BKKBN Siapkan Biaya Operasional Vasektomi hingga Rp1,5 Juta

1 hour ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN terus meningkatkan kepesertaan keluarga berencana (KB) pada pria, termasuk melalui vasektomi yang merupakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Pemerintah memberikan dukungan biaya operasional hingga Rp1,5 juta per kasus untuk mendukung pelayanan tersebut.

Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana Kemendukbangga/BKKBN Fajar Firdawati menjelaskan, target Metode Operasi Pria (MOP) secara nasional ditetapkan sebanyak 2.688 akseptor. Biaya yang diberikan per kasus tersebut ditujukan untuk mengganti biaya operasional serta kompensasi selama akseptor tidak bekerja dalam masa pemulihan.

"Namun, ini perlu dipahami dan diluruskan bersama bahwa untuk memutuskan KB vasektomi tetap membutuhkan perhatian dan persetujuan khusus dari suami dan istri. Jangan kemudian motivasinya mau vasektomi karena mendapatkan uang, itu bukan insentif, melainkan pengganti biaya operasional dan istirahat selama tiga hari pemulihan karena tidak bekerja," katanya dalam diskusi bersama media di Jakarta, Rabu.

Fajar menjelaskan Kemendukbangga/BKKBN juga menyediakan layanan vasektomi secara gratis melalui kegiatan bakti sosial pada momentum tertentu. Pelayanan dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

Masyarakat yang ingin mengakses layanan tersebut dapat menghubungi penyuluh KB atau dinas yang menangani program KB di daerah masing-masing. Masyarakat juga dapat mengikuti informasi terbaru mengenai waktu dan lokasi penyelenggaraan layanan.

Anggaran untuk membantu kebutuhan selama masa pemulihan pria yang menjalani vasektomi saat ini berkisar Rp300 ribu hingga Rp450 ribu. Pertimbangannya, tidak semua akseptor merupakan pekerja dengan pendapatan bulanan sehingga kehilangan beberapa hari kerja dapat berdampak terhadap penghasilan, khususnya bagi pekerja harian.

"Kami tidak menyangka bahwa animo terhadap KB pria, termasuk vasektomi ini besar sekali," ujar Fajar.

Namun, ia menegaskan terdapat persyaratan khusus untuk mengakses pelayanan gratis tersebut. Di antaranya berusia 30-35 tahun, memiliki sedikitnya dua anak dengan anak kedua telah berusia tiga hingga lima tahun, serta menjalani prosedur secara sukarela.

Calon akseptor juga harus mendapatkan persetujuan tertulis secara sadar dari istri serta izin keluarga. Persyaratan tersebut diperlukan karena vasektomi merupakan metode kontrasepsi jangka panjang sehingga keputusan untuk menjalaninya harus dipertimbangkan secara matang oleh pasangan.

Berdasarkan Pendataan Keluarga 2025, penggunaan kontrasepsi masih sangat didominasi perempuan, yakni mencapai 96,7 persen. Metode yang paling banyak digunakan adalah suntik KB dan implan.

Sementara itu, partisipasi pria masih relatif kecil. Jumlah pengguna kondom tercatat sebanyak 885.034, sedangkan pengguna vasektomi sebanyak 36.504.

"Pilihan kontrasepsi untuk pria saat ini memang masih sangat terbatas dibandingkan wanita. Pemerintah saat ini lebih berfokus pada kondom dan vasektomi, di mana vasektomi ini sendiri dinilai masih memerlukan edukasi lebih lanjut karena sebagian masyarakat masih menganggapnya tabu," kata Fajar.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|