Anak Makin Tertutup dan Sembunyikan Gawai? Orang Tua Perlu Waspada

4 hours ago 5

Anak Makin Tertutup dan Sembunyikan Gawai? Orang Tua Perlu Waspada

Foto ilustrasi pengasuhan anak dibuat oleh Artificial Intelligence ChatGpt.

Harianjogja.com, JOGJA—Perubahan perilaku anak yang tiba-tiba menjadi lebih tertutup, enggan berbagi cerita, atau sering menyembunyikan layar gawai dapat menjadi tanda bahwa mereka sedang menghadapi ancaman di ruang digital. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai kenakalan anak semata karena bisa menjadi sinyal bahwa mereka merasa tidak aman dan kesulitan mengungkapkan apa yang dialami.

Ancaman di ruang digital tidak selalu terlihat secara langsung. Anak-anak yang belum memiliki kemampuan berpikir kritis dan mengelola emosi secara matang menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai risiko di dunia maya, termasuk ancaman dari predator daring yang mendekati korban secara halus dan bertahap.

Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog atau yang akrab disapa Romy, mengatakan perubahan perilaku menjadi salah satu indikasi awal yang perlu diperhatikan oleh orang tua maupun pendidik.

Menurut Romy, anak yang sedang menghadapi ancaman di ruang digital cenderung menjadi lebih tertutup. Mereka juga mungkin lebih sering menyembunyikan layar gawai ketika digunakan dan menunjukkan perubahan emosi yang tidak biasa.

Selain itu, anak dapat mulai merahasiakan teman yang dikenal melalui internet dan tampak takut atau tidak nyaman ketika ditanya mengenai aktivitasnya di dunia maya.

"Ini bukan karena anak nakal. Secara psikologis mereka belum siap dan belum mampu melindungi dirinya di ruang digital," kata Romy kepada ANTARA, Selasa.

Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku tersebut merupakan bentuk konflik batin yang sedang dialami anak. Dalam banyak kasus, mereka kesulitan memahami dan mengungkapkan rasa tidak aman yang dirasakan sehingga memilih untuk memendamnya sendiri.

"Perubahan yang ada merupakan sinyal bahwa ia sedang dalam konflik batin dan kesulitan memahami maupun mengungkapkan perasaan tidak amannya," ujarnya.

Romy menilai anak-anak memiliki keterbatasan dalam menghadapi berbagai risiko di ruang digital karena kemampuan berpikir kritis, menilai bahaya, serta mengelola emosi belum berkembang secara optimal.

Pada usia 0 hingga 6 tahun, anak umumnya belum mampu menyaring berbagai stimulasi yang diterima maupun mengelola emosinya dengan baik. Kondisi tersebut membuat mereka membutuhkan pendampingan penuh ketika menggunakan perangkat digital.

Sementara itu, anak berusia 7 hingga 12 tahun yang mulai aktif menggunakan internet dinilai belum memiliki kemampuan memadai untuk berpikir kritis dan menilai berbagai risiko yang mungkin muncul di ruang digital.

Adapun pada usia 13 hingga 15 tahun, kemampuan anak dalam mengendalikan diri masih berada dalam tahap perkembangan sehingga tetap membutuhkan pengawasan dan komunikasi yang baik dari orang tua.

Dengan berbagai keterbatasan tersebut, anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mendeteksi maupun menghindari ancaman yang muncul di dunia maya secara mandiri.

"Sering kali predator mendekati anak secara halus dan bertahap, sehingga tidak disadari sebagai ancaman bagi anak," kata Romy.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa upaya pencegahan tidak dapat dilakukan ketika ancaman sudah terjadi. Orang tua dan sekolah perlu hadir sejak awal untuk memberikan pendampingan yang konsisten kepada anak selama beraktivitas di ruang digital.

Romy menyarankan agar orang tua membangun komunikasi yang aman dan terbuka sehingga anak merasa nyaman untuk bercerita. Selain itu, penerapan aturan penggunaan perangkat digital yang konsisten dan pengawasan yang sesuai dengan usia anak juga menjadi bagian penting dalam perlindungan anak di dunia maya.

"Pencegahan tidak bisa menunggu. Orang tua dan sekolah perlu hadir, mendampingi anak, membangun komunikasi yang aman, membuat aturan digital yang konsisten, serta peka terhadap perubahan perilaku anak," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa rasa aman yang dimiliki anak merupakan benteng perlindungan paling kuat dalam menghadapi berbagai ancaman digital, termasuk predator daring.

"Perlindungan anak di dunia digital dimulai dari rumah. Anak yang merasa aman akan berani bercerita, dan itu merupakan perlindungan terkuat dari ancaman digital, termasuk predator daring," katanya.

Romy juga menyampaikan bahwa implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas membutuhkan dukungan berbagai pihak. Orang tua, sekolah, dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak sehingga mereka dapat memanfaatkan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|