REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Jogja Book Fair (JBF) 2026 kembali hadir di Yogyakarta pada 29 Agustus-8 September 2026 mendatang. Acara yang merupakan buah kolaborasi antara Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY tersebut pada tahun ini mengangkat tema 'jangka'.
"Jangka merupakan simbol langkah bersama menuju masa depan yang lebih berpengetahuan, kreatif, dan berbudaya," ujar Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif, dalam konferensi pers di Yogyakarta, Senin (24/8/2026).
Wawan meyakini dunia literasi saat ini dalam kondisi yang baik-baik saja. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya event-event literasi serupa di beberapa tempat yang lain di waktu yang hampir bersamaan. Ia pun yakin, target 1.500 pengunjung per hari yang ditargetkan bukan sesuatu yang berlebihan.
"Animo pengunjung JBF terus tumbuh. Bahkan tahun lalu bisa mencapai total 5.000 (pengunjung) dalam sehari. Jumlah transaksinya pun sama dengan jumlah pengunjung. Mudah-mudahan tahun ini kami punya animo sebanyak itu di tengah kepungan banyak event (serupa)," kata Wawan.
Wawan mengungkapkan penyelenggaraan JBF tahun ini memiliki dimensi yang lebih luas karena tidak hanya mempertemukan masyarakat dengan buku, tetapi juga menghadirkan arsip sebagai bagian dari upaya merawat memori kolektif.
"Jogja Book Fair tahun ini tidak hanya menjadi ajang jual-beli buku, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarkaat melalui buku, arsip, dan literasi. Koalaborasi dengan Pameran Arsip Keistimewan menjadi langkah penting agar generasi muda dapat mengenal lebih dekat jejak sejarah dan perjalanan masyarakat yang terekam dalam arsip," tutur Wawan.
Hal senada disampaikan Kepala DPAD DIY, Syam Arjayanti. Menurutnya, kolaborasi antara Jogja Book Fair dan Pameran Arsip Keistimewan menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem literasi di Yogyakarta.
"Kolaborasi Jogja Book Fair dengan Pameran Arsip Keistimewaan merupakan sinergi yang sangat pentng dalam membangun ekosistem literasi di Yogyakarta. Buku dan arsip sama-sama menjadi sumber pengetahuan sekaligur rekaman perjalanan masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya mengajak masyarakat membaca, tetapi juga mengenal, memahami, dan merawat memori kolektif yang tersimpan dalam arsip," ujar Syam.
Jogja Book Fair akan hadir tiap hari selama 11 hari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB bertempat di Grhatama Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY. Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 119 penerbit nasional dari Yogyakarta dan berbagai daerah di Indonesia akan turut ambil bagian. Di dalamnya pengunjung akan dapat menemukan beragam kategori buku, mulai dari buku anak, pendidikan, sastra, sosial, budaya, dan agama.
Tidak hanya menghadirkan pameran buku dan arsip, rangkaian Jogja Book Fair 2026 dan Pameran Arsip Keistimewaan juga akan diisi dengan berbagai literasi, seni, budaya, dan aktivitas publik. Sebanyak 85 programacara telah dispakan selama penyelenggaraan di antaranya bedah buku, talkshow literasi, workshop, aneka kompetisi, pentas musik, pasar kuliner, donor darah, pameran arsip, serta sejumlah kegiatan lain.

1 hour ago
2















































