Ancaman Siber Meningkat, Kolaborasi Jadi Kunci Perkuat Ketahanan Digital

4 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Transformasi digital Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat hingga membuka peluang penguatan ekonomi digital nasional. Pertumbuhan itu perlu diimbangi dengan kolaborasi nasional demi menjaga ketahanan digital. 

Merujuk DataReportal soal laporan Digital 2025 Indonesia, ekosistem digital nasional mencatat perkembangan signifikan. Jumlah koneksi seluler aktif mencapai 356 juta atau setara dengan 125 persen dari total populasi. Adapun pengguna internet mencapai sekitar 212 juta dengan tingkat penetrasi sebesar 74,6 persen. Sedangkan pengguna media sosial sebanyak 143 juta identitas atau 50,2 persen dari populasi.

Di balik pertumbuhan itu, muncul tantangan terkait keamanan data dan ketahanan digital. Kompleksitas infrastruktur digital modern menuntut penguatan sistem keamanan demi mencegah ancaman siber. 

Menjawab tantangan tersebut, R17 Group menggelar R17 Podcast Show (RPS) Vol. 04 bertema “Shaping Secure Data Intelligence for Digital Resilience” di Discovery SCBD, Jakarta. Forum ini menjadi wadah mempertemukan regulator, pelaku industri, dan penyedia teknologi guna merumuskan langkah konkret menghadapi ancaman siber. 

Dalam kegiatan itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Ismail menekankan pentingnya tata kelola data adaptif untuk menjaga kedaulatan digital Indonesia. 

"Biaya untuk menjaga keamanan memang terlihat sangat besar. Namun, ketika terjadi pelanggaran keamanan dalam sebuah perusahaan, dampaknya bisa meruntuhkan fondasi yang telah lama dibangun. Reputasi menjadi taruhannya, dan ini bukan hal yang bisa dianggap sepele. Karena itu, ketika kita berbicara tentang keamanan, perubahan paradigma dari sekadar cost (biaya) menjadi investment (investasi) bukanlah hal yang mudah. Ini perlu didiskusikan secara serius," kata Ismail pada Kamis (23/4/2026). 

Sedangkan Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi, Mayjen TNI Bondan Widiawan menyoroti pentingnya pembangunan sistem peringatan dini serta penguatan ekosistem threat intelligence yang terintegrasi antara pemerintah dan sektor swasta.

Adapun CEO R17 Group, Hengky Witarsa menegaskan kolaborasi merupakan fondasi utama membangun ketahanan digital nasional.

“Ketahanan digital hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata antara regulator dan industri. Kami mendorong pendekatan secure-by-design agar inovasi bisnis dapat berjalan seiring dengan perlindungan data,” ujarnya.

Pentingnya pemanfaatan teknologi terkini dalam menghadapi lanskap ancaman yang terus berkembang juga disorot. Perwakilan dari Cyble, Rangga F, selaku Country Manager, menyampaikan meningkatnya jejak digital memperbesar risiko terhadap aset data. Teknologi pemantauan dark web dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan visibilitas dan kecepatan deteksi ancaman.

Di sisi lain, General Manager Virtus Technology Indonesia, Wisnu Nursahid, CISSP, menekankan cyber resilience menjadi kebutuhan utama organisasi. Pendekatan keamanan berbasis AI mampu meningkatkan akurasi deteksi, mempercepat respons, serta memperkuat perlindungan tanpa menghambat operation bisnis.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|