Bedah Buku Judi Online Ingatkan Bahaya Utang Keluarga

2 hours ago 3

Bedah Buku Judi Online Ingatkan Bahaya Utang Keluarga

Anggota DPRD DIY, Purwanto, saat menjadi narasumber dalam bedah buku di Balai Kalurahan Jatiayu, Karangmojo, Senin (11/5)./ Harian Jogja/ David Kurniawan

GUNUNGKIDUL - Cerita mengenai warga yang kehilangan harta benda akibat jeratan judi online menjadi perhatian dalam kegiatan bedah buku di Balai Kalurahan Jatiayu, di Karangmojo, Gunungkidul, Senin (11/5). Warga diajak memahami risiko judi online yang dinilai semakin mengkhawatirkan karena telah menyasar
berbagai lapisan masyarakat.

Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY itu membedah buku berjudul Dibalik Layar Judi Online, Fakta Risiko dan Realita. Acara tersebut diikuti masyarakat sebagai bagian edukasi bahaya judi online sekaligus penguatan budaya literasi.

Narasumber bedah buku, Bambang Adi Waluyo, mengatakan praktik judi online kini tidak hanya memicu kecanduan, tetapi juga memunculkan persoalan ekonomi hingga konflik keluarga.

“Korbannya tidak hanya pelaku, tapi juga berdampak ke orang tuanya. Sebab, sudah banyak kasus, para orang tua ikut kehilangan harta benda karena dijual untuk menutupi utang-utang yang dimiliki,” katanya.

Bambang berharap masyarakat tidak terjebak dalam lingkaran judi online yang disebut sangat merusak kehidupan sosial maupun ekonomi keluarga. Ia menilai buku yang dibagikan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi tambahan wawasan terkait modus hingga risiko judi online. “Dampaknya luar biasa dan sangat merusak. Makanya, upaya pencegahan juga harus digalakkan,” katanya.

Hal senada disampaikan Anggota DPRD DIY dari Fraksi Gerindra, Purwanto. Menurut dia, judi online dijalankan dengan sistem komputer sehingga pemain hampir tidak mungkin menang melawan aplikasi yang digunakan.

“Jangan sekali-kali bermain judi online bisa menghilangkan harta benda yang dimiliki karena tidak mungkin menang melawan sistem dalam aplikasi tersebut,” katanya.

Pustakawan Utama DPAD DIY Budiyono mengatakan budaya membaca di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan survei terbaru, dari 1.000 orang hanya satu orang yang rutin membaca.

Sementara di DIY, tingkat kegemaran membaca disebut lebih baik karena terdapat 49 orang rutin membaca dari setiap 1.000 penduduk.
“Apapun itu, budaya literasi dan membaca harus terus ditingkatkan. Bedah buku ini menjadi salah satu upaya meningkatkan minat baca di masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Budiyono juga mengenalkan berbagai fasilitas yang dimiliki DPAD DIY kepada masyarakat. Menurut dia, layanan di DPAD tidak hanya berupa koleksi buku, tetapi juga wahana edukasi lain.

“Kami punya diorama sejarah perkembangan DIY. Selain itu, juga ada bioskop enam dimensi yang menjadi fasilitas pelayanan di DPAD,” katanya. (Adv)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|