungan keamanan perangkat, serta menghindari mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak jelas.

Di tengah semakin maraknya pemanfaatan AI dan meningkatnya kecanggihan serangan siber, kewaspadaan pengguna menjadi lapisan pertahanan pertama untuk melindungi data pribadi dan informasi penting dari tangan pelaku kejahatan digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|