REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua orang Islam pasti ingin masuk surga dan terhindar dari neraka. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ada empat golongan yang Allah haramkan untuknya tersentuh api neraka. Hadis yang diriwayatkan at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban itu memaparkan keempat kelompok itu. Mereka masing-masing adalah orang yang memiliki hayyin, layyin, qarib, atau sahl.
Hayyin berarti ketenangan lahir dan batin. Ciri-ciri golongan ini antara lain ialah kata-katanya meneduhkan dan sikapnya jauh dari amarah. Mereka mampu dan sigap mengontrol pikiran, perasaan, dan perbuatannya. Karakteristik hayyin bermula dari hati. Seperti diisyaratkan dalam Alquran surah ar-Rad ayat 28. Artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Kelompok kedua adalah mereka yang bersifat layyin. Karakteristik itu berarti lemah lembut atau sopan santun. Golongan ini dapat dikenali dari kecenderungannya yang enggan melukai orang lain, baik dengan lisan maupun perbuatan.
Sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Beliau selalu menebar kasih sayang di tengah masyarakat. Nabi SAW bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras, dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya” (HR Muslim).
Golongan ketiga ialah pemilik sifat qarib. Itu bisa diartikan sebagai pribadi yang menyenangkan, hangat, dan akrab. Sikapnya tidak dingin. Seseorang yang qarib biasanya rendah hati dan tawaduk. Sebaliknya, sifat sombong hanya akan menjauhkannya dari orang-orang.
Adapun kelompok terakhir ialah sahl. Sifat itu dapat dimaknai sebagai ‘mudah’ atau ‘memudahkan.’ Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ajarkanlah, permudahlah, dan jangan mempersulit.” Seorang yang sahl tidak akan memperumit persoalan. Semua diperlakukannya secara proporsional. Bagaimanapun, hal itu tidak berarti menyepelekan masalah.
Jaga diri dan keluarga
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Demikian terjemahan Alquran surah at-Tahrim ayat keenam. Ketika ayat itu turun kepada Rasulullah SAW, Imam Ja'far As-Shadiq menceritakan, seorang sahabat menangis dan berkata, "Aku tidak mampu menguasai diriku dan kini diberi beban dengan keluargaku."
Mendengar keluhan itu, Nabi SAW bersabda, "Perintahkan keluargamu sebagaimana engkau diperintahkan. Ikuti dan cegah keluargamu sebagaimana engkau dilarang mengerjakan."
Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna ayat itu, "Didiklah diri dan keluargamu dengan perbuatan baik dan saleh." Allah Ta'ala secara tegas memerintahkan kita untuk mendidik diri sendiri dan keluarga dengan ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, terbentuklah suatu keluarga Muslimin yang bertakwa.
Dampaknya bisa menjalar secara luas. Sebab, bila institusi keluarga baik, maka negara pun baik. Keluarga merupakan "negara kecil." Dalam arti, bila ingin mewujudkan negara yang baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghafur, maka kita harus mulai dari keluarga.

13 hours ago
2

















































