Anggria Cita
Teknologi | 2026-08-13 15:37:18
Gambar 1. Interaksi individu dengan ponsel dalam suasana personal dan sunyi Sumber: Prokhorov (2025), Unsplash
Bayangkan pukul 01.17 dini hari, ada banyak nama di daftar kontak WhatsApp, tetapi tidak ada satu pun yang terasa mudah untuk dihubungi. Menghubungi teman takut mengganggu. Bercerita kepada keluarga terasa terlalu rumit. Menulis di media sosial terlalu terbuka. Pergi ke psikolog membutuhkan biaya dan keberanian tersendiri. Akhirnya, seseorang membuka chatbot berbasis artificial intelligence (AI) dan mengetik satu kalimat sederhana:
“Aku capek banget. Boleh dengerin dulu?”
Beberapa detik kemudian, jawaban muncul. Tidak ada tatapan heran. Tidak ada kalimat, “Kamu terlalu mikirin itu.” Tidak ada cerita yang dipotong untuk dibandingkan dengan pengalaman orang lain. Tidak ada kekhawatiran bahwa rahasia itu akan menjadi bahan obrolan di tongkrongan. AI merespons dengan tenang, lalu bertanya apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Situasi tersebut mungkin terdengar aneh beberapa tahun lalu. Kini, ia mulai menjadi bagian dari kehidupan digital manusia.
Survei Snapcart terhadap 3.611 responden Indonesia pada April 2025 menunjukkan bahwa 43% responden sering menggunakan AI dalam keseharian dan 41% pernah menggunakannya sesekali. Penggunaan paling tinggi ditemukan pada kelompok Gen Z usia 13 sampai 24 tahun, dengan 50% responden dalam kelompok tersebut mengaku sering menggunakan AI. Lebih menarik lagi, 6% dari seluruh responden menggunakan AI sebagai “teman” untuk berbicara dan membagikan perasaan. Dari kelompok yang menggunakan AI untuk curhat tersebut, 58% mengaku pernah mempertimbangkan AI sebagai kemungkinan pengganti psikolog (Snapcart, 2025a).
Gambar 2. Proporsi pengguna AI untuk curhat yang pernah mempertimbangkan AI sebagai pengganti psikolog Sumber: Snapcart (2025a)
Angka 58% tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Angka itu bukan berarti 58% masyarakat Indonesia ingin mengganti psikolog dengan AI. Persentase tersebut hanya berasal dari kelompok responden yang sebelumnya menyatakan menggunakan AI untuk berbicara dan membagikan perasaan. Namun, justru pada kelompok kecil itulah muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar seberapa banyak orang menggunakan AI.
Mengapa seseorang dapat merasa lebih nyaman menceritakan bagian paling pribadi dari hidupnya kepada sesuatu yang bahkan tidak memiliki perasaan?
Ketika yang Dicari Bukan Jawaban
Manusia tidak selalu bercerita karena membutuhkan solusi. Kadang seseorang sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Masalahnya, ia sedang ingin didengar.
Ada hari ketika nasihat justru terasa melelahkan. Ada saat ketika kalimat “coba bersyukur” tidak membantu. Ada pula keadaan ketika seseorang belum siap menerima solusi karena ia sendiri masih berusaha memahami apa yang sedang dirasakan. Pada titik seperti itu, kehadiran pihak yang mau mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi dapat terasa lebih berarti daripada jawaban yang paling pintar sekalipun.
Fenomena ini terlihat dalam penelitian kualitatif terhadap sepuluh pengguna chatbot AI berusia 18 sampai 23 tahun di Bandung. Para partisipan tidak hanya memandang chatbot sebagai sumber informasi. Mereka juga menggunakannya sebagai asisten pribadi, teman berdiskusi, dan ruang komunikasi yang terasa nyaman secara emosional. Kecepatan respons, fleksibilitas, serta persepsi bahwa chatbot tidak menghakimi membuat interaksi berlangsung berulang, baik untuk urusan akademik, kehidupan sehari-hari, maupun persoalan pribadi. Para partisipan tetap mengakui adanya kekhawatiran mengenai privasi, ketergantungan, dan sifat empati AI yang sebenarnya artifisial (Aplhafiano et al., 2026).
Temuan tersebut menunjukkan sesuatu yang cukup ironis. AI dibuat untuk memproses bahasa, tetapi sebagian manusia menggunakannya untuk memproses perasaan.
Masalahnya mungkin bukan karena AI tiba-tiba menjadi “lebih manusia”. Bisa jadi justru karena komunikasi antarmanusia terasa semakin sulit.
Artikel akademik yang secara khusus membahas penggunaan generative AI sebagai confidant atau tempat curhat kaum muda di Bandung menyoroti faktor budaya seperti sungkan dan tidak enakan. Seseorang dapat menahan cerita karena khawatir dianggap merepotkan, takut dinilai lemah, atau tidak ingin membebani orang terdekat. AI menawarkan ruang yang dirasakan lebih privat, cepat, dan bebas dari tekanan sosial semacam itu (Wibowo et al., 2026).
Pernyataan “aku enggak enak cerita ke dia” terdengar sederhana. Namun, kalimat tersebut menunjukkan dilema yang cukup dalam. Seseorang mempunyai teman, tetapi takut menjadi beban. Mempunyai keluarga, tetapi belum tentu merasa aman untuk terbuka. Terhubung dengan ratusan orang melalui media sosial, tetapi tetap dapat merasa tidak memiliki tempat untuk membicarakan isi pikirannya.
AI masuk tepat ke celah tersebut.
Ia tersedia pukul dua siang maupun dua pagi. Ia tidak mengatakan sedang sibuk. Ia tidak menunjukkan wajah bosan. Ia tidak memotong cerita untuk menceritakan masalahnya sendiri. Ia bahkan dapat diminta, “jangan kasih solusi dulu, dengerin aku saja.”
Tidak mengherankan jika pengalaman tersebut terasa nyaman.
Mengapa AI Terasa Lebih Aman?
Data lanjutan Snapcart memberikan gambaran yang lebih jelas. Di antara responden yang mempertimbangkan AI sebagai pengganti psikolog, 39% menyebut biaya psikolog sebagai alasan, sementara AI dapat digunakan secara gratis. Sebanyak 27% beranggapan AI lebih mampu menjaga rahasia. Sebanyak 11% menilai AI dapat membantu menyelesaikan persoalan pribadi yang lebih luas. Sebanyak 10% merasa AI lebih tidak menghakimi, lebih netral, dan lebih memahami (Snapcart, 2025b).
Gambar 3. Alasan sebagian pengguna Indonesia mempertimbangkan AI sebagai pengganti psikolog Sumber: Snapcart (2025b)
Ada satu hal yang perlu dipahami secara lebih cermat. Ketika 27% responden merasa AI lebih mampu menjaga rahasia, hal tersebut menunjukkan persepsi pengguna, bukan bukti bahwa AI secara objektif lebih aman daripada manusia. Begitu pula ketika seseorang merasa AI tidak menghakimi. Pengalaman itu nyata bagi pengguna, tetapi tidak otomatis berarti sistem AI benar-benar netral, memahami keadaan manusia secara utuh, atau memiliki kewajiban moral seperti seorang profesional.
Poin ini perlu dipahami karena manusia dapat merasa aman berdasarkan pengalaman subjektif, sementara keamanan data, akurasi jawaban, dan kemampuan memahami konteks merupakan persoalan yang berbeda.
Namun, kita juga tidak seharusnya meremehkan alasan manusia memilih AI. Mengatakan “curhat saja sama teman” terdengar mudah bagi orang yang memang memiliki teman yang mampu mendengarkan. Tidak semua orang berada dalam kondisi tersebut. Ada orang yang pernah mencoba terbuka lalu justru ditertawakan. Ada yang ceritanya dibandingkan dengan masalah orang lain. Ada yang menerima nasihat ketika sebenarnya hanya ingin didengar. Ada pula yang pernah mempercayakan rahasia kepada seseorang, lalu melihat cerita itu berpindah ke orang lain.
Ketertarikan terhadap AI tidak hanya muncul karena teknologinya canggih. AI menarik karena ia menawarkan pengalaman komunikasi yang terasa rendah risiko.
Dan di sinilah persoalan humanismenya mulai terlihat.
Psikologi Humanistik: Manusia Ingin Dipahami, Bukan Sekadar Diperbaiki
Psikologi humanistik memandang manusia bukan sekadar kumpulan masalah yang harus diselesaikan. Individu dipandang sebagai pribadi yang memiliki pengalaman subjektif, kebebasan, kebutuhan akan makna, serta kapasitas untuk tumbuh.
Pemikiran Carl Rogers dalam pendekatan person-centered memberikan tempat yang sangat besar bagi pengalaman manusia tersebut. Relasi yang membantu membutuhkan beberapa kondisi utama, antara lain empati, penerimaan tanpa penghakiman, serta keaslian atau congruence. Individu diberi ruang untuk mengeksplorasi pengalaman dan perasaannya sendiri, bukan sekadar menerima instruksi mengenai apa yang seharusnya dilakukan (Yao & Kabir, 2023).
Di sinilah AI menghadirkan paradoks yang menarik.
Dari sisi bahasa, chatbot dapat menampilkan banyak ciri komunikasi yang terasa humanistik. Ia dapat menulis, “Wajar kalau situasi itu terasa berat.” Ia dapat mengulang inti cerita pengguna. Ia dapat bertanya, “Bagian mana yang paling membuat kamu kepikiran?” Ia dapat menghindari respons yang terlalu menghakimi.
Dengan kata lain, AI dapat menampilkan pola bahasa empatik.
Namun, apakah menampilkan empati sama dengan memiliki empati?
Rubin et al. (2024) membedakan empati menjadi beberapa dimensi. Ada empati kognitif, yaitu kemampuan mengenali dan memahami keadaan emosional orang lain. Ada empati emosional, yaitu turut mengalami resonansi terhadap emosi orang lain. Ada pula empati motivasional atau compassion, yaitu kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain dan dorongan untuk bertindak demi kebaikannya. AI berpotensi sangat baik dalam mengenali pola bahasa yang berkaitan dengan emosi, tetapi kemampuan tersebut tidak identik dengan mengalami emosi atau benar-benar peduli terhadap manusia yang sedang berbicara dengannya.
AI dapat menulis, “Aku ikut sedih mendengarnya.”
Namun, AI tidak sedang sedih.
AI dapat menulis, “Aku peduli dengan keadaanmu.”
Namun, kata “peduli” tersebut dihasilkan melalui proses komputasional, bukan karena muncul rasa khawatir di dalam dirinya.
Perbedaannya tipis saat dibaca di layar. Secara filosofis, perbedaannya sangat besar.
Kalau Empatinya Tidak Nyata, Mengapa Tetap Terasa Menolong?
Pertanyaan tersebut justru membuat fenomena ini semakin menarik.
Manfaat percakapan dengan AI tidak otomatis menjadi palsu hanya karena AI tidak memiliki pengalaman emosional manusia.
Penelitian De Freitas et al. (2025) menemukan bahwa interaksi dengan AI companion dapat menurunkan rasa kesepian secara langsung. Dalam salah satu eksperimen, efeknya terhadap kesepian sebanding dengan berbicara kepada manusia dan lebih baik dibandingkan beberapa aktivitas pembanding. Penelitian longitudinal mereka juga menemukan penurunan kesepian sesaat setelah penggunaan selama satu minggu. Faktor yang sangat berperan bukan hanya kualitas jawaban chatbot, tetapi perasaan pengguna bahwa dirinya didengar.
Temuan itu cukup mengguncang asumsi sederhana bahwa “karena AI bukan manusia, percakapan dengannya pasti tidak berarti.”
Ternyata tidak sesederhana itu.
Jika seseorang datang dalam keadaan kesepian lalu selesai berbicara dengan AI dan merasa lebih tenang, rasa lega tersebut tetap merupakan pengalaman psikologis nyata. Manusia dapat memberikan makna emosional terhadap interaksi, bahkan ketika lawan interaksinya bukan manusia.
Penelitian terhadap 1.379 mahasiswa juga menemukan hubungan antara depresi, kesepian, dan penggunaan conversational AI untuk companionship. Kesepian berperan sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini bersifat cross-sectional, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa AI menyebabkan atau menyembuhkan kondisi psikologis tertentu. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa keadaan emosional manusia memang berkaitan dengan kecenderungan mencari companionship melalui AI (Lai et al., 2025).
Hal ini berarti, kita perlu menghindari dua kesimpulan ekstrem.
Menganggap curhat kepada AI selalu buruk jelas terlalu cepat. Namun, menganggap AI sudah cukup untuk menggantikan kehadiran manusia juga sama kelirunya. AI mungkin dapat memberi respons yang menenangkan, tetapi rasa dipahami tidak selalu berarti benar-benar dikenal, dan jawaban yang terasa empatik tidak sama dengan kepedulian yang sungguh hadir dalam sebuah hubungan.
AI Bisa Membuat Kita Merasa Didengar, tetapi Apakah Kita Benar-Benar Dikenal?
Ada perbedaan antara mendapat respons yang tepat dan memiliki hubungan.
Hubungan manusia memiliki sesuatu yang tidak nyaman. Teman dapat salah memahami kita. Orang tua dapat memiliki pendapat berbeda. Pasangan terkadang marah. Sahabat mempunyai kesibukan sendiri. Bahkan orang yang paling menyayangi kita tidak akan tersedia setiap saat.
AI menawarkan kebalikannya. Respons cepat. Kesabaran hampir tanpa batas. Gaya bahasa dapat diatur. Tidak ada kebutuhan emosional dari pihak AI yang perlu kita perhatikan.
Secara praktis, itu menyenangkan.
Namun, hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun dari kenyamanan.
Hubungan juga terdiri atas timbal balik. Kita belajar mendengarkan ketika ingin didengarkan. Kita belajar meminta maaf ketika menyakiti orang lain. Kita belajar menjelaskan ketika disalahpahami. Kita belajar menghadapi batas, penolakan, perbedaan, dan kekecewaan.
AI tidak meminta kita melakukan banyak hal tersebut.
Ketika kita mengatakan sesuatu yang kasar kepada chatbot, tidak ada hati yang terluka. Ketika percakapan ditutup tanpa penjelasan, tidak ada pihak lain yang merasa ditinggalkan. Ketika kita hanya datang pada saat membutuhkan sesuatu, AI tidak menuntut keseimbangan dalam hubungan.
Maka muncul pertanyaan yang sedikit tidak nyaman:
“Jika manusia terlalu terbiasa dengan relasi yang selalu tersedia, selalu responsif, dan dapat disesuaikan dengan keinginannya, apakah hubungan dengan manusia nyata akan terasa semakin merepotkan?”
Pertanyaan itu belum memiliki jawaban sederhana. Namun, ia layak dipikirkan.
Rubin et al. (2024) menunjukkan bahwa AI berpotensi membantu ketika seseorang membutuhkan informasi, latihan, atau alat praktis. Sebaliknya, semakin besar kebutuhan seseorang terhadap hubungan manusia, afirmasi autentik, dan rasa bahwa ada orang yang sungguh peduli, semakin terbatas kemampuan AI untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Gambar 3. Perbedaan kebutuhan terhadap bantuan praktis dari AI dan kebutuhan terhadap koneksi manusia dalam dukungan psikologis Sumber: Rubin et al. (2024)
Gambar tersebut membantu menjelaskan bahwa persoalannya seharusnya bukan AI vs manusia. Kebutuhan manusia berbeda-beda. Ada saat ketika seseorang hanya membutuhkan bantuan untuk merapikan pikiran, memahami istilah, menyusun jurnal refleksi, atau mempersiapkan percakapan sulit. AI dapat berguna untuk hal semacam itu. Ada pula situasi ketika yang dibutuhkan adalah relasi, kehadiran, tanggung jawab, serta perhatian manusia yang autentik. AI tidak harus dipaksa menjadi keduanya.
Jangan Salahkan AI Terlalu Cepat
Mudah sekali mengatakan bahwa generasi sekarang terlalu bergantung pada teknologi. Namun, kritik tersebut berisiko salah sasaran.
Sebelum mempertanyakan mengapa seseorang memilih curhat kepada AI, kita perlu melihat alasan bercerita kepada manusia terasa sulit, mulai dari takut dihakimi sampai merasa tidak benar-benar didengarkan.
Apakah kalimat cerita aja kalau ada apa-apa benar-benar berlaku ketika seseorang akhirnya datang membawa cerita yang berat?
Fenomena curhat kepada AI mungkin bukan semata-mata cerita tentang keberhasilan teknologi. Ia juga dapat dibaca sebagai cermin kualitas hubungan manusia.
Jika sebuah mesin terasa lebih aman karena tidak menghakimi, masalahnya tidak hanya terletak pada seberapa pintar mesin tersebut. Kita juga perlu bertanya mengapa penghakiman begitu sering muncul dalam hubungan antarmanusia.
Jika AI dipilih karena rahasia terasa lebih aman, kita perlu bertanya mengapa kepercayaan kepada manusia dapat menjadi begitu rapuh.
Jika orang memilih AI karena takut merepotkan temannya, kita perlu bertanya sejak kapan kebutuhan untuk didengarkan dianggap sebagai beban.
Perspektif humanistik menggeser fokus dari sekadar teknologi menuju pengalaman manusia di balik penggunaannya. Pusat persoalannya tetap manusia.
AI sebagai Ruang Awal, Bukan Ruang Akhir
Melarang curhat kepada AI bukan pilihan yang realistis. AI justru dapat menjadi ruang awal untuk mengurai pikiran, mengenali emosi, atau menyiapkan diri sebelum berbicara dengan orang lain. Namun, fungsinya tetap terbatas. AI dapat membantu proses refleksi, tetapi tidak seharusnya menggantikan hubungan manusia maupun digunakan sebagai otoritas diagnosis dan terapi (Wibowo et al., 2026).
Batas tersebut perlu jelas. Chatbot dapat membantu seseorang menemukan kata-kata. Namun, chatbot tidak mempunyai kehidupan bersama kita.
AI tidak melihat perubahan wajah kita dari hari ke hari. Ia tidak datang memeluk ketika kita kehilangan seseorang. Ia tidak mempunyai sejarah pertemanan bertahun-tahun. Ia tidak menanggung tanggung jawab moral layaknya seorang manusia atau profesional ketika memberikan respons.
AI dapat mensimulasikan perhatian. Manusia dapat memberikan kehadiran. Keduanya tidak selalu harus dipertentangkan, tetapi keduanya juga tidak boleh dianggap sama.
Jadi, Siapa yang Sebenarnya Sedang Berubah?
Perkembangan AI sering membuat manusia bertanya apakah mesin suatu hari akan semakin mirip manusia.
Namun, fenomena curhat kepada AI memunculkan pertanyaan yang menurut saya lebih menarik:
Apakah cara manusia berhubungan dengan manusia lain juga sedang berubah?
Teknologi terus belajar menghasilkan bahasa yang lebih hangat. Sementara itu, manusia hidup dengan jadwal semakin padat, perhatian semakin terbagi, komunikasi semakin cepat, dan ruang untuk mendengarkan orang lain sering terasa semakin sempit.
Mungkin alasan manusia nyaman berbicara kepada AI bukan karena manusia benar-benar ingin mengganti manusia.
Mungkin manusia hanya ingin mendapatkan sesuatu yang sangat sederhana. Didengar tanpa dipotong. Diterima tanpa segera dinilai. Diberi ruang tanpa merasa menjadi beban.
Hal-hal tersebut sebenarnya bukan kemampuan baru yang ditemukan oleh kecerdasan buatan. Semuanya merupakan kebutuhan lama manusia.
Psikologi Humanistik telah lama menempatkan empati, penerimaan, keaslian, dan penghargaan terhadap pengalaman subjektif sebagai bagian utama dalam hubungan yang membantu manusia berkembang. AI hanya membuat kebutuhan tersebut terlihat kembali dengan cara yang sangat modern.
Karena itu, fenomena curhat kepada AI tidak seharusnya hanya membuat kita bertanya, Seberapa pintar AI sekarang? Pertanyaan yang lebih humanis justru ditujukan kepada diri kita sendiri.
Sudahkah kita menjadi manusia yang cukup aman untuk dijadikan tempat bercerita oleh manusia lain?
Masa depan mungkin akan menghadirkan AI yang semakin fasih membaca emosi, semakin cepat merespons, dan semakin pandai terdengar seperti seorang teman. Namun, persoalan terbesar bukan apakah mesin akhirnya mampu terdengar semakin manusiawi.
Persoalannya adalah apakah manusia masih mau belajar mendengarkan manusia lain dengan perhatian, empati, dan penerimaan yang membuat sebuah mesin tidak perlu menjadi tempat paling nyaman untuk mengatakan, “Aku sebenarnya lagi enggak baik-baik saja.”
Aplhafiano, A. P. S., Wulandari, A., Pudianti, C. A., & Tigauw, J. A. (2026). Adolescents’ perceptions of AI chatbots as interpersonal communication partners in Bandung. Jurnal Ilmiah LISKI (Lingkar Studi Komunikasi), 12(1). https://doi.org/10.25124/liski.v12i1.10909
De Freitas, J., Oğuz-Uğuralp, Z., Uğuralp, A. K., & Puntoni, S. (2025). AI companions reduce loneliness. Journal of Consumer Research, 52(6), 1126–1149. https://doi.org/10.1093/jcr/ucaf040
Lai, L., Pan, Y., Xu, R., & Jiang, Y. (2025). Depression and the use of conversational AI for companionship among college students: The mediating role of loneliness and the moderating effects of gender and mind perception. Frontiers in Public Health, 13, 1580826. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1580826
Rubin, M., Arnon, H., Huppert, J. D., & Perry, A. (2024). Considering the role of human empathy in AI-driven therapy. JMIR Mental Health, 11, e56529. https://doi.org/10.2196/56529
Snapcart. (2025a, April 23). In AI, we trust: Part 1. https://snapcart.global/in-ai-we-trust-part-1/
Snapcart. (2025b, April 24). In AI, we trust: Part 2. https://snapcart.global/in-ai-we-trust-part-2/
Wibowo, F. S., Panduwiyasa, H., & Saputra, M. (2026). Generative artificial intelligence as a confidant for youth: Navigating mental support and cultural stigma in Bandung. Frontiers in Human Dynamics, 8, 1841912. https://doi.org/10.3389/fhumd.2026.1841912
Yao, L., & Kabir, R. (2023). Person-centered therapy (Rogerian therapy). In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK589708/
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

15 hours ago
10













































