Bali Darurat Iklim, Pemuka Agama Lintas Iman Bergerak Selamatkan Pulau Dewata

2 hours ago 2

Warga menggunakan papan seluncur dan perahu karet untuk melintasi banjir di kawasan wisata Kuta, Badung, Bali, Selasa (24/2/2026). Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, terdapat 26 titik banjir di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar akibat intensitas hujan tinggi yang terjadi sejak Ahad (22/2).

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR — Peningkatan frekuensi bencana alam dan anomali cuaca ekstrem di Bali memicu keprihatinan mendalam para pemuka agama. Mereka menilai krisis yang terjadi bukan sekadar persoalan meteorologi, melainkan krisis moral yang mengancam keberlangsungan hidup di Pulau Dewata.

Di tengah lonjakan korban jiwa dan kerugian materiil akibat banjir serta longsor yang mencapai ratusan miliar rupiah, para pemimpin lintas iman sepakat bahwa menjaga alam adalah panggilan spiritual yang mendesak.

“Iman tidak boleh berhenti pada ritual. Ia harus menjadi kekuatan yang melindungi manusia dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” kata Direktur GreenFaith Indonesia Hening Parlan saat membuka pertemuan lintas iman di Denpasar, akhir pekan lalu.

Menurutnya, krisis iklim merupakan krisis moral yang menuntut tanggung jawab bersama. Setiap agama memiliki landasan teologis untuk membela lingkungan, mulai dari konsep Tri Hita Karana dalam Hindu, ajaran khalifah dalam Islam, panggilan merawat ciptaan dalam Kekristenan, hingga welas asih terhadap semua makhluk dalam Buddhisme.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat sepanjang Januari–Oktober 2025 terjadi sekitar 50 kejadian bencana di Bali, didominasi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Sebanyak 41 orang meninggal dunia, 18 luka-luka, dan 812 warga terdampak atau mengungsi. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp145,4 miliar, melonjak tajam dibandingkan 2024 yang mencatat kerugian sekitar Rp11,8 miliar.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|