600 Huntara di Aceh Tamiang Rampung Sesuai Target

14 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama Danantara melakukan serah terima 600 hunian sementara (huntara) kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Perseroan telah merampungkan pembangunan huntara sesuai target.

Kegiatan itu dihadiri langsung oleh Managing Director Hubungan Antarlembaga BPI Danantara Rohan Hafas, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, serta Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi. Direktur Utama Waskita Karya Muhammad Hanugroho turut hadir di lokasi didampingi Direktur Operasi I Waskita Karya Ari Asmoko.

Rohan Hafas mengatakan penyerahan huntara merupakan bagian dari komitmen Danantara Indonesia untuk menghadirkan hunian sementara yang layak dan aman. Hunian ini juga mendukung pemulihan layanan dasar bagi warga terdampak.

“Pemulihan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi bergerak pada bagaimana hunian benar-benar memberi ruang bagi keluarga untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Rohan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Kolaborasi antara Danantara dengan BUMN Karya mendapat apresiasi dari pemerintah. Bima Arya menilai sinergi ini menjadi contoh luar biasa yang dapat menginspirasi wilayah lain.

Di sela kegiatan serah terima, Armia Pahmi mengucapkan terima kasih atas kecepatan pembangunan. Ia mengungkapkan, sejumlah hunian tersebut merupakan yang pertama kali mereka terima sejak bencana melanda.

“Kami akan mendistribusikan secara bertahap mulai 100 unit agar adaptasi berjalan mulus,” jelas dia. Ratusan keluarga dari Desa Sukajadi siap menempati sejumlah hunian yang sudah selesai dibangun pada tahap pertama itu. Daftar nama mereka pun ditempelkan di pintu setiap unit huntara.

Direktur Utama Waskita Karya Muhammad Hanugroho mengatakan pembangunan huntara di Aceh Tamiang merupakan wujud kolaborasi antara Danantara, pemerintah, dan BUMN Karya dalam membantu pemulihan usai bencana yang terjadi beberapa waktu lalu. Pengerjaan hunian ini dipercepat agar bisa segera digunakan oleh masyarakat terdampak.

“Pembangunan huntara terus dilakukan selama 24 jam tanpa kenal lelah demi memulihkan kembali daerah Aceh. Dalam waktu enam hari, Waskita berhasil menyelesaikan puluhan rumah hunian. Ini membuktikan upaya gerak cepat Waskita Karya sebagai garda terdepan dalam membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ucap pria yang biasa dipanggil Oho tersebut.

Selain mengerjakan bangunan hunian berukuran 4,5 × 4,5 meter, Waskita juga membangun unit fasilitas mandi cuci kakus (MCK) serta Sistem Pengolahan Air Limbah atau Sewage Treatment Plant (STP). Ada pula musala berukuran 9 × 13,5 meter dan tempat wudu seluas 6,6 × 13 meter.

Kawasan huntara juga dilengkapi dapur umum seluas 8 × 19 meter. Selain itu, disediakan bangunan toren, drainase precast, serta mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP).

“Meski ini hunian sementara, Waskita tetap memperhatikan standar kelayakan dan kualitas bangunan. Huntara dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian darurat yang aman, dengan struktur yang disiapkan kokoh serta utilitas dasar yang dirancang berfungsi saat ditempati. Harapan kami, warga yang tinggal di sana merasa nyaman dan dapat mulai menjalani aktivitas sehari-hari,” kata Oho.

Ia melanjutkan, perseroan turut membangun jalan pedestrian dan jalan akses di kawasan huntara. Tujuannya agar konektivitas masyarakat dan distribusi logistik dapat berjalan lancar.

Waskita Karya, kata dia, terus berkomitmen mengawal pemulihan kawasan terdampak bencana, khususnya Aceh Tamiang. Komunikasi sekaligus koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan juga diperkuat guna membangkitkan wilayah tersebut.

Saat ini Waskita juga sedang mengerjakan huntara di kawasan Aceh Utara, mencakup Simpang Tiga, Tanjong Dalam Selatan, serta Leuobok Meuku. Sebanyak 314 rumah hunian direncanakan dibangun guna menyediakan tempat tinggal layak bagi masyarakat pada masa darurat usai bencana.

“Kami terus berdoa agar seluruh warga yang terkena bencana bisa segera pulih dan menata hidupnya kembali. Duka ini bukan hanya milik Aceh atau Sumatra, tetapi dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” kata Oho.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|