Korban selamat kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi yang masih terjebak dalam gerbong menunggu untuk dievakuasi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek menyebabkan 7 orang penumpang meninggal dunia, dan 81 penumpang luka-luka dan dirawat.
REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Perjalanan pulang itu awalnya terasa biasa bagi Sausan Sharifah (29). Hari itu, ia baru saja berbuka puasa dengan teh manis hangat dan roti sebelum beranjak dari kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta.
Sebelum berangkat, Safa sapaan akrabnya sempat mengirim pesan kepada sang kakak, Nur Afifah Putri (33), untuk pulang bersama. Pesan itu tak mendapat balasan.
Safa akhirnya berangkat lebih dulu bersama temannya menuju Stasiun Jatinegara. Dari sana, ia naik KRL menuju Bekasi dan duduk di gerbong paling belakang, sisi kiri.
Perjalanan sempat tersendat. Kereta berhenti dan tertahan di Stasiun Bekasi Timur setelah ada taksi online yang tertemper. Safa mengira situasi masih terkendali. Tak lama, suara klakson keras terdengar.
“Sepersekian detik saja, habis suara klakson, langsung dihantam,” ujarnya kepada Republika.
Tabrakan pada Senin (27/4/2026) malam itu terjadi begitu cepat. Safa tak sempat melihat jelas apa yang terjadi. Hanya yang ia ingat hanya tubuh-tubuh yang saling bertumpuk di dalam gerbong.
“Aku cuma lihat orang-orang numpuk. Aku juga salah satu yang ketiban,” katanya.
Di tengah kekacauan, Safa beruntung tidak berada di bagian paling bawah. Posisinya membuat ia lebih cepat ditarik saat evakuasi, meski bagian kiri tubuhnya sempat tertimpa. “Sudah chaos banget,” ujarnya.
Ia mengalami patah tangan kiri dan luka robek di kaki. Saat proses evakuasi, Safa justru memilih menunggu karena merasa masih banyak korban lain yang kondisinya lebih parah. “Aku pikir masih banyak yang lebih butuh duluan,” ucapnya.

2 hours ago
1

















































