Newswire Minggu, 06 September 2026 09:17 WIB

Ilustrasi Bitcoin. Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Harga Bitcoin masih tertahan di kisaran US$78.000 per Bitcoin setelah aset kripto terbesar tersebut gagal mempertahankan posisi di atas level psikologis US$80.000. Pergerakan Bitcoin selanjutnya diperkirakan akan banyak dipengaruhi arus dana exchange-traded fund (ETF) serta arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Sebelumnya, Bitcoin sempat mencatat penguatan sekitar 26% dari US$62.700 hingga mencapai US$81.235. Namun, reli tersebut kemudian terkoreksi sehingga Bitcoin kembali bergerak di bawah US$80.000.
CEO dan Founder FLOQ, salah satu platform investasi aset kripto, Yudhono Rawis menilai koreksi tersebut belum mengubah prospek Bitcoin secara keseluruhan. Menurut dia, pasar kini memasuki fase pembuktian untuk melihat apakah permintaan investor masih cukup kuat menopang harga.
“Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat. Namun, setelah gagal bertahan di atas 80.000 dolar AS, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian,” ujar Yudhono dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (5/9).
Arus ETF Bitcoin Mulai Melambat
Yudhono mengatakan investor perlu mencermati permintaan spot dan arus dana institusional untuk mengukur kekuatan pasar setelah Bitcoin mengalami reli.
Data menunjukkan ETF Bitcoin dan Ethereum di AS mencatat inflow bersih sekitar US$2,71 miliar pada pekan yang berakhir 24 Agustus. Bitcoin menjadi penyumbang terbesar dengan arus dana masuk sekitar US$1,92 miliar.
Meski demikian, arus dana tersebut mulai menunjukkan perlambatan. Data Farside Investors mencatat spot Bitcoin ETF AS mengalami net outflow sekitar US$201,9 juta pada 28 Agustus, setelah sebelumnya membukukan arus masuk positif selama beberapa hari.
Menurut Yudhono, konsistensi arus ETF akan menjadi salah satu indikator penting ketika harga Bitcoin bergerak dalam rentang US$77.000-US$80.000.
“Jika arus ETF kembali positif ketika Bitcoin berada di area 77.000-80.000 dolar AS, itu bisa menjadi indikasi bahwa investor besar masih melihat koreksi sebagai kesempatan untuk membangun posisi,” katanya.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Selain arus dana ETF, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan moneter Amerika Serikat. Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus lalu direspons pasar sebagai sinyal hawkish.
Warsh menegaskan inflasi AS masih berada di atas target 2%. Perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir juga dinilai belum menunjukkan perbaikan yang cukup berarti.
Memasuki September, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada 4 September dan data Consumer Price Index (CPI) pada 11 September menjadi perhatian investor.
Kedua data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.
Yudhono memperkirakan volatilitas Bitcoin masih tinggi sepanjang September. Kondisi itu terjadi karena pergerakan aset kripto tersebut akan semakin sensitif terhadap data ekonomi Amerika Serikat.
“Pasar akan sangat sensitif terhadap angka tenaga kerja dan inflasi AS. Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka,” katanya.
Level US$80.000 Jadi Penentu Bitcoin
Dalam jangka pendek, area US$80.000-US$81.000 menjadi zona penting bagi Bitcoin. Jika mampu menembus sekaligus bertahan di atas area tersebut, momentum penguatan Bitcoin berpeluang kembali terbentuk.
Sebaliknya, apabila Bitcoin kembali gagal merebut level US$80.000, aset kripto tersebut berpotensi melanjutkan fase konsolidasi sembari menunggu katalis makroekonomi berikutnya.
“Pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke 80.000 dolar AS. Yang lebih penting adalah apakah 80.000 dolar AS nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support,” kata Yudhono.
Menurut dia, sinyal penguatan Bitcoin akan semakin kuat apabila perubahan posisi US$80.000 tersebut disertai dengan kembalinya arus modal institusional. Kondisi makroekonomi yang lebih kondusif juga menjadi faktor pendukung bagi peluang penguatan aset kripto tersebut.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin pada September tidak hanya akan ditentukan oleh aktivitas perdagangan aset kripto. Investor juga akan mencermati arus dana ETF serta data tenaga kerja dan inflasi AS menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































