M. Saifudin
Agama | 2026-08-26 20:24:22
Era Digital, Bekal Apa?
M. Saifudin, Lc (PPM Sangen)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh sisi kehidupan manusia. Cara berkomunikasi, memperoleh informasi, belajar, bekerja, berdagang, hingga membangun relasi sosial mengalami perubahan yang sangat cepat. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai dari satu tempat ke tempat lain, kini dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik.
Media sosial, mesin pencari, kecerdasan buatan, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kemajuan ini tentu membawa banyak manfaat. Dakwah dapat menjangkau lebih luas, ilmu pengetahuan semakin mudah diakses, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih efisien.
Namun, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru bagi kehidupan moral manusia. Kecepatan penyebaran informasi tidak selalu diiringi dengan ketelitian. Kebebasan berkomunikasi tidak selalu disertai tanggung jawab. Kemudahan membuat dan membagikan konten juga dapat membuka ruang bagi fitnah, penghinaan, kebohongan, dan berbagai bentuk keburukan lainnya.
Karena itu, manusia di era digital tidak cukup hanya memiliki kecakapan teknologi. Ia membutuhkan akhlak untuk mengendalikan teknologi agar tetap berada dalam koridor kebaikan. Dalam perspektif Islam, salah satu fondasi penting bagi pengendalian tersebut adalah ihsan.
QS. Al-Ahzab ayat 21 menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamsebagai uswah hasanah, teladan yang baik. Keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamtidak terbatas pada persoalan ibadah, tetapi mencakup cara beliau berbicara, memperlakukan orang lain, menghadapi perbedaan, menjaga amanah, serta mengendalikan diri dalam berbagai keadaan.
Perubahan zaman tidak menghilangkan kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai tersebut. Teknologi boleh berubah, tetapi kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, kasih sayang, dan pengendalian diri tetap menjadi kebutuhan manusia.
Ruang kehidupan manusia sekarang juga telah berkembang. Selain ruang fisik, terdapat ruang digital yang mempertemukan manusia tanpa batas geografis. Perkataan yang dahulu hanya didengar oleh beberapa orang kini dapat menjadi konsumsi publik. Sebuah komentar dapat dibaca ribuan orang. Sebuah video dapat tersebar jauh melampaui maksud pembuatnya. Kesalahan yang dilakukan sesaat dapat meninggalkan jejak digital dalam waktu yang panjang.
Dalam situasi seperti ini, ihsan memiliki posisi yang sangat penting.
Ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamtentang ihsan, beliau menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).
Ihsan melahirkan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak pernah berada di luar pengawasan Allah. Kesadaran ini tidak hanya berlaku ketika seseorang berada di masjid atau di tengah masyarakat. Ia juga berlaku ketika seseorang berada sendirian di depan layar telepon genggam.
Di ruang digital, seseorang dapat menyembunyikan identitas, menghapus komentar, menggunakan akun samaran, atau berkomunikasi secara pribadi. Namun, tidak ada satu pun aktivitas yang tersembunyi dari pengetahuan Allah. Kesadaran inilah yang dapat menjadi pengendali internal ketika tidak ada pengawasan manusia.
Dengan ihsan, seseorang akan lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Ia tidak mudah meneruskan berita yang belum jelas kebenarannya. Ia menjaga lisannya ketika menulis komentar. Ia tidak menjadikan media sosial sebagai tempat membuka aib orang lain. Ia juga mempertimbangkan dampak sebelum membuat dan menyebarkan sebuah konten.
Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamdengan demikian memiliki relevansi yang semakin kuat di era digital. Kejujuran diperlukan ketika informasi begitu mudah dimanipulasi. Menjaga lisan diperlukan ketika setiap orang memiliki ruang untuk berbicara kepada publik. Menutup aib diperlukan ketika kehidupan pribadi seseorang dapat dengan mudah menjadi konsumsi banyak orang. Kasih sayang diperlukan ketika perbedaan pandangan mudah berubah menjadi permusuhan.
Teknologi pada dasarnya hanyalah sarana. Ia dapat menjadi jalan menuju kebaikan ketika digunakan dengan iman dan tanggung jawab, tetapi dapat pula menjadi sarana keburukan ketika dilepaskan dari akhlak. Kecerdasan buatan dapat membantu pendidikan dan dakwah, media sosial dapat memperluas silaturahmi, dan berbagai platform digital dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu. Semua itu bergantung pada nilai yang mengarahkan penggunaannya.
Semangat KH. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa agama tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus diwujudkan dalam amal. Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan digital. Keberagamaan seseorang juga tercermin dari bagaimana ia menggunakan telepon genggamnya, bagaimana ia berbicara di media sosial, bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda pandangan, dan bagaimana ia bersikap ketika tidak ada manusia yang mengawasinya.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan manusia di era digital bukanlah kembali ke masa lalu, melainkan membawa akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamke dalam masa depan.
Semakin canggih teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengendalian diri. Semakin luas ruang digital, semakin penting kesadaran moral. Dan semakin mudah manusia bersembunyi di balik layar, semakin kuat kebutuhan terhadap ihsan.
Sebab, akhlak yang sejati bukan hanya ketika manusia dilihat oleh manusia, tetapi ketika ia tetap memilih kebaikan karena menyadari bahwa Allah selalu melihatnya.
Wallahu a'lamu bish-shawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

1 hour ago
2

















































