Jakarta, CNBC Indonesia - Nvidia tampaknya sudah pasrah dan menyerah dengan nasibnya yang penuh ketidakpastian di China. CEO Jensen Huang mengatakan perusahaannya kebobolan di pasar chip kecerdasan buatan (AI) China yang kini jatuh ke tangan raksasa lokal, Huawei.
Kondisi ini dipicu pemerintah Amerika Serikat (AS) yang melancarkan pembatasan ekspor chip AI ke China. Bukannya melemahkan posisi China, hal ini malah memotivasi para pemain lokal, termasuk Huawei, untuk mengembangkan chip AI secara mandiri.
Dalam berbagai kesempatan, Huang sudah sering menyebut risiko kemajuan China terhadap dominasi AS dalam pengembangan chip dan AI. Meskipun belakangan Presiden AS Donald Trump sudah mulai melunak ke China, tetapi kemajuan industri chip di negara kekuasaan Xi Jinping seakan sudah tak tergantung dengan teknologi AS.
Komentar terbaru Huang muncul setelah Nvidia kembali melaporkan kinerja moncer, dengan pendapatan melonjak 85% menjadi US$81,62 miliar pada awal 2026, dibandingkan dengan periode sebelumnya. Perusahaan juga mengumumkan rencana membeli kembali saham (buyback) senilai US$89 miliar, serta meningkatkan jumlah pembayaran dividen.
Meskipun kinerja Nvidia moncer dan masih mendominasi pasar chip AI, tetapi Huang masih menyayangkan hilangnya pasar China.
"Permintaan di China sangat besar," kata Huang kepada CNBC International. "Huawei sangat, sangat kuat. Mereka mencetak rekor tahunan. Mereka sepertinya akan menyambut tahun yang menakjubkan. Ekosistem perusahaan chip lokal mereka berjalan cukup baik, karena kami telah meninggalkan pasar itu," Huang menambahkan.
"Pada dasarnya, kami sudah kebobolan besar di pasar China terhadap Huawei," kata Huang, dikutip dari CNBC International, Kamis (21/5/2026).
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bagaimana pembatasan ketat Washington terhadap ekspor chip AI canggih telah mempercepat dorongan Beijing menuju swasembada chip.
Sebagai informasi, pasar China pernah berkontribusi terhadap setidaknya seperlima pendapatan data center Nvidia. Namun, perusahaan tersebut secara efektif telah terpinggirkan dari pasar setelah pemerintahan Trump memberi tahu Nvidia pada April lalu bahwa mereka memerlukan lisensi untuk mengekspor chip ke China dan beberapa negara lain.
Dalam wawancara dengan CNBC International, Huang menyampaikan nada hati-hati mengenai prospek pembukaan kembali pasar China dalam waktu dekat, dengan mengatakan bahwa Nvidia telah memberi tahu investor untuk "tidak mengharapkan apa pun" terkait persetujuan untuk menjual chip canggih ke negara tersebut.
"Saya tidak memiliki ekspektasi apa pun. Itulah sebabnya kami menyampaikan semua panduan, angka, dan ekspektasi kepada semua analis dan investor kami, untuk tidak mengharapkan apa pun," kata Huang.
Namun, ia mengisyaratkan bahwa Nvidia tetap bersemangat untuk kembali menggarap pasar China jika kondisi membaik.
"Kami akan sangat senang melayani pasar China," kata Huang. "Kami memiliki banyak pelanggan di sana, kami memiliki banyak mitra di sana, dan kami telah berada di sana selama 30 tahun," ia menuturkan.
Huang turut hadir setelah diajak di menit-menit terakhir dalam pertemuan puncak Trump dengan Xi Jinping di Beijing pada pekan lalu. Kendati demikian, kunjungan tersebut tidak banyak memperjelas apakah chip H200 Nvidia akan diizinkan di negara tersebut.
Reuters melaporkan pekan lalu bahwa beberapa perusahaan China telah menerima persetujuan dari Kementerian Perdagangan AS untuk membeli chip H200, termasuk Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com.
Seorang perwakilan perdagangan AS mengatakan bahwa kontrol ekspor chip bukanlah bagian dari diskusi selama pembicaraan dengan China pekan lalu. Hal ini menunjukkan pelonggaran signifikan terhadap pembatasan penjualan H200 yang kemungkinan masih jauh.
Nvidia juga memperluas rantai pasokannya secara agresif, yang digambarkan Huang sebagai peluang pertumbuhan besar terkait dengan ekonomi AI yang lebih luas.
"Gagasan tentang perusahaan yang berkali-kali lebih besar bukanlah hal yang mustahil," kata Huang. Ia mengatakan Nvidia berinvestasi besar-besaran di seluruh lapisan yang ia juluki "kue lima lapis" industri AI. Masing-masing mencakup energi, chip, infrastruktur, model, dan aplikasi.
Huang mengatakan prioritas pertama Nvidia untuk tumpukan uang tunai yang terus bertambah adalah mendukung pemasok di tengah lonjakan permintaan.
"Saat kami tumbuh ratusan miliar dolar sekaligus, kami harus mendukung rantai pasokan kami sehingga mereka dapat mendukung pertumbuhan kami," katanya.
(fab/fab)
Addsource on Google

















































