Amerika Mengaku Kalah dari China, Habis-habisan Kejar Ketinggalan

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Perlombaan menjelajahi luar angkasa antar-negara kian panas. Pesaing utama Amerika Serikat kali ini bukan lagi Uni Sovyet, tetapi China dengan para astronaut mereka yang disebut sebagai "taikonaut."

Kepala Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Jared Isaacman, memperkirakan China meluncurkan misi berawak untuk mengelilingi Bulan paling cepat pada tahun 2027.

Jika ini terwujud, Amerika harus merelakan posisinya sebagai satu-satunya negara yang berhasil membawa manusia menginjakkan kaki di Bulan.

Pernyataan tegas ini disampaikan Isaacman dalam pidato utamanya di konferensi ASCEND yang berlangsung di Washington, AS, pada 19 Mei lalu. Ia memperingatkan seluruh pelaku industri antariksa bahwa momen bersejarah selanjutnya dalam penjelajahan antariksa kemungkinan besar akan dipimpin oleh negara lain.

"Ketika dunia kembali menyaksikan penerbangan awak antariksa mengelilingi Bulan-yang kemungkinan terjadi sekitar tahun 2027-mereka adalah taikonaut China. Artinya, Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu mengirim manusia ke Bulan," ujar Isaacman.

Prediksi ini menjadi salah satu pernyataan paling gamblang yang dikeluarkan pimpinan NASA sejauh ini terkait kemajuan program antariksa China. Misi yang dimaksud diperkirakan mirip dengan misi Artemis 2 milik NASA yang sukses diluncurkan pada April 2025.

Perlu dicatat bahwa hingga saat ini, pihak berwenang China belum secara resmi mengumumkan jadwal pasti misi tersebut. Namun, berbagai laporan dan pengamat antariksa menyebutkan bahwa negara itu tengah menyusun peta jalan terstruktur, dengan target jangka panjang mendaratkan manusia di permukaan Bulan sebelum 2030.

Sejauh ini, seluruh penerbangan berawak yang pernah mencapai wilayah Bulan, baik yang mengorbit, mengelilingi, maupun mendarat di permukaan Bulan, adalah misi NASA. Sembilan misi program Apollo antara tahun 1968 hingga 1972 berhasil mengantarkan astronaut AS ke permukaan Bulan, Kini, NASA melanjutkannya dengan misi Artemis 2.

Isaacman sendiri kerap memanfaatkan persaingan ini sebagai alasan untuk merombak strategi eksplorasi Bulan. Ia menyebutnya bukan sekadar perlombaan teknologi, tetapi juga upaya mempertahankan kepemimpinan dan pengaruh geopolitik di ranah antariksa.

"Kini kita memiliki saingan geopolitik nyata yang menantang kepemimpinan Amerika di ketinggian antariksa. Kami menargetkan kembali mendaratkan warga AS di Bulan sebelum masa jabatan Presiden Trump berakhir, sedangkan pesaing kita menargetkannya sebelum 2030. Selisih waktunya dihitung dalam hitungan bulan, bukan tahun. Mereka bisa saja lebih cepat, dan sejarah menunjukkan kita sering kali terlambat," tegasnya.

NASA telah melakukan penyesuaian jadwal yang cukup drastis. Awalnya, misi Artemis 3 yang akan mendaratkan manusia di Bulan, dijadwalkan meluncur pada 2028. Dalam revisi terbaru, misi itu telah memasuki masa uji terbang di orbit rendah Bumi pada 2027 diikuti dengan pendaratan misi Artemis 4 di Bulan pada tahun 2028.

Selain menggeser jadwal, NASA juga mengubah fokusnya. Badan ini memutuskan untuk menghentikan pengembangan proyek stasiun antariksa bernama Lunar Gateway agar sumber daya dapat dialihkan ke pembangunan pangkalan di permukaan Bulan serta melipatgandakan jumlah misi pendaratan robot.

Isaacman mengatakan bahwa kecepatan gerak program antariksa China mengingatkannya pada semangat AS pada tahun 1960-an saat berlomba dengan Uni Soviet.

Argumen ini turut didukung oleh anggota Kongres AS. Komite Anggaran DPR baru-baru ini menyetujui alokasi dana lebih besar untuk program eksplorasi antariksa pada anggaran tahun fiskal 2027, guna memastikan NASA tetap berada di jalur yang tepat.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|