
Plt. Kepala Bidang Pemeliharaan & Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, dalam Workshop Festival Teater DIY 2026 di Societeit Militaire Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (27/8/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.
JOGJA — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menggelar Workshop Festival Teater DIY 2026 di Societeit Militaire, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (27/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju puncak Festival Teater DIY yang akan digelar di TBY pada 11–12 September 2026.
Festival Teater DIY 2026 mengusung tema “Yogyakarta Hari Ini dalam Bingkai Teater Realis” dengan fokus pada regenerasi talenta muda. Peserta yang disasar berusia maksimal 19 tahun.
Plt. Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengatakan Festival Teater DIY digelar dua tahun sekali. Pelaksanaan tersebut dilakukan secara bergantian dengan cabang seni lainnya agar setiap bidang kesenian memiliki ruang untuk berkembang.
Menurut Rully, workshop menjadi bagian dari proses pembinaan yang sebelumnya telah dilakukan di tingkat kabupaten/kota.
“Dinas Kebudayaan kabupaten/kota sudah melakukan proses festival teater di masing-masing wilayah,” ujarnya.
Ia mengatakan proses pembinaan tersebut mencakup berbagai aspek pementasan, seperti rias dan lakon. Melalui workshop tingkat DIY, peserta mendapatkan masukan dari narasumber dan juri untuk melakukan perbaikan sebelum pementasan.
“Harapan kami proses berjenjang ini menjadi sebuah sistem pembinaan yang bisa selalu berjalan,” katanya.
Rully menambahkan, ekosistem teater di DIY telah terbangun dengan baik, khususnya melalui kelompok-kelompok teater yang diisi talenta dewasa. Namun, melalui Festival Teater DIY 2026, Dinas Kebudayaan DIY mencoba memperluas pembinaan dengan menggandeng talenta muda.
“Harapan kami juga sudah mulai muncul anak-anak pelajar SMA, sehingga mereka bisa kita bina dan ke depan bisa menjadi seniman teater yang mumpuni,” jelasnya.
Festival Teater DIY nantinya dapat dinikmati masyarakat secara gratis. Rully berharap kegiatan tersebut semakin memperkuat ekosistem teater di Yogyakarta sekaligus membuka ruang bagi talenta-talenta muda untuk berkembang.
Narasumber Workshop Festival Teater DIY 2026, Landung Simatupang, mengatakan proses festival berlangsung secara berjenjang, mulai dari kabupaten/kota hingga tingkat provinsi. Dari proses tersebut, terpilih lima peserta yang akan tampil di tingkat DIY.
Menurut Landung, workshop memberikan masukan kepada lima peserta tingkat provinsi mengenai sejumlah hal yang masih perlu dibenahi sebelum pementasan yang dijadwalkan berlangsung sekitar dua pekan mendatang.
Selain memberikan masukan dari sisi penilaian, workshop juga menjadi kesempatan untuk membekali peserta dengan keterampilan yang berkaitan dengan pementasan. Materi yang diberikan antara lain tata rias, kostum, dan tata cahaya.
“Itu dipilihkan narasumber yang kompeten, sangat kompeten dalam hal ini. Harapannya, ini kan semangatnya mau meningkatkan kualitas, bukan semangat mencari pemenang sebenarnya,” jelasnya.
Menurut Landung, pembekalan bagi peserta muda disesuaikan dengan pengalaman mereka yang relatif masih baru dalam dunia teater. Karena itu, materi lebih banyak menyasar hal-hal mendasar, termasuk pemahaman mengenai teater realis.
Pembekalan tersebut dinilai penting karena tema pementasan tahun ini mengangkat “Yogyakarta Hari Ini dalam Bingkai Teater Realis”. Masing-masing peserta menyusun naskah sendiri sesuai tema tersebut.
“Jadi dimulai dari awal, dari penulisan naskah, bagaimana menulis naskah teater realis itu, bagaimana alur ceritanya, bagaimana temanya, bagaimana setting waktu dan setting tempat kejadiannya dan sebagainya,” katanya.
Narasumber lainnya, Naomi Srikandi, mengatakan teater merupakan sarana untuk melatih daya hidup. Menurutnya, semangat generasi muda dalam menciptakan karya teater menunjukkan keinginan untuk menciptakan dan mengupayakan dunia yang berbeda sesuai dengan yang mereka inginkan.
“Artinya apa? Teater punya potensi untuk itu. Dia adalah ruang di mana kita saling mendukung, bukan saling sikut,” jelasnya.
Ia menilai Festival Teater DIY merupakan perayaan atas keyakinan mengenai berbagai hal yang dapat diupayakan melalui teater. Menurutnya, anak-anak muda masih menunjukkan gairah terhadap teater dan memiliki potensi besar untuk menjadi aktor generasi berikutnya.
“Mereka kemudian akan mewarnai dan menjaga dinamika pertumbuhan teater di Jogja ini,” katanya.
Naomi juga memberikan sejumlah masukan terkait kemampuan akting peserta. Menurutnya, dalam teater, mengeraskan suara tidak harus dilakukan dengan berteriak. Begitu pula dengan ekspresi marah yang tidak selalu harus ditampilkan secara histeris.
Ia menilai kemampuan tersebut masih dapat dimatangkan dalam waktu dua pekan menjelang pementasan. Para peserta diharapkan dapat memperdalam dan mendetailkan karakter serta akting masing-masing.
Peserta workshop dari Sleman, Sekar, mengatakan dirinya sebelumnya lebih menyukai kegiatan tari. Ia kemudian mengikuti teater setelah mendapat kesempatan tampil di tingkat provinsi.
“Karena suka drama juga. Kalau di rumah kan pasti suka drama sama keluarga, terus sama teman-teman juga. Di kampung pun juga ada drama, jadi suka,” ujar siswa SMK 1 Kasihan tersebut.
Sekar berharap Festival Teater DIY 2026 dapat berjalan lancar hingga hari pementasan. Ia mengaku keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama baginya di ajang festival teater tingkat provinsi. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































