Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau: Bahaya dan Cara Membersihkannya

6 hours ago 7

Harianjogja.com, JAKARTA— Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai karena berbeda dengan debu biasa. Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan partikel abu vulkanik mengandung silika yang memiliki karakter seperti serpihan kaca tajam sehingga dapat mengiritasi atau melukai bagian tubuh yang terpapar, termasuk mata, hidung, mulut, dan kulit. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu mengetahui cara membersihkan abu vulkanik dengan tepat dan mengurangi paparan selama abu masih berada di udara.

"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," kata Dicky kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Bahaya Abu Vulkanik bagi Mata

Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata. Keluhan yang muncul antara lain mata menjadi merah, terasa perih, berair, hingga lebih sensitif terhadap cahaya.

Partikel abu juga dapat menimbulkan luka goresan pada permukaan mata. Selain itu, paparan dapat memicu peradangan konjungtivitis yang ditandai dengan kemerahan, rasa terbakar, serta fotosensitivitas atau meningkatnya sensitivitas terhadap cahaya.

Karena karakter partikelnya yang tajam, masyarakat sebaiknya tidak mengucek atau menggosok mata ketika terkena abu vulkanik. Mata yang mengalami iritasi perlu segera dibilas menggunakan air bersih.

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Pernapasan

Selain mata dan kulit, sistem pernapasan menjadi bagian tubuh yang perlu mendapatkan perhatian ketika terjadi hujan abu vulkanik.

Menurut Dicky, paparan abu dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan. Keluhan yang mungkin muncul antara lain pilek dan batuk kering. Pada paparan tinggi, seseorang juga dapat mengalami sesak napas maupun nyeri dada.

Risiko gangguan pernapasan dapat lebih berat pada orang yang memiliki asma atau bronkitis kronis. Gejalanya dapat berupa batuk berdahak, napas berbunyi atau mengi.

Dicky mengingatkan masyarakat agar menghindari aktivitas berat ketika konsentrasi abu vulkanik di udara sedang tinggi.

"Penderita disarankan menghindari aktivitas berat saat abu vulkanik di udara yang sedang tinggi dan ya bersirkulasi, karena napas yang lebih cepat ini akan menarik partikel harus dari abu vulkanik lebih dalam ke paru. Selain itu, abu vulkanik segar maksud saya, bisa memiliki lapisan asam yang menambah efek iritasi pada paru dan mata sebelum tersapu hujan," katanya.

Cara Membersihkan Abu Vulkanik dari Tubuh

Masyarakat yang tubuh atau pakaiannya terkena abu vulkanik perlu segera melakukan pembersihan. Namun, proses pembersihan sebaiknya dilakukan dengan cara yang tidak membuat partikel abu kembali beterbangan.

Berikut langkah yang disarankan:

Segera bersihkan tubuh menggunakan air. Air dapat digunakan untuk membersihkan abu yang menempel pada tubuh.

Jangan menggosok abu pada permukaan tubuh secara berlebihan. Partikel silika yang tajam berpotensi menimbulkan iritasi.

Jangan mengibas pakaian yang terkena abu. Tindakan tersebut dapat membuat partikel abu kembali menyebar ke udara.

Bilas mata dengan air bersih apabila mata terkena abu dan mengalami iritasi.

Gunakan pakaian tertutup ketika harus beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan abu pada kulit.

Pembersihan juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan. Abu yang menempel pada permukaan sebaiknya tidak diperlakukan seperti debu biasa dengan cara mengibaskannya karena tindakan tersebut justru dapat membuat abu beterbangan dan terhirup.

Tutup Pintu dan Jendela Rumah

Dicky juga merekomendasikan masyarakat menutup pintu dan jendela rumah secara rapat selama abu vulkanik masih berada di udara.

Pintu dan jendela dapat dibuka apabila memang diperlukan, terutama ketika penghuni rumah harus keluar untuk melakukan aktivitas. Namun, masyarakat tetap perlu mempertimbangkan kondisi sebaran abu dan menggunakan perlindungan yang sesuai.

Untuk mengurangi masuknya partikel abu ke dalam paru-paru, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker N95 yang dapat menutup hidung dan mulut dengan rapat.

Gunakan Pelindung Mata

Selain masker, perlindungan mata juga penting ketika masyarakat harus berada di luar ruangan saat terjadi paparan abu vulkanik.

"Jangan lupa karena ini adalah debu silika yang tajam jadi gunakan pelindung mata dengan kacamata ataupun bisa kacamata. Kalau mata teriritasi, segera bilas dengan air bersih," ucap Dicky.

Penggunaan pelindung mata membantu mengurangi kemungkinan partikel abu langsung mengenai permukaan mata. Masyarakat juga perlu menghindari kebiasaan menyentuh atau menggosok mata dengan tangan yang mungkin masih terpapar abu.

Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?

Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik diminta tidak mengabaikan gejala, terutama jika mengalami gangguan pernapasan atau masalah pada mata.

Dicky meminta masyarakat yang mengalami sesak napas, nyeri dada, maupun gangguan pada mata segera berkonsultasi dengan tenaga medis di fasilitas kesehatan. Pemeriksaan diperlukan untuk meminimalkan dampak buruk paparan abu vulkanik terhadap kesehatan.

Di sisi lain, masyarakat diimbau tetap mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi pemerintah. Informasi tersebut penting untuk mengetahui perkembangan erupsi dan langkah mitigasi yang perlu dilakukan.

"Saya sampaikan bahwa yang harus dilakukan adalah selalu waspada mengikuti berita-berita dari sumber resmi pemerintah dan juga jangan panik, karena panik bahkan bisa merugikan kita semua," ujar Dicky.

Abu Vulkanik GAK Menyebar ke Sejumlah Wilayah

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda tercatat mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang 2026. Aktivitas tersebut berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9).

Tingginya aktivitas letusan juga menghasilkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Sementara itu, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk kawasan Jabodetabek.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah yang terdampak abu perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan membatasi paparan langsung, menggunakan perlindungan pernapasan dan mata, serta membersihkan tubuh maupun barang yang terkena abu dengan cara yang tepat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|